Konten dari Pengguna

Parasocial Relationship: Merasa Dekat dengan Orang yang Tidak Mengenal Kita

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ulya Maulida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi penggemar yang merasa dekat dengan orang yang tidak mengenal kita. Sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penggemar yang merasa dekat dengan orang yang tidak mengenal kita. Sumber: pexels.com

Ada orang-orang yang sebenarnya tidak pernah kita temui, tidak pernah mengobrol dengan kita, bahkan mungkin tidak tahu bahwa kita ada. Namun, entah bagaimana, kita bisa merasa sangat dekat dengan mereka. Kita tahu karya terbaru mereka, mengikuti aktivitasnya di media sosial, menonton wawancaranya, sampai hafal kebiasaan kecil yang sering mereka tunjukkan. Sosok tersebut mungkin seorang artis, penyanyi, aktor, kreator, atau figur publik yang sudah begitu sering hadir di layar kita.

Sebagai penggemar, perasaan seperti itu sebenarnya cukup mudah ditemukan. Ketika artis kesayangan merilis lagu baru, kita ikut menunggu. Ketika mereka mendapatkan penghargaan, kita ikut merasa bangga. Bahkan ketika mereka sedang menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan, kita bisa ikut merasa sedih atau khawatir. Padahal, hubungan tersebut berjalan dengan cara yang berbeda dari hubungan kita dengan orang-orang di kehidupan nyata. Ini yang dalam psikologi penggemar dikenal sebagai hubungan parasosial atau parasocial relationship.

Mereka tidak mengenal kita secara pribadi, tetapi kita merasa mengenal mereka. Kita mungkin tidak pernah benar-benar berbicara dengan mereka, tetapi kehadiran mereka bisa menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Ada yang selalu menonton konten mereka sebelum tidur, mengikuti setiap unggahan, atau merasa ada sesuatu yang kurang ketika sosok tersebut tiba-tiba tidak muncul di media sosial. Dari sinilah muncul sebuah pertanyaan sederhana: mengapa seseorang yang bahkan tidak mengenal kita bisa terasa begitu dekat?

Fenomena tersebut dikenal sebagai parasocial relationship, yaitu hubungan satu arah yang membuat seseorang merasa memiliki kedekatan dengan figur media meskipun hubungan tersebut tidak berlangsung secara timbal balik. Perasaan dekat itu bukan berarti seseorang sedang mengada-ada. Justru, perasaan tersebut dapat muncul karena kita terus-menerus menerima berbagai informasi tentang orang yang sama hingga sosoknya terasa familiar dalam kehidupan kita. Dalam konteks komunikasi digital, hal ini semakin umum terjadi.

Bayangkan seorang penggemar yang sudah mengikuti artis favoritnya selama bertahun-tahun. Ia melihat perjalanan kariernya, mendengar cerita tentang kehidupannya melalui wawancara, menyaksikan berbagai pencapaiannya, bahkan mengikuti kesehariannya melalui media sosial. Tanpa pernah bertemu secara langsung, penggemar tersebut bisa memiliki gambaran yang cukup lengkap tentang sosok yang dikaguminya. Lama-kelamaan, artis itu bukan lagi sekadar nama yang muncul di layar, tetapi seseorang yang terasa memiliki tempat dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang membuat hubungan penggemar dengan artis terasa begitu intens.

Di sinilah perkembangan media digital membuat pengalaman tersebut menjadi semakin kuat. Dulu, kita mungkin hanya mengenal seorang artis melalui film, acara televisi, majalah, atau lagu yang mereka bawakan. Sekarang, jaraknya terasa jauh lebih pendek. Kita bisa melihat unggahan mereka setiap hari, mengikuti siaran langsung, menonton vlog, membaca pernyataan mereka, melihat foto di balik layar, hingga mengetahui aktivitas mereka hampir secara real time. Media sosial dan penggemar kini terhubung dalam cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kalau dilihat melalui Media Ecology Theory yang diperkenalkan Marshall McLuhan, media tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Media juga menjadi lingkungan yang ikut membentuk bagaimana manusia mengalami dunia dan berkomunikasi. Dalam konteks ini, media digital menciptakan lingkungan yang memungkinkan sosok yang sebenarnya jauh secara fisik terasa hadir begitu dekat dalam keseharian kita. Ini adalah inti dari komunikasi digital masa kini yang mengubah cara kita berinteraksi.

Artinya, bukan hanya artisnya yang berubah menjadi lebih mudah diakses. Lingkungan media kita juga berubah. Ketika kehidupan seorang figur publik terus muncul di layar, kita tidak perlu secara sengaja mencari mereka setiap saat. Algoritma, notifikasi, unggahan, dan rekomendasi konten dapat membuat wajah yang sama kembali hadir berkali-kali. Semakin sering seseorang hadir dalam keseharian kita, semakin familiar pula sosok tersebut terasa. Inilah mengapa merasa dekat dengan artis bisa terjadi tanpa kita sadari.

Familiaritas itu kemudian bisa menghasilkan perasaan yang menarik. Kita mungkin mulai merasa tahu bagaimana artis tersebut akan bereaksi terhadap sesuatu, mengetahui jenis makanan yang disukainya, mengenali cara bicaranya, atau bahkan merasa bisa memahami apa yang sedang dirasakannya hanya dari sebuah unggahan. Padahal, yang kita kenal sebenarnya adalah versi dirinya yang hadir melalui media. Kita menerima potongan-potongan informasi yang dibagikan, tetapi tetap tidak memiliki keseluruhan kehidupan orang tersebut. Karena itu, familiar bukan berarti benar-benar mengenal dalam hubungan parasosial.

Kita bisa mengetahui banyak hal tentang seseorang tanpa pernah memiliki hubungan personal dengannya. Kita bisa merasa dekat tanpa benar-benar menjadi bagian dari kehidupannya. Dan justru di situlah parasocial relationship menjadi menarik untuk dibicarakan, karena perasaan yang muncul bisa sangat nyata meskipun hubungan yang mendasarinya bersifat satu arah. Psikologi penggemar dalam fenomena ini cukup kompleks karena otak kita memproses kehadiran mereka seperti teman nyata, meski secara logika kita tahu ini hanya hubungan satu arah.

Meski begitu, bukan berarti kedekatan seperti ini selalu menjadi sesuatu yang buruk. Bagi sebagian orang, figur yang mereka kagumi dapat memberikan hiburan, inspirasi, motivasi, bahkan rasa ditemani. Ada penggemar yang menemukan semangat untuk terus berkarya karena melihat perjalanan idolanya. Ada pula yang merasa lebih tenang setelah mendengarkan lagu atau menonton konten dari seseorang yang sudah lama mereka ikuti. Hubungan parasosial bisa menjadi sumber kekuatan emosional yang positif.

Masalahnya bukan terletak pada rasa kagum atau rasa dekat itu sendiri. Yang perlu diperhatikan adalah ketika batas antara kehidupan penggemar dan kehidupan figur yang dikagumi mulai sulit dibedakan. Misalnya, ketika seseorang merasa memiliki hak untuk mengatur kehidupan artis, terlalu terpengaruh oleh keputusan pribadi mereka, atau menganggap kedekatan emosional tersebut sebagai hubungan yang benar-benar timbal balik. Di sinilah hubungan satu arah bisa menjadi tidak sehat.

Padahal, mengikuti seseorang bukan berarti menjadi bagian dari hidupnya. Mengetahui banyak tentang seorang artis juga tidak otomatis membuat kita mengenalnya secara pribadi. Ada jarak yang tetap ada, meskipun media membuat jarak tersebut terasa semakin tipis. Dalam hubungan penggemar dengan artis, penting untuk tetap sadar akan batasan ini agar tidak terjebak dalam ekspektasi yang tidak realistis.

Menariknya, fenomena ini juga menunjukkan sesuatu tentang diri kita sendiri. Mungkin yang membuat kita merasa dekat bukan hanya karena sosok tersebut sering muncul di layar, tetapi karena manusia memang memiliki kebutuhan untuk merasa terhubung dengan sesuatu atau seseorang. Ketika kehidupan sehari-hari terasa sepi, melelahkan, atau monoton, kehadiran figur yang familiar bisa memberikan pengalaman emosional yang terasa menyenangkan. Ini menjelaskan mengapa parasocial relationship begitu umum di era modern.

Karena itu, pertanyaan yang lebih menarik bukan sekadar, "Kenapa kita bisa ngefans sampai merasa dekat?" tetapi juga, "Apa yang sebenarnya kita cari dari kedekatan tersebut?" Apakah sekadar hiburan? Inspirasi? Rasa ditemani? Atau mungkin perasaan bahwa ada seseorang yang kita ikuti dan tunggu kehadirannya di tengah rutinitas sehari-hari? Refleksi ini penting untuk memahami dinamika komunikasi digital yang kita jalani setiap hari.

Mungkin, itulah salah satu ironi komunikasi di era digital kita bisa merasa sangat dekat dengan orang yang tidak mengenal kita, sementara orang-orang yang benar-benar berada di sekitar kita justru perlahan bisa terasa asing. Media mampu menghadirkan seseorang yang jauh ke dalam kehidupan kita, tetapi kedekatan yang terasa di layar tidak selalu sama dengan hubungan yang dibangun melalui komunikasi dua arah. Inilah tantangan terbesar dari media sosial dan penggemar di abad 21.

Pada akhirnya, parasocial relationship bukan sekadar tentang penggemar yang terlalu menyukai artisnya. Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi dan media telah mengubah cara manusia merasakan kehadiran orang lain. Seseorang tidak harus benar-benar berada di depan kita untuk terasa dekat, karena cukup dengan terus hadir melalui layar, ia bisa menjadi bagian dari rutinitas, emosi, bahkan kenangan kita. Media Ecology Theory membantu kita memahami transformasi ini secara lebih mendalam.

Dan mungkin, di situlah kita kembali pada hal yang paling sederhana dari komunikasi: manusia ingin merasa terhubung. Kita ingin memiliki sesuatu untuk ditunggu, seseorang untuk dikagumi, cerita untuk diikuti, dan kehadiran yang membuat kita merasa tidak sendirian. Pada akhirnya, kita semua hanya manusia yang ingin didengar, dipahami, dan diterima. Dan mungkin, selama kebutuhan itu ada, cerita tentang komunikasi manusia tidak akan pernah benar-benar selesai.