Konten dari Pengguna
Menggagas Muhammadiyah Hub di Era Kolaborasi
3 November 2025 15:17 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Menggagas Muhammadiyah Hub di Era Kolaborasi
Muhammadiyah, yang telah berusia lebih dari satu abad, memahami betul hal itu bahwa keistiqamahan dalam dakwah tidak berarti bertahan dalam bentuk lama, melainkan terus menemukan cara baru untuk mewujUM Bandung
Tulisan dari UM Bandung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Oleh: SUKRON ABDILAH*
Di era ketika perubahan berjalan lebih cepat dari pemahaman manusia, kecepatan adaptasi dengan gerak zaman menjadi kunci keberlangsungan gerakan.
ADVERTISEMENT
Muhammadiyah, yang telah berusia lebih dari satu abad, memahami betul hal itu bahwa keistiqamahan dalam dakwah tidak berarti bertahan dalam bentuk lama, melainkan terus menemukan cara baru untuk mewujudkan cita-cita Islam berkemajuan.
Di titik inilah gagasan membangun Muhammadiyah Hub di Kota besar setiap daerah menemukan urgensinya. Pada Milad ke 113 ini, yang digelar tiap 8 November per tahun, Muhammadiyah mengusung tema: Memajukan Kesejahteraan Bangsa, seolah tiada rasa lelah memberikan perspektif kemajuan bagi Indonesia.
Selama 113 tahun lamanya Muhammadiyah bergerak menafsirkan ajaran langit untuk kemudian diejawantahkan jadi aktus perbaikan bagi bangsa ini.
Sebagai tuan rumah Milad Muhammadiyah ke 113 ini, Kota Bandung, khususnya Universitas Muhammadiyah Bandung, berharap milad kali ini menjadikan Muhammadiyah organisasi yang piawai menjelajahi dunia digital dengan berbagai inovasi.
ADVERTISEMENT
Bandung dan Semangat Kota Hub
Sejak Kiai Ahmad Dahlan menyalakan api pembaruan pada awal abad ke-20, Muhammadiyah telah menempatkan ilmu, amal, dan kolaborasi sebagai pilar geraknya.
Namun, di tengah dunia digital dan jaringan global saat ini, kolaborasi tidak lagi cukup hanya dalam bentuk silaturahmi konvensional. Diperlukan ruang-ruang baru yang mampu mempertemukan ide, data, inovasi, dan aksi dalam satu ekosistem yang hidup—itulah esensi Muhammadiyah Hub.
Bayangkan Hub sebagai rumah ide dan laboratorium sosial tempat aktivis muda, akademisi, pelaku usaha, dan pegiat dakwah duduk bersama, berbagi pengetahuan dan merancang solusi untuk masalah nyata di masyarakat: pendidikan yang adaptif, ekonomi umat yang berkeadilan, hingga teknologi untuk kemanusiaan. Di sinilah semangat “berkemajuan” diterjemahkan dalam bentuk yang paling konkret.
ADVERTISEMENT
Kota Bandung bisa menjadi contoh inspiratif. Sebagai kota kreatif dengan ekosistem teknologi dan riset yang dinamis, Bandung telah lama menjadi ruang pertemuan antara gagasan keislaman dan modernitas.
Jika Bandung memiliki “Creative Hub” yang mempertemukan pelaku industri kreatif, maka Muhammadiyah Hub bisa menjadi “spiritual-innovation hub”—tempat di mana nilai Islam dan kecanggihan teknologi berpadu untuk kemaslahatan umat.
Dengan infrastruktur digital dan budaya kolaboratif yang kuat, Hub di Bandung dapat menjadi model bagi daerah lain. Ia bukan hanya gedung, tetapi ekosistem: tempat data, riset, dan dakwah bersinergi.
Di sinilah Muhammadiyah dapat mengorkestrasi kekuatan intelektualnya, dari kampus hingga pesantren, dari komunitas medis hingga wirausahawan muda, menjadi satu jejaring gerakan sosial yang saling menguatkan.
ADVERTISEMENT
Mengubah Amal Usaha
Selama ini, Muhammadiyah dikenal luas melalui amal usahanya di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial. Namun, dalam era baru, amal usaha perlu naik tingkat menjadi amal inovasi—yakni inisiatif yang memecahkan masalah sosial dengan pendekatan sains dan teknologi, tanpa kehilangan orientasi spiritualnya.
Muhammadiyah Hub dapat berperan sebagai simpul pengetahuan, tempat lahirnya riset-riset aplikatif untuk kebutuhan umat, sekaligus wadah pembelajaran kolaboratif bagi kader muda.
Dengan Hub, amal usaha tidak lagi berdiri sendiri-sendiri, tetapi terhubung dalam jejaring informasi yang saling melengkapi. Rumah sakit bisa bermitra dengan universitas untuk penelitian kesehatan masyarakat; sekolah-sekolah Muhammadiyah dapat berbagi kurikulum digital; dan lembaga zakat dapat menggunakan data untuk menyalurkan bantuan secara lebih tepat sasaran. Semua itu dimungkinkan jika ada pusat kolaborasi yang terstruktur dan berdaya.
ADVERTISEMENT
Tantangan umat hari ini tidak hanya bersifat material, tetapi juga kultural dan epistemik. Arus disinformasi, fragmentasi sosial, dan krisis nilai menuntut gerakan dakwah yang cerdas dan sistematis.
Muhammadiyah Hub dapat menjadi benteng pengetahuan sekaligus menara cahaya: pusat edukasi publik yang menghadirkan narasi Islam berkemajuan secara terbuka, rasional, dan penuh welas asih.
Lebih dari sekadar ruang kerja bersama, Hub adalah simbol transformasi Muhammadiyah menuju gerakan jaringan (network movement). Ia menegaskan bahwa dakwah modern tidak bisa berjalan sendirian, melainkan harus bergerak dalam kolaborasi lintas generasi dan disiplin ilmu.
Pada akhirnya, membangun Muhammadiyah Hub di setiap daerah bukan sekadar proyek organisasi, melainkan investasi peradaban. Ia menghidupkan kembali semangat ijtihad sosial yang menjadi jiwa Muhammadiyah sejak awal: berpikir terbuka, bekerja kolektif, dan menebar manfaat seluas-luasnya.
ADVERTISEMENT
Di masa ketika batas-batas fisik dan digital kian kabur, Hub menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari teknologi, tetapi dari kemampuan manusia untuk saling menguatkan dalam iman dan ilmu.
Seperti cahaya yang menyebar dari satu pelita ke pelita lain, Muhammadiyah Hub adalah upaya menyalakan kembali api berkemajuan—agar umat tidak sekadar mengikuti zaman, tetapi ikut membentuknya.
Penjelasan Muhammadiyah Hub
Istilah “Muhammadiyah Hub” secara sederhana dapat dimaknai sebagai pusat kolaborasi, inovasi, dan konektivitas gerakan Muhammadiyah di suatu daerah.
Kata “Hub” sendiri berasal dari bahasa Inggris yang berarti “simpul” atau “pusat penghubung” — tempat di mana berbagai elemen saling bertemu, berinteraksi, dan bekerja sama.
Jadi, Muhammadiyah Hub bukan sekadar gedung atau kantor, tetapi ekosistem kerja bersama yang mengintegrasikan potensi berbagai unsur dalam Muhammadiyah — mulai dari amal usaha (sekolah, universitas, rumah sakit), majelis, lembaga, hingga komunitas muda dan inovator.
ADVERTISEMENT
Pertama, sebagai pusat Kolaborasi dan Inovasi. Muhammadiyah Hub menjadi tempat berkumpulnya kader muda, akademisi, profesional, dan pelaku usaha Muhammadiyah untuk merancang solusi inovatif terhadap persoalan umat dan bangsa.
Kedua, Ruang Integrasi Amal Usaha. Muhammadiyah Hub menghubungkan berbagai amal usaha agar tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menopang lewat data, teknologi, dan program bersama.
Ketiga, Laboratorium Dakwah Modern, yakni Muhammadiyah Hub menjadi wadah pengembangan dakwah yang lebih kreatif, berbasis riset dan teknologi digital, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Keempat, Jejaring Pengetahuan dan Aksi Sosial, yang berfungsi sebagai knowledge-sharing center di mana ide dan riset dapat diterjemahkan menjadi aksi sosial nyata — misalnya inovasi pendidikan, filantropi digital, atau ekonomi umat.
Kelima, Simbol Gerakan Berkemajuan, yakni mewujudkan semangat “Islam Berkemajuan” dengan menjadikan Muhammadiyah adaptif terhadap zaman, kolaboratif lintas sektor, dan responsif terhadap tantangan global.
ADVERTISEMENT
Dengan kata lain, Muhammadiyah Hub adalah “rumah ide dan amal” — tempat Muhammadiyah mempertemukan kekuatan intelektual, spiritual, dan sosialnya untuk menyalakan kembali api pembaruan di era digital dan kolaboratif.
*Peneliti Pusat Studi Media Digital Universitas Muhammadiyah Bandung

