Konten dari Pengguna

Kita Saling Follow, Tapi Apa Benar-Benar Berteman?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ulya Maulida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi saat kita lebih fokus berteman di media sosial dariapada di dunia nyata. Sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi saat kita lebih fokus berteman di media sosial dariapada di dunia nyata. Sumber: pexels.com

Pernah membuka daftar pengikut di media sosial dan menyadari bahwa kita mengenal banyak orang, tetapi hanya beberapa yang benar-benar kita ajak bercerita? Ada teman sekolah yang masih mengikuti akun kita, teman kuliah yang rutin melihat story, rekan kerja yang sesekali membalas unggahan, hingga orang yang sudah lama tidak ditemui tetapi tetap terhubung secara digital.

Kita mungkin masih mengetahui kabar mereka melalui unggahan yang muncul di beranda. Kita tahu siapa yang sedang berlibur, baru mendapat pekerjaan, merayakan ulang tahun, atau menghadapi hari yang melelahkan. Namun, mengetahui kabar seseorang tidak selalu berarti memahami apa yang sedang ia rasakan. Kita dapat mengikuti kehidupan banyak orang tanpa benar-benar terlibat dalam kehidupan mereka.

Situasi ini memunculkan pertanyaan menarik, apakah media sosial membuat kita memiliki lebih banyak teman, atau hanya membuat kita lebih mudah terhubung dengan lebih banyak orang?

Pertanyaan tersebut bukan berarti pertemanan digital tidak bermakna. Media sosial memungkinkan orang mempertahankan hubungan yang sebelumnya mungkin terputus karena jarak, kesibukan, atau perubahan lingkungan. Namun, kemudahan untuk tetap terhubung juga membuat kita perlu membedakan antara memiliki koneksi, menjaga hubungan, dan merasakan kedekatan.

Terhubung Tidak Selalu Berarti Dekat

Dalam kehidupan sehari-hari, jumlah teman sering kali terlihat melalui angka. Berapa banyak pengikut yang kita miliki, berapa orang yang melihat story, atau seberapa ramai ucapan ulang tahun yang diterima dapat menjadi gambaran mengenai luasnya jaringan sosial seseorang. Angka-angka tersebut memang menunjukkan adanya koneksi, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan kualitas hubungan yang dimiliki.

Seseorang bisa memiliki ribuan pengikut, tetapi hanya mempunyai beberapa orang yang benar-benar ia percaya ketika menghadapi masalah. Sebaliknya, orang dengan lingkaran pertemanan yang relatif kecil dapat memiliki hubungan yang kuat karena merasa aman untuk bercerita, menunjukkan kerentanan, dan meminta bantuan tanpa takut dihakimi.

Perbedaannya terletak pada apa yang terjadi di balik hubungan tersebut. Melihat unggahan, memberikan tanda suka, atau membalas pesan singkat merupakan bentuk interaksi. Akan tetapi, kedekatan juga berkaitan dengan kepercayaan, pemahaman, keterbukaan, serta kesediaan untuk hadir ketika orang lain membutuhkan dukungan.

Hal ini tidak berarti interaksi sederhana tidak memiliki arti. Ucapan selamat, respons terhadap cerita sehari-hari, atau pesan singkat untuk menanyakan kabar dapat membantu mempertahankan hubungan. Persoalannya muncul ketika aktivitas tersebut dianggap sebagai satu-satunya ukuran kedekatan, padahal setiap hubungan memiliki tingkat keterlibatan dan makna yang berbeda.

Kita bisa mengetahui banyak hal tentang seseorang melalui media sosial, tetapi belum tentu mengetahui hal-hal yang tidak ia bagikan. Kita melihat foto kebersamaannya, tetapi tidak selalu memahami konflik yang sedang dihadapi. Kita membaca ceritanya tentang hari yang menyenangkan, tetapi mungkin tidak mengetahui bahwa ia sedang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluhannya.

Di sinilah perbedaan antara mengetahui kabar dan memahami seseorang menjadi penting.

Ketika Pertemanan Menjadi Jaringan Sosial

Dalam psikologi dan sosiologi hubungan sosial, konsep social capital atau modal sosial membantu menjelaskan mengapa koneksi dengan orang lain dapat memberikan manfaat yang berbeda. Modal sosial merujuk pada sumber daya yang dapat diperoleh melalui hubungan dan jaringan sosial, seperti informasi, dukungan, kesempatan, serta bantuan ketika dibutuhkan.

Nicole B. Ellison, Charles Steinfield, dan Cliff Lampe (2007), melalui penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Computer-Mediated Communication, mengkaji hubungan penggunaan Facebook dengan modal sosial pada mahasiswa. Penelitian terhadap 286 mahasiswa tersebut menemukan hubungan antara penggunaan Facebook dan beberapa bentuk modal sosial, terutama bridging social capital, yaitu manfaat yang diperoleh melalui koneksi dengan orang-orang di luar lingkaran dekat. Penelitian ini juga membahas peran media sosial dalam mempertahankan hubungan dengan komunitas yang pernah menjadi bagian dari kehidupan seseorang.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa koneksi digital tidak semestinya dipandang hanya sebagai hubungan yang dangkal. Orang yang tidak terlalu dekat dengan kita bisa saja memberikan informasi mengenai kesempatan kerja, memperkenalkan lingkungan baru, atau membantu kita menemukan perspektif yang sebelumnya tidak diketahui. Hubungan yang tidak terlalu intim tetap dapat memiliki nilai sosial.

Dalam konsep modal sosial, terdapat dua bentuk yang membantu menjelaskan perbedaan tersebut. Bridging social capital berkaitan dengan hubungan yang menghubungkan seseorang dengan jaringan lebih luas dan beragam. Sementara itu, bonding social capital berkaitan dengan hubungan yang lebih erat, seperti persahabatan dekat atau keluarga, yang dapat menjadi sumber dukungan emosional dan bantuan ketika menghadapi kesulitan.

Keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Koneksi yang luas dapat membuka akses terhadap informasi dan kesempatan baru, sedangkan hubungan yang erat dapat menyediakan ruang untuk memperoleh dukungan yang lebih personal. Seseorang dapat memiliki keduanya, tetapi banyaknya koneksi tidak otomatis menunjukkan seberapa kuat dukungan yang tersedia dalam lingkaran terdekatnya.

Karena itu, persoalan pertemanan di media sosial bukan sekadar apakah kita memiliki banyak atau sedikit teman. Pertanyaan yang lebih relevan adalah apa yang dapat kita peroleh dari hubungan tersebut dan bagaimana kita memeliharanya.

Mengapa Kita Tetap Merasa Jauh?

Menariknya, media sosial dapat membantu hubungan tetap terjaga sekaligus menghadirkan pengalaman keterputusan. Dalam tinjauan penelitian yang diterbitkan pada 2022, Samuel Hardman Taylor, Pengfei Zhao, dan Natalya N. Bazarova membahas bagaimana media sosial dapat mendukung maupun menghambat kedekatan dalam hubungan dengan teman, pasangan, dan keluarga. Mereka menekankan bahwa perilaku yang memudahkan hubungan tetap terjalin dapat berjalan berdampingan dengan perilaku yang justru menciptakan jarak.

Contohnya dapat ditemukan dalam kebiasaan sehari-hari. Kita mungkin rutin melihat story seorang teman, tetapi tidak pernah benar-benar menanyakan kabarnya. Kita bisa memberikan reaksi ketika ia mengunggah sesuatu, tetapi tidak mengetahui apakah ia membutuhkan bantuan. Sebaliknya, percakapan yang dimulai dari balasan sederhana terhadap sebuah unggahan juga dapat berkembang menjadi hubungan yang lebih dekat.

Artinya, media sosial bukan satu-satunya penentu kualitas pertemanan. Cara seseorang menggunakan platform, kebiasaan berkomunikasi, pengalaman bersama, dan kesediaan untuk saling memberikan perhatian turut memengaruhi hubungan tersebut.

Ada pula perbedaan antara menjaga hubungan agar tidak terputus dan mengembangkan hubungan agar semakin dekat. Mengikuti akun teman lama dapat membuat kita tetap mengetahui kabarnya. Namun, untuk memahami perubahan dalam hidupnya, mungkin diperlukan percakapan yang lebih personal. Menyimpan kontak seseorang memudahkan kita menghubunginya, tetapi tidak otomatis membuat kita menjadi bagian penting dalam kehidupannya.

Pada titik ini, kita perlu berhati-hati agar tidak menyimpulkan bahwa pertemanan digital selalu kurang bermakna dibandingkan pertemanan secara langsung. Bagi orang yang tinggal berjauhan, memiliki keterbatasan mobilitas, atau sulit bertemu karena kesibukan, komunikasi digital justru dapat menjadi sarana penting untuk mempertahankan hubungan. Kedekatan juga dapat tumbuh melalui percakapan daring ketika kedua pihak bersedia membangun kepercayaan dan saling memahami.

Yang membedakan bukan semata-mata tempat percakapan berlangsung, melainkan bagaimana hubungan itu dijalani.

Belajar Mengukur Pertemanan dengan Cara Berbeda

Dalam lingkungan digital yang membuat kita mudah mengetahui kabar banyak orang, ada baiknya kita sesekali mengevaluasi cara memaknai pertemanan. Apakah kita menganggap seseorang dekat karena sering melihat unggahannya? Apakah kita merasa sudah menjaga hubungan hanya karena sesekali memberikan tanda suka? Atau, apakah kita benar-benar menyediakan waktu untuk mendengarkan ketika seseorang ingin bercerita?

Pertanyaan tersebut bukan ajakan untuk berhenti menggunakan media sosial atau mengurangi jumlah teman. Setiap orang memiliki kebutuhan sosial dan cara berkomunikasi yang berbeda. Ada hubungan yang cukup dijaga melalui interaksi ringan, ada yang berkembang melalui percakapan rutin, dan ada pula yang membutuhkan kehadiran lebih intens.

Kita dapat mulai dengan memberi perhatian lebih kepada hubungan yang memang ingin dipelihara. Mengirim pesan untuk menanyakan kabar tanpa menunggu seseorang mengunggah kesedihan, menyediakan waktu untuk berbicara, atau mengingat hal penting yang sedang dihadapi teman merupakan langkah sederhana. Tidak semua bentuk perhatian harus ditampilkan di ruang publik agar memiliki arti.

Pada saat yang sama, kita juga perlu menghargai batas dalam pertemanan. Tidak semua orang selalu tersedia untuk membalas pesan dengan cepat, dan tidak setiap hubungan harus berkembang menjadi kedekatan emosional. Hubungan yang sehat memberikan ruang bagi kesibukan, kebutuhan pribadi, serta perbedaan cara berkomunikasi.

Media sosial dapat membantu kita memperluas jaringan dan mempertahankan hubungan yang berharga. Namun, kualitas pertemanan tetap memerlukan keterlibatan manusia yang tidak selalu dapat diwakili oleh angka pengikut atau jumlah interaksi.

Pada akhirnya, memiliki banyak koneksi bukan sesuatu yang perlu dipertentangkan dengan memiliki sedikit teman dekat. Keduanya dapat saling melengkapi. Jaringan yang luas membuka pintu menuju informasi, pengalaman, dan kesempatan baru, sementara hubungan yang erat memberikan ruang untuk saling memahami dan mendukung.

Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan lagi berapa banyak orang yang terhubung dengan kita, melainkan hubungan mana yang benar-benar kita rawat.

Sebab, kita bisa terhubung dengan banyak orang dalam satu layar, tetapi kedekatan tetap tumbuh ketika dua orang bersedia meluangkan perhatian untuk satu sama lain.