Budaya Viral: Mengapa Semua Orang Tiba-Tiba Membicarakan Hal yang Sama?
Tulisan dari Ulya Maulida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa membuka media sosial hanya untuk melihat satu tren yang sama berulang kali? Mulai dari video yang ramai ditiru, potongan ucapan seseorang yang menjadi bahan meme, sampai istilah baru yang tiba-tiba digunakan banyak orang. Awalnya mungkin kita tidak tahu apa yang sedang terjadi. Namun, setelah melihatnya berkali-kali, kita mulai penasaran, mencari tahu konteksnya, bahkan ikut membagikannya.
Dalam era digital saat ini, fenomena viral menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Hampir setiap hari ada topik baru yang menarik perhatian publik dan menyebar dengan cepat melalui berbagai platform digital. Salah satu faktor utama yang mendorong penyebaran informasi adalah perkembangan media sosial. Platform seperti TikTok, Instagram, X, dan Facebook memungkinkan sebuah konten menjangkau jutaan pengguna hanya dalam waktu singkat. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana sesuatu yang awalnya biasa saja dapat berubah menjadi perhatian publik. Di media sosial, sebuah konten tidak harus berasal dari tokoh terkenal atau media besar untuk menjangkau banyak orang. Konten sederhana pun bisa menyebar luas ketika dianggap lucu, mengejutkan, mengundang emosi, atau mudah dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari. Ketika semakin banyak orang ikut membicarakannya, konten tersebut menjadi bagian dari percakapan bersama. Fenomena ini sering disebut sebagai budaya viral. Istilah ini Fenomena ini sering disebut sebagai budaya viral, yaitu kondisi ketika suatu konten, gagasan, atau peristiwa menyebar luas dan menjadi bahan pembicaraan banyak orang dalam waktu yang relatif singkat.
Lalu, mengapa ada konten yang begitu mudah menyebar, sementara konten lain hampir tidak mendapat perhatian? Salah satu penjelasannya berkaitan dengan emosi. Penelitian Jonah Berger dan Katherine Milkman (2012) dalam Journal of Marketing Research menemukan bahwa emosi tertentu berkaitan dengan kemungkinan sebuah konten dibagikan. Konten yang membangkitkan emosi berintensitas tinggi, seperti kekaguman, kemarahan, atau kecemasan, cenderung lebih mudah menyebar dibandingkan konten yang memunculkan emosi dengan tingkat aktivasi lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa bukan hanya isi informasi yang berpengaruh, tetapi juga reaksi emosional yang ditimbulkannya. Kita dapat melihat gambaran sederhananya dalam kehidupan sehari-hari. Video lucu dibagikan karena dianggap menghibur, cerita yang menyentuh memancing orang untuk bercerita tentang pengalaman serupa, sedangkan peristiwa yang dianggap tidak adil dapat memicu kemarahan dan mendorong orang menyampaikan pendapat. Ketika sebuah konten membuat orang merasa perlu bereaksi, keinginan untuk membagikannya pun bisa meningkat. Meski begitu, emosi bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah suatu konten akan viral. Selain emosi, interaksi sosial turut berperan. Membagikan konten dapat menjadi cara untuk memulai percakapan, menunjukkan pendapat, atau menemukan orang lain yang memiliki pengalaman serupa. Sebuah meme, misalnya, tidak selalu dibagikan karena dianggap lucu semata. Seseorang mungkin mengirimkannya kepada teman karena merasa meme tersebut menggambarkan situasi yang pernah mereka alami bersama. Dalam proses tersebut, komunikasi memegang peranan penting. Setiap orang yang memberi komentar, membagikan unggahan, atau memberikan respons turut berkontribusi dalam memperluas jangkauan sebuah konten. Dalam konteks ini, konten viral bukan sekadar informasi yang berpindah dari satu akun ke akun lain. Konten tersebut juga dapat menjadi bahan untuk membangun kedekatan dan menunjukkan identitas. Ketika seseorang menggunakan istilah yang sedang populer atau ikut membuat konten berdasarkan tren tertentu, ia sedang berpartisipasi dalam percakapan yang dipahami oleh banyak orang. Mengikuti tren pun dapat menjadi cara untuk merasa terhubung dengan lingkungan sosial. Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan. Ketika suatu topik terus muncul di beranda, kita bisa mendapat kesan bahwa hampir semua orang sedang membicarakannya. Padahal, apa yang kita lihat di media sosial belum tentu mencerminkan perhatian seluruh masyarakat. Konten yang berulang kali muncul mungkin memang sedang populer di lingkungan digital tertentu, tetapi belum tentu menjadi perhatian semua kelompok atau komunitas. Kondisi tersebut dapat memengaruhi cara kita menentukan sesuatu yang dianggap penting. Ketika banyak orang membicarakan suatu peristiwa, kita mungkin terdorong untuk ikut mencari tahu karena tidak ingin tertinggal dari percakapan. Sebaliknya, isu yang tidak banyak mendapat perhatian bisa terasa kurang penting, meskipun dampaknya bagi masyarakat belum tentu kecil. Dengan demikian, ramainya sebuah topik dapat memengaruhi perhatian kita, tetapi tidak otomatis menunjukkan nilai atau kepentingan topik tersebut. Kita dapat melihat bagaimana sebuah trend muncul dari komunitas kecil sebelum akhirnya menjadi perbincangan yang lebih luas. Ketika semakin banyak orang ikut berpartisipasi, peluang sebuah topik menjadi viral juga semakin besar. Persoalan lain muncul ketika popularitas dianggap sebagai bukti kebenaran. Sebuah informasi yang dibagikan ribuan kali tetap perlu diperiksa, sebab jumlah penyebaran tidak menjamin ketepatan isinya. Potongan video dapat kehilangan konteks, pernyataan dapat disalahartikan, dan kabar yang belum terverifikasi bisa telanjur dipercaya karena terus muncul di berbagai akun. Dalam situasi seperti ini, kecepatan menyebarkan informasi dapat mengalahkan kehati-hatian dalam memahaminya. Karena itu, budaya viral tidak cukup dipahami sebagai fenomena ketika sebuah konten mendadak terkenal. Fenomena ini juga memperlihatkan hubungan antara emosi, interaksi sosial, dan perhatian publik dalam komunikasi digital. Setiap pengguna memiliki peran dalam proses tersebut, bukan hanya ketika membuat konten, tetapi juga ketika memberikan komentar, mengunggah ulang, atau memilih untuk tidak ikut menyebarkannya. Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan hanya mengapa sesuatu bisa viral, tetapi juga mengapa kita merasa perlu ikut membicarakannya. Apakah karena konten itu memang menarik bagi kita, karena ingin terhubung dengan orang lain, atau karena kita melihat begitu banyak orang membicarakannya?
Budaya viral menunjukkan bagaimana emosi, teknologi, interaksi sosial, dan komunikasi saling terhubung dalam membentuk perhatian publik di ruang digital. Memahami fenomena ini membantu kita menjadi pengguna media sosial yang lebih kritis dan bijak. Di tengah arus informasi yang terus bergerak, mengikuti percakapan publik memang dapat membuat kita merasa terhubung. Namun, kita tetap memiliki pilihan untuk menentukan apa yang layak mendapat perhatian, apa yang perlu diperiksa kembali, dan apa yang tidak harus kita ikuti hanya karena sedang ramai.

