Konten dari Pengguna

Diam Bukan Berarti Setuju

foto Spiral of Silence fenomena di media sosial. Sumber: https://www.pexels.com/search/scrolling%20social%20media/
zoom-in-whitePerbesar
foto Spiral of Silence fenomena di media sosial. Sumber: https://www.pexels.com/search/scrolling%20social%20media/

Suatu malam, grup WhatsApp keluarga saya mendadak ramai. Topiknya politik. Dalam beberapa menit saja, notifikasi terus berdatangan. Ada yang membagikan tautan berita, ada yang mengirim video berdurasi beberapa menit, sementara yang lain langsung menimpali dengan emoji jempol atau tepuk tangan. Obrolannya bergerak cepat dan arahnya hampir seragam.

Saya sempat ikut mengetik balasan. Isinya tidak panjang, hanya mencoba menawarkan sudut pandang lain. Namun sebelum tombol kirim ditekan, saya membaca ulang kalimat itu berkali-kali. Pada akhirnya, semua tulisan tersebut saya hapus begitu saja.

Kalau dipikir sekarang, alasan saya waktu itu bukan karena tidak punya pendapat. Saya hanya merasa pendapat itu kemungkinan besar tidak akan diterima dengan baik. Daripada memancing perdebatan yang melelahkan, saya memilih menjadi pembaca diam sampai percakapan selesai.

Belakangan saya sadar, pengalaman seperti itu ternyata cukup umum. Hampir semua orang pernah mengalaminya, entah ketika berdiskusi dengan keluarga, membaca kolom komentar media sosial, mengikuti rapat di kantor, atau saat berada di ruang kelas. Kita sebenarnya ingin berbicara, tetapi ada sesuatu yang membuat langkah itu terasa berat.

Dalam ilmu komunikasi, fenomena tersebut dikenal sebagai Spiral of Silence atau spiral keheningan. Teori yang diperkenalkan Elisabeth Noelle-Neumann pada 1974 ini menjelaskan bahwa seseorang cenderung menahan pendapat ketika merasa dirinya berada di pihak yang lebih sedikit atau berbeda dari mayoritas. Bukan semata-mata karena tidak yakin terhadap pendapatnya, melainkan karena ada kekhawatiran akan penolakan sosial.

Hal yang menarik dari teori ini adalah cara kerjanya yang sangat halus. Kita jarang benar-benar menghitung berapa orang yang setuju atau tidak setuju dengan sebuah isu. Sebaliknya, kita mengandalkan kesan yang muncul dari lingkungan sekitar. Kalau linimasa media sosial dipenuhi pendapat yang sama, kalau teman-teman di sekitar tampak sepakat, atau kalau hampir semua komentar mengarah ke satu sisi, kita mulai merasa bahwa itulah suara mayoritas.

Perasaan itu sering kali cukup untuk memengaruhi keputusan kita. Ketika menganggap diri berada di pihak yang minoritas, keberanian untuk berbicara perlahan berkurang. Padahal, belum tentu kita benar-benar sendirian.

Di sinilah spiral itu mulai bekerja. Orang yang merasa berbeda memilih diam. Karena semakin banyak orang diam, ruang publik akhirnya dipenuhi oleh mereka yang tetap berani bersuara. Akibatnya, pendapat tertentu terlihat jauh lebih dominan daripada kenyataan yang sebenarnya. Orang lain yang melihat situasi tersebut kemudian ikut mengira bahwa hampir semua orang berpikir sama, lalu memutuskan untuk ikut diam. Siklus itu terus berulang tanpa banyak disadari.

Ketika Noelle-Neumann memperkenalkan teorinya lima puluh tahun lalu, pembentukan opini publik masih sangat dipengaruhi oleh televisi, radio, dan surat kabar. Kini situasinya berubah. Media sosial mengambil peran yang jauh lebih besar, bahkan dalam hitungan detik sebuah opini bisa menyebar ke jutaan pengguna.

Di satu sisi, perkembangan ini membuat siapa saja memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Namun di sisi lain, media sosial juga membawa tantangan baru. Algoritma platform digital cenderung memperlihatkan konten yang sudah lebih dulu ramai mendapatkan perhatian. Unggahan dengan banyak komentar, tanda suka, atau dibagikan berkali-kali akan semakin sering muncul di beranda pengguna lain.

Akibatnya, kita lebih sering melihat pendapat yang sudah populer dibandingkan pendapat yang baru muncul atau berbeda dari arus utama. Lambat laun muncul kesan bahwa hanya ada satu pandangan yang diterima oleh publik, padahal kenyataannya belum tentu demikian.

Temuan dari Pew Research Center pada 2014 juga menunjukkan hal yang menarik. Penelitian tersebut menemukan bahwa pengguna media sosial cenderung lebih enggan mengemukakan pendapat mengenai isu-isu kontroversial ketika merasa pandangannya tidak sejalan dengan lingkungan di sekitarnya. Bahkan kecenderungan itu tidak berhenti di dunia maya. Orang yang memilih diam di media sosial ternyata juga lebih mungkin memilih diam ketika berdiskusi secara langsung. Dengan kata lain, ruang digital dapat memengaruhi keberanian seseorang untuk berbicara di kehidupan nyata.

Saya rasa kita tidak perlu mencari contoh yang jauh-jauh. Fenomena ini cukup mudah ditemukan setiap hari.

Misalnya ketika seorang figur publik sedang menjadi sasaran kritik besar-besaran di media sosial. Tidak sedikit orang yang sebenarnya memiliki pandangan lebih berimbang, tetapi memilih tidak ikut berkomentar. Bukan berarti mereka membenarkan tindakan figur tersebut, melainkan karena khawatir pendapatnya akan dipotong, disalahartikan, atau justru memancing serangan dari pengguna lain.

Situasi yang hampir sama juga sering muncul menjelang pemilu. Ada orang yang lebih nyaman merahasiakan pilihan politiknya karena merasa kandidat yang didukung kurang populer di lingkungan pertemanannya. Dalam kajian komunikasi politik, kondisi seperti ini dikenal dengan istilah shy voter, yaitu pemilih yang enggan mengungkapkan pilihan sebenarnya karena tekanan sosial. Fenomena tersebut bahkan beberapa kali disebut sebagai salah satu penyebab hasil survei tidak sepenuhnya mencerminkan hasil pemungutan suara.

Lingkungan pendidikan pun tidak selalu bebas dari spiral keheningan. Saya masih sering melihat mahasiswa yang sebenarnya memiliki pertanyaan atau pendapat kritis, tetapi memilih diam sampai perkuliahan selesai. Alasannya beragam. Ada yang takut pertanyaannya dianggap terlalu sederhana, ada yang khawatir terlihat menentang dosen, dan ada pula yang sekadar tidak ingin menjadi pusat perhatian. Padahal, diskusi akademik justru berkembang ketika berbagai sudut pandang diberi kesempatan untuk muncul.

Semua contoh tersebut menunjukkan satu hal yang sama. Banyak orang memilih diam bukan karena tidak peduli atau tidak memiliki pendapat, melainkan karena sedang mempertimbangkan konsekuensi sosial yang mungkin mereka hadapi setelah berbicara. Dalam banyak situasi, rasa takut dinilai ternyata mampu mengalahkan keinginan untuk menyampaikan apa yang sebenarnya dipikirkan.

Kalau dipikir lebih jauh, yang membuat spiral keheningan terasa mengkhawatirkan bukan hanya karena orang jadi enggan berbicara. Dampaknya jauh lebih besar dari itu. Ketika hanya satu jenis pendapat yang terus muncul di ruang publik, kita perlahan bisa menganggap pendapat tersebut sebagai sesuatu yang mutlak benar. Bukan karena sudah diuji dari berbagai sudut pandang, melainkan karena kita terlalu sering melihat dan mendengarnya.

Di era media sosial, kondisi ini semakin mudah terjadi. Algoritma dirancang untuk menampilkan konten yang dianggap paling relevan bagi setiap pengguna. Dari sisi pengalaman pengguna, tentu ada manfaatnya. Kita lebih mudah menemukan topik yang disukai dan akun yang sesuai dengan minat kita. Namun, tanpa disadari algoritma juga membentuk semacam "ruang gema" atau echo chamber, yaitu situasi ketika kita lebih sering bertemu dengan orang-orang yang memiliki pandangan serupa. Akibatnya, pendapat yang berbeda semakin jarang terlihat, bukan karena tidak ada, tetapi karena tidak banyak muncul di beranda kita.

Saya beberapa kali menyadari hal itu ketika membuka media sosial. Pada satu waktu, linimasa terasa dipenuhi pendapat yang hampir sama sehingga muncul kesan seolah semua orang memiliki pandangan yang identik. Baru setelah membaca artikel dari media lain atau berbincang dengan teman di luar lingkaran pergaulan saya, saya menyadari bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada banyak perspektif yang sebelumnya tidak muncul di layar ponsel saya.

Pengalaman tersebut membuat saya berpikir bahwa media sosial sebenarnya tidak selalu menggambarkan opini publik secara utuh. Yang lebih sering terlihat justru adalah opini yang paling aktif, paling sering dibagikan, atau paling banyak mendapat respons. Padahal, orang yang diam belum tentu berarti setuju. Bisa saja mereka hanya memilih tidak ikut masuk ke dalam perdebatan.

Laporan Pew Research Center menunjukkan bahwa sebagian pengguna media sosial memang cenderung menahan pendapat ketika merasa berada di posisi yang berbeda dari lingkungan sekitarnya. Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa teknologi yang seharusnya memperluas ruang diskusi ternyata, dalam kondisi tertentu, justru dapat membuat sebagian orang semakin berhati-hati untuk berbicara.

Di sinilah tantangan terbesar komunikasi digital saat ini. Kita hidup di masa ketika hampir semua orang memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat, tetapi kesempatan itu tidak selalu diikuti dengan rasa aman untuk menggunakannya. Tekanan sosial tidak lagi hanya datang dari orang-orang di sekitar kita, melainkan juga dari jumlah komentar, kutipan ulang, hingga kemungkinan menjadi sasaran hujatan warganet. Tidak sedikit orang yang akhirnya memilih diam demi menghindari konflik yang sebenarnya belum tentu terjadi.

Tentu saja, memilih diam bukan selalu keputusan yang keliru. Ada situasi ketika diam justru lebih bijaksana daripada ikut memperkeruh suasana. Misalnya ketika informasi yang beredar belum terverifikasi atau ketika emosi sedang memuncak sehingga diskusi sulit berlangsung dengan kepala dingin. Dalam kondisi seperti itu, menahan diri bisa menjadi bentuk tanggung jawab.

Namun, penting untuk membedakan antara diam karena pertimbangan yang matang dan diam karena rasa takut. Keduanya mungkin terlihat sama dari luar, tetapi alasan di baliknya sangat berbeda. Jika kita memilih diam karena masih ingin mencari informasi tambahan, itu merupakan sikap yang sehat. Sebaliknya, jika kita diam hanya karena takut dianggap berbeda, mungkin ada baiknya kita mulai mempertanyakan kembali keputusan tersebut.

Belakangan saya mencoba melakukan hal sederhana setiap kali ragu menyampaikan pendapat. Saya bertanya kepada diri sendiri, "Kalau tidak ada risiko dinilai orang lain, apakah saya tetap akan memilih diam?" Pertanyaan itu memang tidak selalu menghasilkan jawaban yang mudah, tetapi setidaknya membuat saya lebih jujur terhadap alasan di balik keputusan yang saya ambil.

Saya juga mulai berusaha keluar dari kebiasaan hanya mengikuti akun atau media yang selalu sejalan dengan pandangan saya. Sesekali membaca sudut pandang yang berbeda memang terasa tidak nyaman. Ada tulisan yang membuat saya tidak setuju sejak paragraf pertama, ada juga pendapat yang terasa bertolak belakang dengan keyakinan saya. Meski begitu, pengalaman tersebut justru membantu saya melihat bahwa sebuah persoalan sering kali jauh lebih kompleks daripada yang tampak di linimasa.

Ruang diskusi yang sehat bukanlah ruang yang membuat semua orang sepakat. Justru perbedaan pendapatlah yang memungkinkan kita menguji sebuah gagasan. Selama disampaikan dengan data, argumen yang jelas, dan tetap menghormati orang lain, perbedaan seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kesempatan untuk memahami persoalan dari sudut yang sebelumnya tidak kita lihat.

Lima puluh tahun setelah diperkenalkan, teori Spiral of Silence masih terasa relevan. Yang berubah hanyalah medianya. Dulu tekanan sosial lebih banyak datang dari lingkungan sekitar dan media massa. Kini, tekanan itu juga hadir melalui notifikasi, jumlah likes, kolom komentar, hingga algoritma yang menentukan apa saja yang muncul di layar ponsel kita setiap hari.

Pada akhirnya, saya tidak percaya bahwa semua orang harus selalu angkat suara dalam setiap perdebatan. Ada kalanya kita memang perlu mendengar lebih banyak daripada berbicara. Namun, saya juga percaya bahwa ruang publik akan menjadi lebih sehat jika orang tidak merasa takut hanya karena memiliki pandangan yang berbeda.

Mungkin pertanyaan paling penting bukanlah apakah kita harus berbicara atau memilih diam. Pertanyaannya adalah, apa yang sebenarnya menjadi alasan di balik pilihan tersebut? Kalau jawabannya adalah rasa takut dikucilkan, bisa jadi kita sedang berada di dalam spiral keheningan tanpa benar-benar menyadarinya.

Dan kalau semakin banyak orang terus memilih diam karena alasan itu, yang hilang bukan hanya keberagaman pendapat. Kita juga berisiko kehilangan kesempatan untuk menguji sebuah gagasan secara lebih kritis. Padahal, kemajuan sebuah masyarakat sering kali lahir bukan dari suara yang paling keras, melainkan dari keberanian orang-orang untuk menyampaikan pandangan yang berbeda secara bertanggung jawab.

Referensi:

Noelle-Neumann, E. (1974). The Spiral of Silence: A Theory of Public Opinion. Journal of Communication, 24(2), 43–51.

Hampton, K. N., Rainie, L., Lu, W., Shin, I., & Purcell, K. (2014). Social Media and the "Spiral of Silence". Pew Research Center.

Sunstein, C. R. (2001). Republic.com. Princeton University Press. (Membahas fenomena echo chamber dan dampaknya terhadap diskusi publik di era digital.)