Konten dari Pengguna

Mengapa Validasi Orang Lain Terasa Penting?

Ilustrasi perasaan senang setelah mendapat validasi dari orang lain. Sumber: https://www.istockphoto.com/id
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perasaan senang setelah mendapat validasi dari orang lain. Sumber: https://www.istockphoto.com/id

Bayangkan ketika pertama kali masuk ke sebuah lingkungan baru. Semua orang tampak sudah memiliki teman, berbicara satu sama lain, dan mengetahui tempatnya masing-masing. Sementara itu, kita datang sebagai seseorang yang belum dikenal siapa pun. Tidak ada yang benar-benar mengatakan bahwa kita tidak diterima. Tidak ada pula yang secara terang-terangan menjauh. Namun, ketika tidak ada yang menyapa atau mengajak berbicara, sebuah pertanyaan kecil bisa muncul dengan sendirinya. "Mereka menerima aku nggak, ya?" Mungkin hanya satu kejadian sederhana. Namun, bagi sebagian orang, tidak adanya respons dari lingkungan bisa terasa lebih berarti daripada yang sebenarnya. Kita mulai memperhatikan siapa yang menyapa, siapa yang mengajak berbicara, atau bahkan apakah keberadaan kita diperhatikan. Menariknya, kebutuhan untuk merasa diterima tidak hanya muncul ketika kita berada di lingkungan baru. Dalam percakapan sehari-hari pun, kita sering mencari tanda-tanda kecil bahwa apa yang kita sampaikan diterima oleh orang lain. Ketika bercerita, misalnya, kita mungkin merasa lebih lega setelah seseorang mengatakan, "aku ngerti kok." Ketika menyampaikan pendapat, kita merasa lebih tenang ketika orang lain mau mendengarkan tanpa langsung mengabaikannya. Dari situ, validasi mulai memiliki makna yang lebih luas. Kita tidak selalu mencarinya karena ingin dipuji atau dianggap benar. Terkadang, yang kita cari hanyalah sebuah tanda bahwa keberadaan, perasaan, atau pengalaman kita diakui dan memiliki tempat di antara orang lain. Perasaan tersebut ternyata bukan sesuatu yang aneh. Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa terhubung dengan orang lain dan menjadi bagian dari suatu kelompok. Kebutuhan untuk mendapatkan validasi orang lain juga berkaitan dengan dorongan tersebut. Dalam Need to Belong Theory, Roy F. Baumeister dan Mark R. Leary menjelaskan bahwa manusia memiliki dorongan mendasar untuk membangun dan mempertahankan hubungan interpersonal yang bermakna.

Hal ini juga sejalan dengan hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Dalam teorinya, kebutuhan untuk mencintai dan menjadi bagian dari kelompok (love and belongingness) merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Setelahnya, terdapat kebutuhan akan penghargaan (esteem), yaitu keinginan untuk merasa dihargai, diakui, dan memiliki nilai. Karena itu, validasi dari orang lain terkadang terasa lebih penting daripada sekadar sebuah komentar atau pujian. Ketika seseorang menyapa kita di lingkungan baru, mendengarkan cerita, atau mengakui perasaan yang sedang kita rasakan, ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar respons dalam sebuah percakapan. Kita menerima tanda bahwa keberadaan kita diperhatikan dan bahwa kita memiliki tempat dalam hubungan sosial tersebut. Sebaliknya, ketika tanda-tanda tersebut tidak muncul, kita bisa mulai mempertanyakan posisi kita. Tidak ada yang mengatakan bahwa kita tidak diterima, tetapi ketiadaan respons dapat membuat kita mengisi kekosongan itu dengan berbagai asumsi. Apakah mereka tidak menyukaiku? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah? Atau memang keberadaanku tidak dianggap penting? Di sinilah kebutuhan akan validasi bertemu dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ketika penerimaan dari lingkungan terasa penting, respons orang lain dapat ikut memengaruhi bagaimana kita menilai diri. Rasa memiliki dalam hubungan sosial juga berkaitan dengan bagaimana seseorang memandang dan menilai dirinya sendiri. Dengan demikian, keinginan untuk mendapatkan validasi tidak selalu berarti seseorang haus akan pujian. Bisa jadi, yang sedang dicari adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar, kepastian bahwa dirinya diterima, keberadaannya diakui, dan dirinya memiliki tempat di antara orang lain. Namun, kebutuhan untuk mendapatkan validasi orang lain tidak berarti kita harus terus bergantung pada penilaian mereka. Ada perbedaan antara merasa senang ketika mendapatkan pengakuan dan merasa bahwa diri kita baru cukup berharga setelah mendapatkannya. Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan itu mungkin tidak selalu terlihat. Kita bisa merasa senang ketika pendapat kita disetujui, lega ketika seseorang mengatakan bahwa perasaan kita masuk akal, atau bahagia ketika lingkungan baru mulai mengajak kita berinteraksi. Semua itu merupakan pengalaman sosial yang wajar. Persoalannya muncul ketika penerimaan dari orang lain mulai menjadi ukuran utama untuk menentukan bagaimana kita melihat diri sendiri. Kita mulai bertanya apakah kita cukup menarik jika tidak ada yang mengajak berbicara, apakah pendapat kita cukup baik jika tidak disetujui, atau apakah perasaan kita benar-benar valid jika tidak ada orang lain yang mengakuinya. Padahal, validasi dari orang lain tidak seharusnya menjadi satu-satunya cara untuk memahami nilai diri. Ada kalanya kita memang membutuhkan orang lain untuk mendengarkan dan menguatkan. Namun, ada pula hal-hal dalam diri kita yang tetap memiliki nilai meskipun tidak mendapatkan respons seperti yang kita harapkan. Karena itu, kebutuhan untuk diakui bukan sesuatu yang harus dianggap salah. Manusia memang membutuhkan hubungan, penerimaan, dan penghargaan dari lingkungan sosialnya. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kebutuhan tersebut membuat kita terus-menerus menunggu orang lain untuk menentukan apakah kita layak diterima. Mungkin, yang perlu kita pelajari bukan bagaimana berhenti mencari validasi sama sekali, melainkan bagaimana membedakan antara membutuhkan pengakuan dari orang lain dan menjadikan pengakuan itu sebagai penentu nilai diri sendiri. Pada akhirnya, mungkin alasan kita begitu membutuhkan validasi bukan karena kita terlalu peduli pada apa yang orang lain pikirkan. Kita hanya sedang memenuhi sesuatu yang sangat manusiawi keinginan untuk merasa diterima dan memiliki tempat. Masuk ke lingkungan baru, tidak mendapat sapaan, atau merasa tidak dilibatkan memang bisa membuat kita bertanya-tanya tentang posisi diri sendiri. Begitu pula ketika cerita kita tidak didengarkan atau perasaan kita dianggap berlebihan. Respons orang lain dapat membuat kita merasa lebih dekat, lebih tenang, atau sebaliknya, semakin asing. Namun, tidak semua keheningan berarti penolakan. Tidak semua orang yang belum menyapa berarti tidak menerima kita. Dan tidak setiap perbedaan pendapat berarti keberadaan kita tidak dihargai. Validasi orang lain memang menjadi bagian dari hubungan manusia. Kita boleh merasa senang ketika didengarkan, dihargai, dan diterima. Kita boleh membutuhkan orang lain ketika sedang tidak yakin dengan apa yang kita rasakan. Namun, di saat yang sama, kita juga perlu belajar bahwa tidak semua nilai dalam diri harus datang dari respons orang lain. Sebab, diterima oleh orang lain memang membuat kita merasa memiliki tempat. Namun, kemampuan untuk tetap menghargai diri ketika penerimaan itu belum datang juga merupakan bagian penting dari proses tersebut. Kita boleh ingin diakui. Kita boleh ingin diterima. Tetapi, nilai diri kita tidak seharusnya hilang hanya karena validasi itu belum datang.