Ketika Sulit Berkata Tidak
Tulisan dari Ulya Maulida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sering kali, kita mengira bahwa menjadi orang baik berarti selalu berusaha menyenangkan orang lain. Padahal, keduanya tidak selalu berjalan berdampingan.
Sejak kecil, kita diajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua, membantu teman yang membutuhkan, mendengarkan orang lain, serta menjaga perasaan mereka. Nilai-nilai tersebut penting karena membentuk kepedulian dan kemampuan hidup berdampingan. Namun, ada satu hal yang sering luput dari pelajaran itu: bagaimana menetapkan batas tanpa dihantui rasa bersalah.
Mungkin karena itulah, ketika tumbuh dewasa, banyak orang merasa tidak nyaman setiap kali harus mengatakan "tidak". Bukan karena mereka tidak ingin membantu, melainkan karena penolakan sering dimaknai sebagai tanda bahwa mereka tidak lagi peduli. Padahal, yang sebenarnya sedang mereka lakukan hanyalah menjaga diri sendiri.
Kesulitan itu jarang muncul dalam keputusan-keputusan besar. Justru, ia tumbuh melalui hal-hal sederhana, menerima pekerjaan tambahan ketika jadwal sudah penuh, menyetujui ajakan saat tubuh sebenarnya membutuhkan istirahat, atau terus mendengarkan curahan hati orang lain ketika energi emosional sendiri hampir habis.
Sesekali melakukannya tentu bukan persoalan. Membantu orang lain merupakan bagian dari kehidupan sosial. Namun, ketika kebiasaan itu terus berulang tanpa mempertimbangkan kondisi diri sendiri, batas antara kepedulian dan pengorbanan perlahan mulai kabur.
Yang membuatnya sulit disadari, semua itu sering berlangsung tanpa pertengkaran. Kita tetap dikenal sebagai pribadi yang baik, mudah diandalkan, bahkan jarang mengecewakan orang lain. Justru karena itulah, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka perlahan mulai mengabaikan dirinya sendiri.
Barangkali, kita bukan sedang kesulitan mengatakan "tidak". Kita hanya terlalu lama percaya bahwa menjaga perasaan orang lain harus selalu didahulukan daripada menjaga diri sendiri.
Di titik inilah pertanyaan sebenarnya muncul: mengapa menjaga perasaan orang lain sering terasa lebih mudah daripada menjaga diri sendiri?
Perasaan itu ternyata bukan sesuatu yang aneh. Dalam psikologi komunikasi, perasaan tersebut dipahami sebagai bagian dari kebutuhan manusia untuk diterima dan merasa menjadi bagian dari lingkungan sosial. Roy F. Baumeister dan Mark R. Leary menyebut kebutuhan ini sebagai Need to Belong Theory, yaitu kebutuhan mendasar setiap individu untuk membangun dan mempertahankan hubungan dengan orang lain.
Karena itu, mengatakan "tidak" sering kali terasa lebih berat daripada sekadar menolak sebuah permintaan. Tanpa disadari, kita mulai membayangkan berbagai kemungkinan orang lain merasa kecewa, hubungan menjadi renggang, atau cara mereka memandang kita berubah.
Padahal, semua kemungkinan itu belum tentu benar-benar terjadi. Sering kali, yang lebih dulu bekerja adalah cara kita memaknai sebuah penolakan.Cara kita memaknai penolakan juga dipengaruhi oleh keinginan untuk menjaga perasaan orang lain. Melalui Politeness Theory, Penelope Brown dan Stephen Levinson menjelaskan bahwa setiap orang memiliki keinginan untuk dihargai sekaligus mempertahankan citra dirinya di hadapan orang lain, atau yang mereka sebut sebagai face. Karena itulah, mengatakan "tidak" sering terasa tidak nyaman, bukan karena kita ingin menyakiti orang lain, tetapi karena kita khawatir penolakan itu akan mengganggu hubungan yang telah terjalin.
Tidak mengherankan jika akhirnya banyak orang memilih menghindari penolakan. Bukan karena mereka selalu setuju, melainkan karena pilihan tersebut terasa lebih aman daripada menghadapi kemungkinan mengecewakan orang lain.
Namun, menjaga hubungan tidak selalu berarti mengorbankan diri sendiri. Dalam psikologi komunikasi, kemampuan menyampaikan pikiran, perasaan, dan batas secara jujur dikenal sebagai komunikasi asertif. Komunikasi asertif memungkinkan seseorang menyampaikan penolakan tanpa kehilangan rasa hormat maupun empati terhadap orang lain. Di sinilah banyak orang keliru memahami makna sebuah penolakan. Berkata"tidak" bukanlah kebalikan dari kepedulian. Menolak sebuah permintaan tidak selalu berarti menolak seseorang.
Sering kali, yang sedang dijaga bukan hubungan dengan orang lain, melainkan kemampuan diri sendiri agar tetap mampu hadir dengan tulus. Karena itu, menetapkan batas bukanlah tindakan egois. Justru, batas membantu orang lain memahami kemampuan, waktu, dan ruang yang kita miliki.
Hubungan yang sehat tidak menuntut salah satu pihak untuk terus mengalah. Sebaliknya, hubungan yang sehat memberi ruang bagi kedua belah pihak untuk saling memahami, termasuk ketika salah satunya harus mengatakan "tidak". Mungkin, kita tidak selalu bisa memenuhi harapan semua orang. Namun, kejujuran justru membuat sebuah hubungan bertahan lebih lama daripada keterpaksaan.
Pada akhirnya, kesulitan berkata "tidak" mungkin bukan semata-mata persoalan keberanian. Yang lebih sulit adalah melepaskan keyakinan bahwa menjaga hubungan selalu berarti mengorbankan diri sendiri.
Hubungan yang sehat tidak dibangun di atas kesediaan salah satu pihak untuk terus mengalah. Sebaliknya, hubungan yang sehat memberi ruang bagi setiap orang untuk menyampaikan kebutuhan, menetapkan batas, dan sesekali mengatakan "tidak" tanpa kehilangan rasa hormat maupun empati terhadap orang lain.
Barangkali, selama ini yang perlu diubah bukanlah kemampuan kita untuk menolak, melainkan cara kita memaknai kebaikan itu sendiri. Menjadi orang baik tidak berarti selalu memenuhi harapan semua orang. Kadang-kadang, menjadi orang baik juga berarti jujur terhadap kemampuan diri sendiri, agar kepedulian yang kita berikan lahir dari ketulusan, bukan dari rasa bersalah.
Sebab, hubungan yang bertahan bukanlah hubungan yang membuat seseorang selalu berkata"iya", melainkan hubungan yang tetap saling menghargai, bahkan ketika salah satunya harus berkata "tidak".

