Konten dari Pengguna

Dadang Kahmad Ingatkan Umat Islam Tak Jadikan AI sebagai Rujukan Utama Belajar Agama

UM Bandung

UM Bandung

Akun resmi Universitas Muhammadiyah Bandung

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari UM Bandung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Ketua Badan Pembinan Harian UM Bandung Dadang Kahmad (Sumber: Humas UM Bandung).***
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Ketua Badan Pembinan Harian UM Bandung Dadang Kahmad (Sumber: Humas UM Bandung).***

Bandung – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad mengingatkan umat Islam agar tidak menjadikan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai satu-satunya rujukan dalam mempelajari agama.

Meski mampu menyediakan informasi secara cepat dan praktis, AI belum dapat menggantikan peran ulama dalam memberikan pemahaman keagamaan secara mendalam.

Menurut Ketua Badan Pembina Harian Universitas Muhammadiyah Bandung ini, perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh pengetahuan, termasuk dalam memahami ajaran Islam.

Berbagai pertanyaan mengenai tata cara ibadah, sejarah Islam, hingga persoalan keagamaan, kata Dadang, kini dapat dijawab melalui aplikasi berbasis AI hanya dalam hitungan detik.

"Sekarang orang bisa bertanya apa saja kepada AI, termasuk masalah agama. Namun, kita harus memahami bahwa AI itu hanya alat bantu untuk mendapatkan informasi, bukan sumber utama dalam memahami ajaran agama," ujar Dadang, dikutip dari YouTube TVMU Channel, Senin (02/11/2026).

Guru besar sosiologi agama tersebut menjelaskan bahwa AI bekerja dengan mengolah data dan informasi yang tersedia. Oleh karena itu, jawaban yang dihasilkan tidak selalu benar, bahkan berpotensi mengandung kekeliruan apabila sumber informasinya tidak akurat.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa memperoleh informasi keagamaan berbeda dengan mempelajari agama secara mendalam.

Pengetahuan agama tidak cukup hanya diperoleh melalui jawaban instan. Namun, membutuhkan proses pembelajaran, pendalaman, dan bimbingan dari orang yang memiliki kompetensi.

Dadang menegaskan bahwa ulama dan guru agama tetap memiliki peran penting karena menguasai berbagai disiplin keilmuan Islam, seperti tafsir, hadis, dan ushul fikih.

Selain menyampaikan pengetahuan, mereka juga memberikan keteladanan serta membimbing umat dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai agama.

"Belajar agama itu bukan sekadar mengetahui hukum atau tata cara ibadah. Ada nilai keimanan, akhlak, dan penghayatan yang harus ditanamkan. Itu membutuhkan bimbingan guru dan keteladanan, sesuatu yang tidak bisa diberikan sepenuhnya oleh AI," jelasnya.

Mantan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat ini juga menekankan pentingnya menerapkan prinsip tabayyun, yakni memeriksa dan memastikan kebenaran suatu informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Prinsip tersebut dinilai semakin relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Pasalnya, berbagai penjelasan keagamaan yang tersedia di internet maupun aplikasi AI belum tentu memiliki dasar dan sumber rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Al-Qur'an mengajarkan kita untuk melakukan tabayyun. Jadi, ketika mendapatkan informasi dari AI, jangan langsung dipercaya begitu saja. Periksa kembali sumbernya dan tanyakan kepada orang yang benar-benar memahami persoalan agama," tegasnya.

Dadang berpandangan bahwa perkembangan AI tidak perlu dihindari, tetapi dimanfaatkan secara bijak untuk mendukung pendidikan dan penyebaran pengetahuan keagamaan.

Menurut tokoh Muhammadiyah yang produktif menulis artikel dan buku ini, teknologi dapat menjadi sarana pembelajaran yang membantu masyarakat mengakses informasi dengan lebih mudah dan luas.

Namun, tegas Dadang, pemanfaatannya harus tetap diimbangi dengan penguatan tradisi keilmuan, bimbingan ulama, dan kemampuan berpikir kritis.

Dengan demikian, umat Islam tidak hanya memperoleh pengetahuan agama secara instan. Namun, mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam secara benar dalam kehidupan sehari-hari.***