kumparan
Woman22 Mei 2020 15:42

Bertahan Hidup di Masa New Normal

Konten kiriman user
Ilustrasi macet
Ilustrasi macet Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya
Anakku si sulung yang baru berusia 13 tahun sedang bersedih. Gubernur New York, Andrew Cuomo, secara resmi memperpanjang masa penutupan sekolah akibat pandemi COVID-19 hingga akhir tahun ajaran sekolah berakhir.
ADVERTISEMENT
Artinya, ia tak akan bertemu teman-teman sekolah setidaknya hingga tahun ajaran baru di bulan September. Itu pun belum ada kepastian apakah sekolah akan berlangsung seperti biasa atau diteruskan secara online.
Di negara bagian California, misalnya, 23 universitas negeri dengan jumlah mahasiswa total setengah juta yang termasuk dalam The California System memutuskan tak menyelenggarakan kelas tatap muka pada semester depan. Semua kelas di semester musim gugur hanya dilakukan secara virtual.
Sejauh ini setiap orang masih mengira-ngira apa yang bakal terjadi di bulan-bulan mendatang. Yang pasti, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sudah dilakukan--entah secara ketat dan serius seperti di Singapura, atau setengah hati seperti di Indonesia.
PSBB merupakan pembatasan kegiatan penduduk dalam sebuah wilayah yang diketahui terinfeksi coronavirus dengan tujuan mencegah penyebaran lebih luas. Pelaksanaan PSBB di Indonesia tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19.
ADVERTISEMENT
Memasuki bulan Mei, di berbagai negara pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sudah atau akan mulai dilonggarkan, termasuk di Indonesia. Yang bikin resah, bahkan ketika belum diakhiri PSBB dianggap enteng, sering sama sekali tak digubris.
Satu contoh yang banyak mengundang hujatan, penutupan gerai makanan cepat saji McDonald’s di gedung Sarinah Thamrin, Jakarta. Entah dimasuki pikiran apa, pemuja nostalgia merasa penting untuk datang berbondong-bondong memadati pelataran gedung Sarinah. Seakan mereka tak mampu menyimpan kenangan di kepala lewat cerita yang seharusnya bisa diukir lewat pertukaran kata dengan sesama pemilik nostalgia. Sebuah jalan sederhana yang bisa ditempuh tanpa harus merisikokan kesehatan diri sendiri dan khalayak di masa pandemi.
Di Jakarta sendiri pelaksanaan PSBB baru berakhir pada 4 Juni 2020, tapi Pasar Tanah Abang sudah dikerubuti pengunjung jauh-jauh hari sebelumnya. Alasannya? Belanja busana Lebaran. Entahlah apa pentingnya berbelanja busana Lebaran di masa pandemi saat urusan bersilaturahmi saja dibatasi. Bila dipikir-pikir, kok, bisa nekat belanja busana baru ke pasar, padahal salat tarawih pun dilakukan di rumah demi menghindari risiko penyebaran virus.
ADVERTISEMENT
Tak hanya di pasar, menurut reportase berbagai media, jalan-jalan pun sudah kembali dipadati kendaraan pribadi maupun kendaraan umum, termasuk moda transportasi massal. Terminal 2 Bandara Cengkareng pun sempat dijejali penumpang beberapa waktu lalu. Meskipun penyebabnya karena ada 13 jadwal penerbangan yang jam keberangkatannya hampir bersamaan.
Membiasakan diri dengan “new normal
Apa, sih, yang dimaksud dengan new normal? Dalam konteks pandemi yang tengah berlangsung, new normal bisa diartikan sebagai perubahan perilaku dalam menjalankan aktivitas sehari-hari dengan menambahkan protokol kesehatan demi bertahan hidup di tengah gempuran coronavirus.
Prinsip utama dari new normal saat ini adalah beradaptasi dengan melakukan beragam transformasi. Yang paling utama: membiasakan diri untuk sebisa mungkin mengurangi kontak fisik dengan orang lain. Artinya, menghindari kerumunan, dan bila memungkinkan melakukan sebanyak mungkin aktivitas dari rumah, baik bekerja maupun bersekolah.
ADVERTISEMENT
Dalam lingkup yang lebih luas, selain transformasi yang dilakukan dalam urusan pekerjaan dan sekolah, ada banyak hal-hal lain yang ikut berubah. Memakai masker menjadi sebuah normalitas. Mereka yang tak memakai masker justru dipandang aneh, dan tak berlebihan bila dipandang egois, bebal, bahkan dungu.
Memakai masker dipercaya bisa memperlambat penyebaran virus. Iya, saya paham banget, memakai masker sungguh tak nyaman, apalagi masker kain. Rasanya pengap dan susah bernapas lega. Wajah yang tertutup masker juga susah dikenali, tak hanya urusan fisik tapi juga ekspresi; sulit membaca emosi seseorang apakah sedang tertawa, meringis, atau datar.
Sudah berapa hari raya agama yang dilakukan secara virtual? Paskah yang baru lewat cukup membuat saya sedih. Paskah bagi kami kaum kristiani adalah perayaan besar, bahkan sesungguhnya lebih besar dibanding Natal. Dalam Paskah ada makna kemenangan. Ia adalah pesta kemenangan, merayakan kebangkitan Yesus setelah sebelumnya mati di kayu salib. Merayakan Paskah dengan beribadah dari rumah merupakan pengalaman baru.
ADVERTISEMENT
Bagi umat muslim, ibadah puasa tahun ini pun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Umat sebisa mungkin menahan diri dari keriaan yang mensyaratkan kumpul-kumpul. Jangankan berbuka puasa bareng teman-teman di mal, salat tarawih pun dilakukan di rumah.
Untuk Salat Id pun bila berada di kawasan penyebaran COVID-19 yang belum terkendali, dilakukan di rumah. Salat Id bisa dilakukan di masjid bila berada di kawasan penyebaran COVID-19 yang sudah terkendali, ditandai dengan angka penularan yang cenderung menurun. Atau di kawasan bebas COVID-19 yang diyakini tidak ada penularan, misalnya di perumahan terbatas. Inilah new normal di bidang agama. Kita dipaksa untuk beradaptasi dalam beribadah.
Salah satu yang saya kangen di masa pandemi ini adalah makan di restoran. Makan masakan rumahan memiliki keuntungan tersendiri: kualitas terjaga, bersih, hemat, dan bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan bila memiliki alergi atau pantangan.
ADVERTISEMENT
Namun makan di luar rumah merupakan salah satu bentuk rekreasi yang saya nikmati sepenuh hati. Bosan juga memasak dan makan di rumah setiap hari. Dalam era new normal, makan di restoran pun tampaknya akan mengalami perubahan. Dimulai dari daftar menu makanan sekali pakai, jumlah pengunjung yang dibatasi, dan pelayan yang memakai sarung tangan dan masker saat melayani.
Rumah ibadah dan restoran tak sunyi sendiri, pandemi COVID-19 telah mengosongkan stadion dan gedung konser. Di Los Angeles, kerumunan massa seperti konser dan acara olahraga yang mengundang keramaian ditiadakan hingga tahun depan.
Penggemar olahraga populer di Amerika Serikat seperti football, baseball, bola basket, dan hoki dirundung duka. Cabang olahraga populer ini mengenal istilah liga profesional dan musim yang berlangsung intens selama beberapa bulan. Bagi penggemar berat, inilah salah satu siksaan nyata: tak bisa melihat tim kesayangan berlaga. Ada usulan untuk tetap melangsungkan musim, tapi tanpa penonton di stadion.
ADVERTISEMENT
Sebagai penawar rindu, penonton bisa menonton dari rumah saja. Tapi perubahan format ini masih dalam pertimbangan dengan proses yang cukup berliku, termasuk menggulirkan kesepakatan dengan serikat atlet.
Yang juga terkena dampak new normal adalah industri perjalanan, terutama penerbangan jalur internasional. Di Amerika Serikat, US Travel Association merilis panduan terbaru yang dipengaruhi oleh pandemi. Panduan tersebut ditetapkan dengan bantuan dari ahli medis dan meliputi segala aspek dari hal-hal yang berkaitan upaya mengurangi penyebaran COVID-19 dari soal pengetatan kebijakan kebersihan hingga implementasi fitur-fitur tanpa sentuh.
Sementara untuk hotel, asosiasi merekomendasikan penyediaan hand sanitizer yang gampang diakses. Jaringan hotel besar seperti Marriott, seperti dikutip CNN, telah memperbarui kebijakan kebersihan mereka dengan mengimplementasikan teknologi seperti electrostatic sprayer dengan penggunaan disinfektan sekelas rumah sakit. Sementara itu di Singapura telah dilakukan sertifikasi “SG Clean” untuk tempat-tempat seperti hotel dan pusat keramaian lain.
ADVERTISEMENT
Berdamai dengan COVID-19
Presiden Joko Widodo mengatakan, “Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan.” Bagi yang berpikir positif dan memiliki kepercayaan penuh pada pemerintah, implikasi dari pernyataan ini adalah semacam ucapan selamat datang pada new normal.
Masyarakat dipersilakan kembali beraktivitas tapi secara terbatas dan harus disiplin mematuhi protokol kesehatan. Bagi sebagian yang sudah kepalang skeptis dengan kerja pemerintah menangani pandemi ini, pernyataan Jokowi dilihat sebagai bentuk kepasrahan yang menjurus pada kekalahan, sebuah upaya yang gagal dan berakhir dengan mengibarkan bendera putih.
Lantas apa yang dilakukan? Bagi saya pribadi, new normal adalah persoalan bertahan hidup, apa pun dan bagaimana pun caranya. Bertahan hidup dengan protokol kesehatan, dan fasilitas yang tersedia baik yang mumpuni atau yang seadanya. Kita harus bertahan hidup di tengah kepayahan ekonomi yang melilit, kondisi mental yang terganggu, dan keterbatasan-keterbatasan lainnya.
ADVERTISEMENT
Masa PSBB nyaris berakhir, masyarakat dituntut beradaptasi, atau lebih tepatnya dituntut untuk melindungi diri sendiri sekuat tenaga. Selain pemerintah yang tak mampu sepenuhnya melindungi warganya, apa yang bisa diharapkan dari orang-orang yang dengan enteng melanggar protokol kesehatan? Seperti YouTuber/influencer Indra Kalistha yang dengan bangga bercerita ia tak memakai masker kecuali bila terpaksa, tak merasa perlu mencuci tangan bahkan sebelum makan. Atau mereka yang dengan sengaja menceburkan diri dalam keramaian meski tak ada urgensinya sama sekali?
Ada banyak kelakuan ngawur dari berbagai pihak yang membuat kita sedih, marah, dan mungkin nyaris putus asa. Tapi tentu tidak ada ruang untuk menyerah, saat denyut jantung masih berdetak. Lindungi diri dan orang-orang terkasih dengan protokol kesehatan yang berlaku, yang bisa dilakukan meskipun terasa sulit dan menghilangkan kenyamanan. Karena harga nyawa setiap manusia jauh melebihi kenyamanan dan hal-hal normal yang mengikutinya seperti saat sebelum pandemi merebak.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan