Konten dari Pengguna

Dari Bantaran Rel Senen ke Lapangan Monas: Negara Hadir Menyapa Rakyat

Ujang Komarudin

Ujang Komarudin

Founder Literasi Politik Indonesia

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ujang Komarudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Presiden Prabowo Subianto blusukan ke permukiman di bantaran rel dekat Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Kamis (25/3/2026). Foto: Cahyo - Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Prabowo Subianto blusukan ke permukiman di bantaran rel dekat Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Kamis (25/3/2026). Foto: Cahyo - Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

Langkah Presiden Prabowo Subianto menyusuri bantaran rel di kawasan Pasar Senen, Kamis (26/3) sore, terasa sederhana, namun justru di situlah letak maknanya. Di ruang sempit, di antara deretan hunian yang jauh dari kata layak, negara hadir tanpa jarak. Bukan lewat podium, melainkan lewat tatap muka.

Sejumlah pengamat membaca blusukan ini sebagai penegasan empati dan keberpihakan. Kehadiran presiden di ruang-ruang marjinal bukan sekadar simbol, tetapi juga komunikasi politik: bahwa kelompok paling rentan tidak berada di luar radar negara.

Tentu, keraguan tetap ada. Blusukan kerap berhenti sebagai peristiwa, bukan perubahan. Karena itu, ukurannya selalu sama: apakah ada tindak lanjut?

Di titik ini, respons yang ditunjukkan Prabowo patut dicatat. Ia tidak berhenti pada kunjungan, tetapi langsung menggerakkan jajaran—Menteri Perumahan, Menteri Pekerjaan Umum, hingga PT KAI—untuk mencari solusi konkret. Bukan hanya menjanjikan, tetapi merespons langsung kondisi warga yang telah puluhan tahun hidup di bawah bayang-bayang rel.

Masalah yang dihadapi pun bukan kecil. Data menunjukkan, persoalan permukiman tidak layak di kawasan perkotaan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Karena itu, setiap langkah yang mengarah pada penataan, relokasi manusiawi, dan peningkatan kesejahteraan menjadi krusial, bukan hanya sebagai kebijakan, tetapi sebagai jawaban atas realitas.

Blusukan ini sekaligus menggeser persepsi lama. Selama ini, Prabowo kerap dilekatkan dengan citra elitis—latar belakang keluarga kuat, pengalaman militer, serta jejaring global. Namun di bantaran rel Senen, yang tampak justru sisi lain: pemimpin yang hadir langsung, tanpa sekat. Prabowo juga merakyat.

Kedekatan itu tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan arah kebijakan, mulai dari komitmen pemenuhan gizi anak (MBG) hingga dorongan agar anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap bisa mengakses pendidikan (Sekolah Rakyat). Di sini, empati tidak berhenti sebagai gestur, tetapi mulai menemukan bentuknya dalam program.

Gambaran yang sama muncul di ruang yang berbeda: Lapangan Monas. Melalui “Lebaran untuk Rakyat”, pemerintah menghadirkan panggung kebersamaan—bazar UMKM yang memberi ruang ekonomi bagi usaha kecil, ribuan paket bantuan sosial, ratusan ribu paket makan gratis, serta hiburan yang dapat dinikmati publik secara terbuka.

Negara hadir bukan hanya saat rakyat menghadapi kesulitan, tetapi juga saat rakyat ingin merasakan kebahagiaan.

Dua peristiwa ini—Senen dan Monas—mewakili dua sisi yang saling melengkapi. Di satu sisi, ada empati terhadap mereka yang hidup di pinggiran. Di sisi lain, ada upaya menghadirkan kebahagiaan kolektif di ruang publik. Keduanya dipertemukan oleh satu hal: kehadiran negara.

Pada akhirnya, kepemimpinan tidak cukup diukur dari seberapa tinggi posisi, tetapi seberapa dekat ia dirasakan. Apa yang ditunjukkan Prabowo memberi pesan sederhana namun penting: negara tidak hanya bekerja dari balik meja, tetapi juga turun, menyapa, dan bertindak.

Dari bantaran rel Senen hingga Lapangan Monas, negara bukan hanya terlihat—tetapi benar-benar terasa hadir di tengah rakyat.