Ketika Harus Berwudu di Wastafel

Tulisan dari Ulfa Rahayu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tinggal di negara dengan mayoritas Katolik ternyata sulit untuk bisa tetap menjaga salat tepat waktu.
Tahun 2015 lalu saya sempat tinggal di Manila untuk pertukaran pelajar. Waktu itu saya tinggal di sebuah asrama yang tidak jauh dari kampus, sekitar 15 menit jalan kaki.
Karena disekitar kampus tidak ada musala atau masjid, jadi setiap waktu salat zuhur dan asar saya bisa kembali ke asrama untuk salat.
Cara ini ternyata tidak bisa selalu saya lakukan, jika ada kelas jam 1 siang saya harus buru-buru kembali jadi sering kali tidak kebagian waktu untuk makan siang.
Apalagi jika ada dosen yang nggak sadar kalau jam pelajaran sudah habis dan harus langsung lanjut kekelas berikutnya, terkadang salat bisa saya lewatkan begitu saja.
Beberapa kali melewatkan salat lama kelamaan jadi hal yang biasa buat saya pada saat itu (aduh, nyesel). Tapi telpon dan nasihat dari keluarga dirumah menyadarkan saya tentang apa yang paling penting yang harus seorang muslim lakukan.
Sejak sadar bahwa saya harus melaksakan salat bagaimanapun keadaannya, saya memberanikan diri berbicara dengan staf kampus agar diijinkan salat di perpustakaan atau ruang diskusi mahasiswa. Karena capek bolak-balik asrama dengan terburu-buru.
Singkat cerita staf kampus menginjinkan saya untuk melaksanakan salat di perpustakaan.
Alhamdulillah!
Karena toilet kampus adalah toilet kering (nggak ada kerannya) jadi saya memutuskan untuk berwudu di wastafel. Tepat pada saat saya mengangkat kaki ke wastafel masuk lah gerombolan cewek-cewek ke toilet. Banyangkan bagaimana 'akward'nya posisi saya pada saat itu.
HAHAHAHAH
Setelah kejadian konyol itu, saya melaksanakan salat di perpustakaan dengan perasaan sedikit malu karena merasa jadi orang aneh. Tapi saya yakin setelah sekali saya melakukan ini seterusnya akan biasa saja.
Benar aja, hampir semua mata melihat saya, padahal baru berdiri pake mukena dan belum mulai salat. Saya lempar senyum aja ke mereka, bodoamat ah yang penting nggak harus capek-capek balik ke asrama, pikir saya.
Selesai salat, saat makan siang bareng, saya diberondong banyak pertanyaan. Dari pertanyaan sederhanya kenapa salat saya nggak bisa ditunda hingga kenapa kamu harus beragama. Kontan saya jadi sok' ustazah (cieee). Tidak semua pertanyaan bisa saya jawab, pertanyaan yang tidak bisa saya jawab itu saya catat, dan saya bilang 'saya akan mencari tahu jawabannya, dan besok akan saya jawab'.
Udah sampai sini aja ya ceritanya.
-----
Indonesia memang tempat yang paling nyaman untuk seorang muslim, Alhamdulillah saya terlahir sebagai seorang muslim di Indonesia.
