Konten dari Pengguna

Saya Tak Naik ke Panggung, Tapi Hati Saya Penuh Tepuk Tangan

Umi Alfiatul Arfik

Umi Alfiatul Arfik

Mahasiswa Ekonomi Syariah UIN Syekh Wasil Kediri

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Umi Alfiatul Arfik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

TEMILREG FOSSEI JATIM 2025
zoom-in-whitePerbesar
TEMILREG FOSSEI JATIM 2025

Saya tidak membawa pulang piala. Tapi saya membawa pulang keyakinan bahwa setiap langkah punya maknanya sendiri. Ada momen dalam hidup yang tidak selalu berujung pada trofi, tetapi tetap membuatmu merasa menang.

Begitulah rasanya ketika saya mengikuti Temu Ilmiah Regional (Temilreg) FOSSEI Jawa Timur 2025, yang diselenggarakan oleh KSEI Muslim Studi BEM FEB Universitas Negeri Malang, Kampus Kediri, pada 27–29 Juni 2025.

Datang sebagai delegasi dari IAIN Kediri, saya tidak hanya membawa ransel dan naskah presentasi. Saya juga membawa harapan, keberanian, dan semangat untuk menyuarakan gagasan demi ekonomi Islam yang lebih berdampak.

Dari Subuh hingga Panggung Seminar

Kami diinapkan di Universitas Muhammadiyah Malang. Sementara seluruh rangkaian acara dilangsungkan di Universitas Negeri Malang Kampus Kediri. Setiap pagi, kami harus menempuh perjalanan bolak-balik dengan angkutan umum khas Malang. Melelahkan? Tentu. Tapi semangat lebih dominan daripada kantuk.

Setiba di Aula D10 FEB UM, acara dibuka dengan khidmat. Lagu Indonesia Raya, Mars UM, dan Mars FOSSEI kami nyanyikan penuh semangat. Sambutan para tokoh menyadarkan saya: menjadi mahasiswa bukan hanya soal IPK dan kelulusan, tapi juga tentang kontribusi dan kebermanfaatan.

Kami lalu mengikuti Seminar Nasional bertema transformasi teknologi sebagai penguat ekonomi Islam yang inklusif dan berkelanjutan. Para pembicara tampil lugas, berbobot, dan membumi. Saya merasa sedang duduk di tengah medan besar ide-ide masa depan ekonomi Islam.

Lomba: Tampil dengan Gagasan, Pulang dengan Makna

TIM INARA - KSEI ForSEI IAIN Kediri - Karya Tulis Ilmiah

Usai seminar, babak semifinal lomba dimulai. Saya ikut di cabang Karya Tulis Ilmiah (KTI) dengan gagasan berjudul:

“BAZARIN: Inovasi Pasar Digital Syariah sebagai Strategi Pemberdayaan Ekonomi Perdesaan dalam Mendukung SDGs.”

Gagasan ini lahir dari keresahan terhadap ketimpangan akses pasar di desa serta peluang digitalisasi yang belum merata. Saya membayangkan sebuah ekosistem pasar online berbasis syariah yang menjunjung keadilan, keberlanjutan, dan pemberdayaan ekonomi desa.

Saya tampil dengan gugup, tapi yakin. Bukan pertama kalinya saya bicara soal ekonomi Islam, tapi rasanya tetap istimewa, karena saya bicara di hadapan orang-orang yang sama-sama peduli dan berpikir keras untuk masa depan ekonomi umat.

Sore hari, daftar peserta yang lolos ke babak final diumumkan. Nama saya tidak disebut.

Saya terdiam. Ada sedih yang singgah, meski hanya sebentar. Tapi saya segera sadar, tidak lolos bukan berarti gagal. Justru ini adalah pengalaman yang tak pernah saya dapatkan di bangku kuliah: begadang menyusun ide, berani bicara di depan umum, belajar menerima hasil dengan lapang.

Saya pun mengabari orang tua saya di rumah:

“Buk, Pak… maaf ya, belum bisa lolos ke final.”

Tak lama kemudian, mereka membalas dengan tulus:

“Nak, nggak perlu minta maaf. Ibu dan Bapak sudah sangat bangga. Kamu berani maju, itu sudah luar biasa. Belum final sekarang bukan berarti gagal selamanya.”

Lalu menyusul pesan dari kakak saya:

“Santai aja, Dek. Kamu keren. Kalau kamu terus berproses kayak gini, waktumu sendiri pasti datang. Kakak bangga banget punya adik seperti kamu.”

Di tengah kekecewaan kecil, kata-kata mereka seperti pelukan hangat dari jauh. Membuat hati saya kembali tenang dan langkah saya terasa ringan.

Tak berhenti sampai di situ. Ketua HMPS Ekonomi Syariah IAIN Kediri pun mengirim pesan yang sangat menguatkan:

“Nggak ada yang mengecewakan. Yang lain belum tentu bisa kayak kamu.”

Beberapa menit kemudian, Ketua KSEI ForSEI IAIN Kediri juga mengirimkan pesan singkat tapi mengena:

“Tetap semangat. Dah keren kamu!”

Kalimat-kalimat itu seperti pelukan jarak jauh. Membuat saya tahu bahwa saya tidak sendiri. Bahwa ada banyak orang yang percaya dan mendukung, bahkan ketika saya merasa belum berhasil. Dan itu lebih dari cukup untuk membuat saya merasa menang, meski tanpa trofi di tangan.

Diskusi Regional: Satu Forum, Banyak Perspektif

Menjelang malam, kami mengikuti Diskusi Regional. Kami dibagi ke dalam kelompok kecil dari berbagai kampus, membahas tema besar: Ketahanan Multi-Sektor Ekonomi Islam di Era Transformasi Teknologi.

Kelompok saya membahas ekonomi sirkular. Diskusinya hidup. Kami saling bertukar perspektif, menyampaikan studi kasus dari kampus dan daerah masing-masing, bahkan saling follow akun media sosial untuk menjaga jaringan dan kolaborasi. Saya sadar, meski tak menang, saya tetap berkontribusi. Saya tetap menyerap wawasan dan memperluas relasi. Saya tetap belajar dan tumbuh.

Malam Anugerah, Keikhlasan, dan Tambahan Relasi

Malamnya, Awarding Night berlangsung meriah. Ada panggung, penampilan seni, dan pengumuman pemenang. Saya menyaksikan teman-teman naik ke atas panggung. Tapi entah mengapa, saya tidak merasa iri. Justru saya ikut bangga dan tepuk tangan paling keras. Karena saya tahu, mereka berdiri di sana bukan karena keberuntungan, tapi karena kerja keras dan konsistensi.

Di sela euforia, saya kembali bersyukur. Relasi saya bertambah. Saya pulang tidak dengan piala, tapi dengan sesuatu yang jauh lebih berarti: keyakinan bahwa saya sedang bertumbuh.

Yang pulang tanpa piala, ingatlah: Kita tidak kalah. Kita sedang belajar, sedang bertumbuh, dan sedang ditempa agar langkah kita nanti lebih kuat dan penuh makna. Panggung bukan satu-satunya tempat kemenangan dirayakan. Kadang, hati yang penuh tepuk tangan jauh lebih berarti daripada tangan yang menggenggam trofi.