Konten dari Pengguna

Tidak Semua Hal Perlu Dijelaskan

Ilustrasi perasaan lega ketika memilih keputusan tanpa harus menjelaskan. Sumber: https://www.istockphoto.com/id
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perasaan lega ketika memilih keputusan tanpa harus menjelaskan. Sumber: https://www.istockphoto.com/id

Ada kalanya sebuah keputusan sebenarnya sudah selesai ketika kita mengucapkannya. Namun, yang sering kali belum selesai justru keinginan kita untuk menjelaskan mengapa keputusan itu diambil. Entah ketika menolak ajakan, memilih pulang lebih dulu, tidak membalas pesan, atau sekadar berkata, "aku tidak bisa" banyak dari kita merasa perlu segera memberikan alasan. Seolah-olah, tanpa penjelasan, jawaban tersebut akan lebih mudah disalahpahami. Yang menarik, dorongan itu sering kali muncul bahkan sebelum ada orang yang meminta penjelasan. Tanpa disadari, kitalah yang lebih dulu merasa bahwa apa yang kita lakukan belum cukup jika belum disertai alasan yang dapat diterima. Lalu, sejak kapan menjelaskan diri terasa seperti sebuah kewajiban? Barangkali, perasaan itu tidak muncul begitu saja. Dalam kehidupan sehari-hari, kita hidup berdampingan dengan orang lain, membangun hubungan, dan berusaha menjaganya tetap baik. Karena itulah, pilihan yang kita ambil terkadang terasa memiliki dampak yang lebih besar daripada yang sebenarnya. Ketika memutuskan untuk berkata "tidak" misalnya, yang muncul di pikiran sering kali bukan hanya keputusan yang diambil. Kita mulai membayangkan berbagai kemungkinan setelahnya. Mungkinkah orang lain merasa kecewa? Apakah mereka akan salah paham? Atau mungkinkah hubungan yang selama ini terjalin berubah hanya karena satu jawaban yang sebenarnya sederhana? Sesekali memberikan penjelasan tentu bukan sesuatu yang keliru. Menjelaskan alasan dapat membantu orang lain memahami situasi yang sedang kita hadapi. Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika penjelasan tidak lagi diberikan karena memang diperlukan, melainkan karena kita merasa apa yang kita pilih belum cukup tanpa pemahaman atau persetujuan dari orang lain.

Perasaan tersebut ternyata bukan sesuatu yang aneh. Dalam psikologi komunikasi, kecenderungan untuk terus menjelaskan diri berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk diterima dan merasa menjadi bagian dari hubungan sosial. Melalui Need to Belong Theory, Roy F. Baumeister dan Mark R. Leary menjelaskan bahwa setiap individu memiliki kebutuhan mendasar untuk membangun serta mempertahankan hubungan dengan orang lain. Perasaan diterima bukan hanya memberikan rasa nyaman, tetapi juga menghadirkan rasa aman dalam kehidupan sosial. Karena itulah, ketika sebuah pilihan berpotensi memengaruhi hubungan dengan orang lain, yang muncul sering kali bukan hanya pertimbangan mengenai pilihan itu sendiri. Tanpa disadari, kita mulai memikirkan bagaimana orang lain akan menerimanya, apakah mereka akan merasa kecewa, atau bahkan memandang kita secara berbeda. Kebutuhan tersebut kemudian memengaruhi cara seseorang menampilkan dirinya di hadapan orang lain. Melalui konsep Impression Management, Erving Goffman menjelaskan bahwa setiap individu berusaha mempertahankan citra tertentu agar tetap dipandang positif oleh lingkungannya. Dalam situasi seperti ini, penjelasan yang panjang sering kali bukan sekadar upaya memberikan informasi, melainkan cara untuk menjaga kesan yang ingin ditampilkan kepada orang lain. Hal serupa juga dapat dipahami melalui Politeness Theory yang dikembangkan oleh Penelope Brown dan Stephen Levinson. Menurut teori ini, setiap orang memiliki keinginan untuk dihargai sekaligus menjaga citra dirinya di hadapan orang lain, atau yang disebut sebagai face. Karena itulah, berkata "tidak" atau mengambil pilihan yang berbeda sering kali terasa tidak nyaman. Penjelasan tambahan pun menjadi cara untuk menjaga perasaan orang lain sekaligus mengurangi kemungkinan munculnya ketegangan dalam hubungan. Tidak mengherankan jika akhirnya banyak orang merasa lebih tenang setelah memberikan penjelasan, meskipun sebenarnya tidak ada yang memintanya. Pada akhirnya, yang dicari sering kali bukan sekadar pemahaman, melainkan rasa aman bahwa hubungan dengan orang lain tidak akan berubah hanya karena sebuah pilihan. Namun, memahami alasan di balik kebiasaan tersebut bukan berarti kita harus terus melakukannya. Tidak setiap pilihan membutuhkan penjelasan yang panjang, terlebih jika penjelasan itu diberikan semata-mata karena kita merasa perlu memperoleh persetujuan dari orang lain. Dalam psikologi komunikasi, kemampuan menyampaikan pikiran, perasaan, maupun batas secara jujur dikenal sebagai komunikasi asertif. Melalui cara berkomunikasi ini, seseorang dapat menyampaikan sikapnya dengan jelas tanpa mengabaikan rasa hormat terhadap orang lain. Dengan kata lain, seseorang tetap dapat berkata "tidak" atau mengambil pilihan yang berbeda tanpa harus merasa bersalah karena tidak mampu memenuhi harapan semua orang. Di sinilah banyak orang tanpa sadar mencampurkan dua hal yang sebenarnya berbeda. Menjelaskan alasan bukanlah sesuatu yang keliru. Dalam situasi tertentu, penjelasan justru membantu orang lain memahami konteks yang sedang kita hadapi. Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika penjelasan diberikan bukan karena memang diperlukan, melainkan karena kita merasa apa yang kita pilih belum cukup tanpa pengakuan atau persetujuan dari orang lain. Perbedaannya mungkin tampak sederhana, tetapi maknanya sangat besar. Menjelaskan diri merupakan sebuah pilihan, sedangkan membenarkan diri lahir dari keyakinan bahwa nilai dari apa yang kita lakukan bergantung pada penerimaan orang lain. Padahal, keduanya tidak selalu berjalan beriringan. Pada akhirnya, yang membedakan bukanlah panjang atau singkatnya penjelasan yang diberikan, melainkan alasan di baliknya. Apakah kita menjelaskan karena ingin membantu orang lain memahami situasi yang sedang kita hadapi, atau karena kita takut cara mereka memandang kita akan berubah?

Pada akhirnya, kebiasaan untuk terus menjelaskan diri mungkin bukan semata-mata persoalan cara berkomunikasi. Yang lebih sulit sering kali adalah melepaskan keyakinan bahwa setiap pilihan harus dapat dipahami agar dapat diterima oleh orang lain. Padahal, sebuah pilihan tidak menjadi lebih benar hanya karena berhasil dijelaskan dengan panjang lebar. Sebaliknya, pilihan itu juga tidak kehilangan nilainya hanya karena tidak semua orang memahami alasan di baliknya. Dalam setiap hubungan, perbedaan cara pandang merupakan sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya dihindari. Menjelaskan diri tentu bukan sesuatu yang salah. Ada kalanya penjelasan membantu membangun pemahaman, mencegah kesalahpahaman, dan menjaga hubungan tetap baik. Namun, ada pula saat ketika sebuah jawaban sederhana sudah cukup. Tidak setiap pilihan perlu disertai alasan yang panjang agar tetap layak dihargai. Mungkin, yang perlu kita ubah bukanlah kebiasaan untuk menjelaskan diri, melainkan keyakinan bahwa setiap pilihan harus selalu mendapat persetujuan. Sebab, tidak semua orang akan memahami alasan yang kita miliki, dan itu bukan sesuatu yang selalu dapat kita kendalikan. Pada akhirnya, bukan panjangnya penjelasan yang menentukan nilai dari sebuah pilihan, melainkan keberanian untuk tetap menghormatinya, meskipun tidak semua orang akan memahaminya.