Konten dari Pengguna

Masjid Bergaya Nabawi Ternyata Ada di Kediri, Bukan Cuma Indah Tapi Juga Hidup!

Umi Alfiatul Arfik

Umi Alfiatul Arfik

Mahasiswa Ekonomi Syariah UIN Syekh Wasil Kediri

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Umi Alfiatul Arfik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Jepretan Penulis, Umi Alfiatul Arfik
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Jepretan Penulis, Umi Alfiatul Arfik

Di balik keindahan Masjid Imam Baidhowi di Kediri, ada kisah spiritual, UMKM, ATV, dan rasa pulang yang membekas.

Aku lupa sejak kapan tepatnya mulai jatuh hati pada masjid-masjid bergaya Nabawi. Mungkin karena ada perpaduan antara spiritualitas dan estetika yang begitu kuat dalam desainnya: kubah besar yang megah, pilar-pilar menjulang tinggi, serta dominasi warna putih yang memancarkan keteduhan. Namun, yang paling membekas dalam ingatanku adalah sebuah unggahan di Instagram menampilkan masjid dengan aura Nabawi yang kental.

Bukan di Madinah. Bukan pula di Jakarta, Surabaya, atau bahkan Blitar yang lebih dulu dikenal dengan masjid serupa. Ternyata, masjid indah itu berdiri anggun di Desa Langenharjo, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri. Namanya Masjid Jami’ Imam Baidhowi. Awalnya aku mengira itu hanya hasil editan. Tapi rasa penasaran mendorongku untuk mencari tahu lebih jauh.

Rasa penasaran itu akhirnya membawaku dalam sebuah perjalanan kecil. Tidak jauh, namun cukup untuk memberi kesan mendalam. Setibanya di lokasi, suasana sejuk dan tertib langsung menyambut. Area parkir yang luas menjadi pemandangan pertama yang kulihat. Menariknya, sistem parkir diatur secara sukarela melalui infaq, tanpa tarif tetap. Sebuah refleksi dari nilai keikhlasan dan semangat gotong royong masyarakat sekitar.

Serasa Nabawi: Kubah, Pilar, dan Payung yang Membius Mata

Mataku langsung dimanjakan oleh kemegahan arsitektur masjid ini. Pilar-pilar putih menjulang kokoh, berpadu dengan detail ornamen khas Timur Tengah yang memperkuat kesan sakral. Di bawah langit cerah Kediri, kubah utama tampak berkilau, menghadirkan ilusi seolah aku sedang berada di pelataran Masjid Nabawi, meski nyatanya masih berpijak di tanah Jawa.

Sumber Gambar : Rekan Penulis (Khusnia)

Yang paling mencuri perhatian adalah empat payung otomatis raksasa yang berdiri anggun di halaman masjid. Sekilas, desainnya langsung mengingatkanku pada suasana ikonik di Masjid Nabawi. Payung-payung ini dibuka setiap hari mulai pukul 05.30 hingga 16.30 WIB. Kebetulan aku datang tepat saat proses penutupan berlangsung satu per satu. Momen yang sederhana, namun menghadirkan kesan mendalam, seperti penutup hari yang anggun dan penuh makna.

Siapa Sosok di Balik Masjid Ini?

Sumber Gambar : Rekan Penulis (Fatiya)

Di bagian depan masjid,berdiri kokoh sebuah batu besar yang menyerupai prasasti. Di atasnya tertulis jelas nama masjid ini: Masjid Jami’ Imam Baidhowi, lengkap dengan tahun peresmian, 2023, Masjid ini diresmikan pada 28 September 2023, bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awal 1445 H. Diresmikan oleh Brigjen TNI (Purn.) Drs. Ec. H. Imam Baidhowi, MM., C.F.F.A., yang juga merupakan penggagas sekaligus tokoh dibalik pembangunan masjid ini

Prasasti ini tidak sekadar pelengkap visual, tapi menjadi penanda sejarah sekaligus identitas spiritual sebuah tempat ibadah yang dibangun dengan dedikasi. Lokasinya diletakkan strategis di bagian depan, dekat halaman terbuka, sehingga setiap pengunjung yang datang bisa langsung mengenali tempat ini bukan hanya sebagai masjid biasa, melainkan sebagai simbol kekuatan komunitas dan cita rasa estetik yang tinggi.

Bedug Raksasa Itu Nyata, dan Jadi Spot Favorit Jamaah

Sumber : Penulis (Umi Alfiatul Arfik)

Di sebelah utara masjid, berdiri sebuah bangunan kecil yang cukup mencolok: rumah bedug. Di dalamnya terdapat bedug raksasa yang menjadi salah satu ikon tersendiri. Di tengah kemegahan desain Timur Tengah dan teknologi modern seperti payung otomatis, keberadaan bedug ini seolah mengingatkan bahwa masjid tetap berpijak pada akar tradisi Islam Nusantara.

Tak sedikit pengunjung yang berhenti di depan bedug ini untuk berfoto. Bukan sekadar karena ukurannya yang besar, tapi karena ia menjadi simbol keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian. Di sini, masjid tidak hanya tampil megah, tapi juga membumi.

Ibadah Dapat, Jajan Jalan: UMKM Tumbuh di Halaman Masjid

UMKM di Masjid Jami’ Imam Baidhowi

Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kehidupan sosial dan ekonomi. Di salah satu sisi area masjid, tersedia lahan khusus untuk UMKM. Di sinilah warga sekitar membuka lapak makanan, minuman, hingga kerajinan tangan.Semuanya tertata rapi dan dikelola dengan tertib tanpa kehilangan sentuhan lokal.Ada camilan khas desa, kopi hangat, hingga anyaman dan kerajinan kayu.

Keberadaan area UMKM ini bukan sekadar pelengkap. Ia menjadi bagian dari konsep masjid yang inklusif, menghidupkan ekonomi warga sekaligus membuat masjid menjadi pusat kegiatan umat. Saya melihat langsung bagaimana ekonomi kerakyatan tumbuh di halaman masjid. Lapak-lapak kecil ini menjadi ruang tumbuhnya keberdayaan. Masyarakat bukan hanya diajak makmur secara spiritual, tetapi juga diberi ruang mencari nafkah dengan cara yang halal dan bermartabat.

Ada ATV di Masjid? Kok Bisa!

Wahana Penyewaan ATV

Tak jauh dari area utama, aku menemukan sesuatu yang tak biasa di sebuah kompleks masjid: wahana penyewaan ATV (All Terrain Vehicle). Wahana ini disiapkan khusus untuk anak-anak dan remaja yang datang bersama keluarga. Jalur khusus telah dibangun agar aman dan menyenangkan.

Salah satu pengelola sempat berkata padaku, “Supaya anak-anak senang datang ke masjid, ada sisi fun-nya juga.” Sebuah pendekatan cerdas: menggabungkan nilai religi, kekeluargaan, dan rekreasi dalam satu tempat.

Pulang dengan Cerita, Bukan Sekadar Foto

Hari itu, aku pulang membawa lebih dari sekadar foto-foto. Aku pulang dengan hati yang lebih lapang, lebih damai. Rasanya seperti baru saja melakukan ziarah kecil tanpa tiket pesawat, tanpa paspor, tapi penuh makna.

Masjid Jami’ Imam Baidhowi bukan hanya tempat ibadah. Ia adalah ruang hidup yang berkelanjutan. Di sana, aku melihat bagaimana masyarakat desa menjaga masjid ini bukan hanya secara fisik, tetapi juga dengan semangat gotong royong yang hangat dan tulus. Mereka menyapa dengan ramah, menawarkan senyum, dan menjadikan setiap tamu sebagai bagian dari rumah besar bernama umat.

Rasa kekeluargaan terasa di tiap sudut: dari parkir yang dikelola sukarela, pedagang UMKM yang saling mendukung, hingga pengelola ATV yang ingin anak-anak mencintai masjid dengan cara yang menyenangkan. Semuanya berjalan dalam harmoni, seolah berkata bahwa ibadah tak harus kaku, dan masjid bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang untuk tumbuh bersama.

Jika suatu hari yang membaca ini kamu berada di sekitar Kediri atau Plemahan atau Pare, sempatkanlah mampir ke Desa Langenharjo!!!!

Siapa tahu, seperti aku, kamu juga akan pulang membawa cerita dan rasa yang tak ingin segera kau lepaskan.