Konten dari Pengguna

Politik Tanpa Basa-Basi

Ilustrasi saat gen z ikut berkontribusi dalam komunikasi politik. Sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi saat gen z ikut berkontribusi dalam komunikasi politik. Sumber: pexels.com

Setiap kali membuka media sosial, kita bisa menemukan berbagai macam informasi politik. Ada potongan pidato, pernyataan pejabat, video debat, sampai meme politik yang dikemas dengan humor. Namun, tidak semua orang berhenti untuk melihatnya. Ada yang langsung melewati, ada yang membaca sampai selesai, dan ada pula yang ikut berkomentar atau membagikannya. Hal sederhana seperti ini sebenarnya sering terjadi di sekitar kita. Misalnya, ketika seorang teman mengirimkan video tentang isu politik ke grup WhatsApp. Ada yang langsung menonton karena ingin tahu apa yang sedang terjadi, ada yang mencari berita terkini politik dari sumber lain, sementara yang lain memilih mengabaikannya karena merasa pembahasannya terlalu rumit.

Dari situ muncul pertanyaan yang menarik apakah anak muda benar-benar tidak tertarik pada politik, atau mereka hanya semakin selektif terhadap cara komunikasi politik disampaikan kepada mereka? Sebab, cara komunikasi dibangun sering kali menentukan apakah pesan itu didengar atau diabaikan. Menurut Uses and Gratifications Theory yang dikembangkan oleh Elihu Katz, Jay G. Blumler, dan Michael Gurevitch, audiens bukanlah pihak yang hanya menerima pesan media secara pasif. Artinya, perhatian masyarakat terhadap pesan politik tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering pesan tersebut disampaikan. Komunikasi politik Gen Z juga perlu melihat bagaimana audiens memilih, memahami, dan merespons pesan yang mereka temui di media. Artinya, perhatian masyarakat terhadap pesan politik tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering pesan tersebut disampaikan. Cara pesan itu dikomunikasikan juga ikut menentukan apakah seseorang merasa perlu mendengarkan atau justru memilih untuk melewatinya. Fenomena ini terlihat dalam penggunaan meme politik pada Pemilu 2024. Sebuah penelitian terhadap pemilih pemula di Jabodetabek menunjukkan adanya hubungan antara terpaan meme politik, kualitas informasi, dan literasi digital dengan sikap pemilih pemula. Ini menunjukkan bahwa bentuk komunikasi yang ringan sekalipun tetap bisa membuka jalan menuju pemahaman politik yang lebih dalam. Temuan tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa bentuk komunikasi politik digital yang ringan seperti meme tetap dapat menjadi bagian dari cara anak muda berhadapan dengan isu politik. Kita mungkin pernah mengalaminya sendiri. Awalnya hanya melihat meme politik karena lucu, tetapi kemudian muncul rasa penasaran terhadap isu yang sedang dibicarakan. Dari satu unggahan, kita bisa berpindah ke video penjelasan, membaca komentar, atau mencari pemberitaan dari sumber lain. Namun, mudah menarik perhatian bukan berarti sebuah informasi otomatis dapat dipercaya. Justru setelah melihat sebuah konten, seseorang masih bisa bertanya, membandingkan, dan mencari konteks tambahan. Di sinilah masyarakat menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar penerima pesan. Perubahan pola komunikasi politik ini juga terlihat dalam kampanye politik di era digital. Pada Pemilu 2024, penggunaan media sosial dan teknologi seperti kecerdasan buatan mulai menjadi bagian dari strategi komunikasi berbagai pasangan calon. Cara yang digunakan pun beragam, mulai dari membangun citra kandidat hingga menyampaikan informasi dan berinteraksi dengan pemilih. Politik akhirnya ikut masuk ke ruang yang sehari-hari digunakan masyarakat. Tetapi masuk ke ruang digital saja sebenarnya belum cukup. Sebab, berada di ruang yang sama tidak selalu berarti benar-benar berkomunikasi. Sebuah akun politik dapat mengunggah banyak informasi setiap hari, tetapi jika komunikasi politik hanya berjalan satu arah, masyarakat tetap berada pada posisi sebagai penerima pesan. Padahal, komunikasi yang sehat seharusnya melibatkan dua arah, bukan sekadar menyampaikan. Padahal, media sosial memungkinkan masyarakat memberikan respons secara langsung. Mereka dapat bertanya, berkomentar, mengkritik, membagikan informasi, atau membuat pembahasan mereka sendiri. Percakapan politik pun tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh pihak yang menyampaikan pesan. Hal ini sejalan dengan fenomena speak up di kalangan Gen Z. Keinginan untuk menyampaikan pendapat menunjukkan bahwa anak muda tidak selalu ingin hanya menjadi pendengar. Mereka juga ingin memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan dan terlibat dalam percakapan yang menyangkut kehidupan mereka. Dalam konteks komunikasi politik Gen Z, kemampuan untuk speak up seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kebisingan di media sosial. Pertanyaan, kritik, dan respons masyarakat merupakan bagian dari komunikasi politik yang menunjukkan bahwa audiens sedang terlibat dalam sebuah percakapan. Karena itu, menurut saya, komunikasi politik kepada Gen Z tidak harus selalu dibuat mengikuti setiap tren atau dikemas seperti konten hiburan. Yang lebih penting adalah bagaimana pesan politik disampaikan dengan bahasa yang jelas, relevan, dan tetap memiliki substansi. Jangan hanya berbicara kepada kami. Berkomunikasilah dengan kami. Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi di dalamnya terdapat perubahan cara pandang yang cukup besar. Masyarakat bukan sekadar target komunikasi yang harus menerima pesan. Mereka adalah bagian dari percakapan yang memiliki pertanyaan, pengalaman, kritik, dan kebutuhan informasi yang berbeda. Komunikasi politik juga seharusnya tidak berhenti setelah sebuah pesan disampaikan. Ketika masyarakat memberikan respons, respons tersebut perlu dipandang sebagai bagian dari proses komunikasi. Dari sanalah dialog dapat terbentuk. Namun, komunikasi yang terasa dekat juga memiliki tantangan. Keinginan untuk menjadi relatable tidak boleh membuat politik hanya mengejar perhatian. Bahasa yang sederhana memang dapat membantu masyarakat memahami sebuah isu, tetapi kesederhanaan tidak berarti menghilangkan konteks dan substansi. Pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan politik yang sekadar pandai berbicara. Mereka juga membutuhkan komunikasi politik yang membuat mereka merasa dilibatkan dalam pembicaraan. Gen Z mungkin bukan generasi yang tidak peduli politik. Mereka hanya hidup dalam lingkungan media yang membuat mereka lebih bebas memilih apa yang ingin didengar, dipercaya, dan dibicarakan. Karena politik tanpa basa-basi bukan berarti politik tanpa perbedaan. Politik hanya perlu belajar bahwa sebelum ingin didengar, ia juga harus bersedia mendengarkan. Komunikasi yang baik tidak diukur dari seberapa sering pesan disampaikan, tapi dari seberapa dalam ia dipahami.