Hari Kebangkitan Nasional: Perempuan Indonesia dan Perjuangan di Era Modern

Penulis dan Kontributor Media Online, Kab. Kebumen
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Uli Fania Damayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap 20 Mei, kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Momen ini bukan sekadar mengenang berdirinya Budi Utomo, tapi juga menegaskan pentingnya semangat kolektif membangun bangsa. Sayangnya, peran perempuan dalam sejarah kebangkitan sering kali terpinggirkan dari narasi utama. Padahal, perempuan telah turut bangkit sejak awal. Mereka bukan hanya pendukung dari belakang layar, tetapi juga pelaku utama perjuangan. Tokoh seperti R.A. Kartini, Dewi Sartika, Rohana Kudus, hingga Rasuna Said menunjukkan bahwa semangat kebangkitan bukan milik satu gender saja. Perempuan dan Sejarah Kebangkitan Banyak catatan sejarah menempatkan perempuan dalam posisi simbolis, yaitu lembut, sabar, dan mendukung. Namun, kenyataannya lebih dari itu. Perempuan Indonesia turut serta dalam pergerakan pendidikan, pers, dan politik jauh sebelum kemerdekaan. Mereka berani bersuara, mendobrak batas, dan memperjuangkan hak yang setara. Sayangnya, narasi kebangkitan sering terfokus pada tokoh laki-laki. Ini membuat sejarah perempuan dalam kebangkitan nasional seolah tersembunyi. Maka, Hari Kebangkitan Nasional harus juga menjadi momen untuk mengakui dan mengangkat kembali peran perempuan yang selama ini terpinggirkan. Di era digital dan serba cepat ini, bentuk kebangkitan perempuan telah bergeser. Perempuan masa kini bangkit lewat pendidikan, ekonomi mandiri, karya, dan kontribusi di berbagai bidang. Mereka menjadi pemimpin, inovator, aktivis, dan penggerak komunitas. Kebangkitan tak lagi identik dengan perjuangan bersenjata, tapi juga perjuangan melawan bias, ketidaksetaraan, dan stereotip gender. Namun, tantangan tetap ada. Banyak perempuan masih menghadapi diskriminasi di tempat kerja, tekanan sosial, hingga beban ganda di rumah. Itulah mengapa semangat kebangkitan hari ini harus mencakup kesadaran untuk menciptakan ruang yang lebih adil dan setara bagi semua, tanpa memandang jenis kelamin. Kolaborasi untuk Bangsa yang Bangkit Bangkit bersama perempuan bukan berarti menjatuhkan peran laki-laki. Justru, ini tentang membangun bangsa secara kolaboratif. Ketika perempuan diberi ruang, suara mereka bisa menjadi kekuatan besar yang mendorong perubahan sosial, budaya, hingga kebijakan publik. Hari Kebangkitan Nasional di era modern ini seharusnya tak hanya menjadi peringatan simbolik, tetapi juga ajakan nyata untuk menulis ulang sejarah dengan lebih adil. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa kebangkitan ini bersifat inklusif, setara, dan menyeluruh. Perempuan Adalah Bagian dari Kebangkitan Perempuan Indonesia telah lama bangkit. Kini saatnya kita mengakui, mendukung, dan merayakan peran mereka. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan siapa saja yang telah membangunnya, termasuk para perempuan yang diam-diam telah lama menjadi nyala dari semangat kebangkitan.
