Ketika Online Menjadi Kewajiban Sosial
Tulisan dari Ulya Maulida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu merasa tidak nyaman ketika terlalu lama tidak membuka ponsel? Bukan karena ada hal mendesak, tetapi karena muncul perasaan bahwa ada sesuatu yang terlewat atau seseorang yang menunggu kabar darimu.
Padahal, tidak ada aturan tertulis yang mengatakan bahwa kita harus selalu tersedia. Namun, di era komunikasi digital, banyak orang mulai merasa bahwa tidak terlihat online dapat berarti kehilangan sesuatu, bahkan mengecewakan orang lain.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga cara kita memahami kehadiran. Dahulu, seseorang dianggap hadir ketika berada di tempat yang sama atau dapat ditemui secara langsung.
Kini, kehadiran sering kali diukur melalui tanda-tanda digital seperti status online, aktivitas terakhir, atau kecepatan membalas pesan. Tanpa disadari, indikator sederhana tersebut mulai memiliki makna sosial yang lebih besar daripada sekadar informasi aktivitas.
Saya pernah mengalami situasi ketika sengaja menjauh dari ponsel selama beberapa jam untuk beristirahat dan menyelesaikan pekerjaan. Ketika kembali membuka layar, terdapat beberapa pesan yang belum saya balas.
Tidak ada yang menegur atau mempertanyakan keberadaan saya, tetapi tetap muncul rasa bersalah. Saya merasa seperti telah mengabaikan seseorang, meskipun sebenarnya saya hanya sedang memberi waktu untuk diri sendiri.
Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa tekanan untuk selalu online tidak selalu datang dari orang lain. Sering kali, tekanan itu muncul dari ekspektasi yang kita bangun sendiri. Kita mulai menghubungkan kecepatan merespons dengan kepedulian, sementara keterlambatan balasan dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian.
Padahal, seseorang dapat saja tidak segera membalas bukan karena tidak peduli, melainkan karena sedang sibuk, beristirahat, atau membutuhkan waktu sebelum kembali berkomunikasi.
Fenomena ini menjadi menarik karena persoalannya bukan hanya tentang penggunaan teknologi, melainkan tentang bagaimana manusia memberikan makna terhadap teknologi tersebut. Status online yang awalnya hanya menunjukkan bahwa seseorang sedang terhubung ke internet perlahan berubah menjadi simbol kehadiran sosial. Akibatnya, banyak orang merasa harus terus tersedia agar tetap dianggap peduli dan dekat dengan orang lain.
Kita tidak lelah karena terus terhubung. Kita lelah karena merasa harus terus hadir.
Kalimat tersebut membawa kita pada persoalan yang lebih besar. Mengapa komunikasi digital dapat menciptakan perasaan bahwa kita harus selalu tersedia? Mengapa offline beberapa waktu dapat memunculkan rasa bersalah, bahkan ketika tidak ada yang benar-benar menuntutnya? Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat bagaimana teori komunikasi dan psikologi menjelaskan perubahan cara manusia membangun hubungan di ruang digital.
Perasaan harus selalu tersedia dalam komunikasi digital tidak muncul begitu saja. Perlahan, teknologi membentuk kebiasaan baru tentang bagaimana seseorang dianggap hadir dalam sebuah hubungan. Ketika seseorang terlihat aktif, muncul anggapan bahwa ia juga memiliki waktu untuk merespons. Akibatnya, keterlambatan balasan sering kali tidak hanya dipandang sebagai jeda komunikasi, tetapi juga dapat dimaknai sebagai perubahan sikap atau berkurangnya perhatian.
Fenomena tersebut dapat dipahami melalui Expectancy Violations Theory yang dikembangkan oleh Judee K. Burgoon. Teori ini menjelaskan bahwa manusia memiliki harapan tertentu terhadap perilaku orang lain dalam sebuah interaksi. Harapan tersebut terbentuk melalui pengalaman, kebiasaan, dan norma sosial yang berkembang di lingkungan sekitar. Dalam komunikasi digital, kemudahan mengirim pesan dan melihat aktivitas seseorang perlahan menciptakan ekspektasi bahwa orang yang terlihat aktif seharusnya dapat merespons.
Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, manusia cenderung mencari penjelasan atas situasi yang terjadi. Sebuah pesan yang belum dibalas dapat diartikan sebagai tanda kesibukan, tetapi juga dapat memunculkan dugaan lain seperti merasa diabaikan atau tidak dianggap penting.
Padahal, informasi yang tersedia sebenarnya sangat terbatas. Kita hanya mengetahui bahwa seseorang telah menerima pesan atau sedang online, tetapi tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di balik layar.
Ekspektasi tersebut semakin kuat karena komunikasi digital memiliki keterbatasan dibandingkan interaksi tatap muka. Dalam percakapan langsung, manusia dapat memahami lawan bicara melalui ekspresi wajah, nada suara, dan bahasa tubuh.
Namun, dalam komunikasi berbasis teks, sebagian besar petunjuk tersebut menghilang. Untuk memahami keadaan orang lain, kita kemudian bergantung pada tanda-tanda yang tersedia, seperti status aktif, waktu terakhir terlihat, atau indikator sedang mengetik.
Hal tersebut dapat dijelaskan melalui Social Presence Theory, yang menjelaskan bahwa media komunikasi dapat menciptakan rasa kehadiran seseorang meskipun tidak berada dalam ruang yang sama. Fitur digital membuat orang lain terasa lebih dekat dan mudah dijangkau.
Namun, kedekatan tersebut juga membawa konsekuensi baru: kehadiran secara digital sering kali disamakan dengan kesiapan untuk berinteraksi. Padahal, seseorang dapat terlihat aktif tanpa benar-benar memiliki kapasitas untuk berkomunikasi.
Perubahan inilah yang kemudian melahirkan konsep availability pressure, yaitu tekanan untuk selalu tersedia dan mudah dihubungi. Tekanan tersebut tidak berasal dari aturan resmi, melainkan dari norma sosial yang berkembang melalui kebiasaan komunikasi digital. Ketika respons cepat menjadi sesuatu yang dianggap wajar, keterlambatan balasan perlahan mulai dipandang sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan.
Pada akhirnya, teknologi bukan satu-satunya penyebab munculnya tekanan tersebut. Teknologi hanya menyediakan ruang dan fitur, sementara manusia memberikan makna terhadapnya. Status online, tanda telah membaca pesan, dan indikator aktivitas lainnya menjadi simbol sosial karena kita menghubungkannya dengan perhatian dan kepedulian. Masalahnya bukan lagi sekadar apakah seseorang sedang terhubung atau tidak, tetapi bagaimana kehadiran digital telah mengubah cara kita menilai hubungan dengan orang lain.
Jika tekanan untuk selalu online berasal dari perubahan norma komunikasi, pertanyaan berikutnya adalah mengapa kita begitu mudah menerima tuntutan tersebut. Mengapa seseorang dapat merasa bersalah ketika tidak segera merespons, meskipun tidak ada yang secara langsung memintanya? Jawabannya tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga dengan kebutuhan manusia untuk membangun hubungan sosial yang bermakna.
Dalam psikologi, kebutuhan tersebut dijelaskan melalui Need to Belong Theory yang dikembangkan oleh Roy Baumeister dan Mark Leary. Teori ini menjelaskan bahwa manusia memiliki dorongan alami untuk membangun serta mempertahankan hubungan sosial. Karena hubungan dengan orang lain memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, kita cenderung menghindari perilaku yang dapat dianggap sebagai bentuk penolakan atau ketidakpedulian.
Dalam komunikasi digital, dorongan tersebut dapat muncul melalui keinginan untuk tetap terlihat hadir. Membalas pesan dengan cepat, memeriksa notifikasi, atau memastikan orang lain tidak menunggu terlalu lama sering kali dilakukan bukan hanya karena ingin berkomunikasi, tetapi juga karena takut memberikan kesan yang salah. Kita khawatir dianggap tidak peduli, padahal belum tentu orang lain menilai kita seperti itu.
Namun, kebutuhan untuk terhubung tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan ruang untuk dirinya sendiri. Ketika kehadiran digital menjadi ukuran utama perhatian, batas antara kepedulian dan kewajiban mulai sulit dibedakan. Kita tidak lagi hadir karena ingin berbicara, tetapi karena merasa harus memenuhi ekspektasi tertentu agar hubungan tetap berjalan.
Di sinilah tantangan komunikasi digital terlihat. Masalahnya bukan pada keinginan manusia untuk terhubung, melainkan ketika keterhubungan berubah menjadi tuntutan yang membuat seseorang merasa tidak memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak. Teknologi seharusnya membantu manusia membangun hubungan, bukan membuat manusia merasa harus selalu tersedia untuk membuktikan kepeduliannya.
Bagi saya, fenomena ini memberikan pemahaman baru bahwa rasa lelah dalam komunikasi digital tidak selalu berasal dari banyaknya interaksi, tetapi dari tekanan untuk terus mempertahankan kehadiran. Kita sering kali mengira bahwa kita hanya sedang menggunakan teknologi secara berlebihan, padahal mungkin ada ekspektasi sosial yang membuat kita sulit benar-benar melepaskan diri.
Pada akhirnya, menjadi manusia di era digital bukan berarti harus selalu hadir setiap saat. Kecepatan membalas pesan bukan satu-satunya ukuran kepedulian, begitu pula status online bukan bukti bahwa seseorang selalu siap berinteraksi. Kita tetap dapat menjaga hubungan dengan orang lain tanpa harus kehilangan ruang untuk diri sendiri.
Mungkin tantangan terbesar di era digital bukan lagi bagaimana tetap terhubung, melainkan memahami bahwa kita tetap memiliki nilai meskipun memilih untuk mengambil jarak sejenak.

