Gen Z dan Pencarian Makna Hidup

Aktivis Muslimah, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pembina Komunitas Pendidikan Islam EduHOTS Center
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Mamik Susanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada fenomena yang menarik untuk diperhatikan dari kehidupan Gen Z hari ini. Di satu sisi, mereka dikenal sebagai generasi yang sangat dekat dengan teknologi, kreatif, dan terbiasa mencari informasi secara mandiri. Namun di sisi lain, banyak dari mereka justru merasa belum aman secara finansial. Survei Deloitte yang dikutip Kompas menunjukkan lebih dari 48 persen Gen Z mengaku belum merasa aman secara finansial. Kondisi ini terasa semakin berat ketika biaya hidup terus meningkat, sementara penghasilan dan peluang kerja belum selalu mampu mengimbanginya. (Kompas – Gaji Gen Z dan Self-Reward)
Yang menarik, tekanan ekonomi tersebut tidak serta-merta membuat pengeluaran untuk kesenangan berhenti. Self-reward, healing, nongkrong, kuliner, perjalanan, hingga mengikuti tren tetap menjadi bagian dari gaya hidup. Sebagian Gen Z bahkan tidak menganggapnya sekadar kemewahan. Setelah bekerja keras dan menghadapi tekanan, mereka merasa berhak memberikan hadiah kepada diri sendiri. Pada titik tertentu, hal ini tentu wajar. Setiap orang membutuhkan jeda dan menikmati hasil jerih payahnya. Persoalannya muncul ketika self-reward bukan lagi sekadar jeda, melainkan menjadi cara utama untuk meredakan stres dan mencari kebahagiaan.
Media sosial ikut memperkuat keadaan tersebut. Setiap hari, anak muda melihat orang lain menikmati liburan, membeli barang baru, mencoba kuliner yang sedang viral, atau menjalani kehidupan yang tampak menyenangkan. Tanpa disadari, muncul dorongan untuk mengikuti apa yang sedang tren agar tidak merasa tertinggal. Fear of missing out (FOMO) pun mudah muncul. Ketika kemampuan finansial tidak sejalan dengan tuntutan gaya hidup, konsumsi impulsif dapat menjadi pilihan. Berbagai kemudahan transaksi digital semakin membuat keinginan memperoleh sesuatu hari ini terasa lebih mudah, sementara konsekuensi finansialnya baru dirasakan kemudian.
Karena itu, terlalu sederhana jika persoalan ini hanya disebut sebagai masalah Gen Z yang boros atau tidak mampu mengatur keuangan. Ada persoalan yang lebih dalam, yaitu bagaimana generasi muda hari ini diajarkan memahami kebahagiaan. Dalam budaya konsumsi, banyak hal ditawarkan sebagai jawaban atas rasa lelah dan tidak puas: belanja ketika stres, bepergian ketika jenuh, membeli sesuatu ketika merasa tertinggal, atau mengikuti tren agar merasa diterima. Akhirnya, seseorang dapat terjebak dalam siklus bekerja, lelah, mengonsumsi, kemudian kembali bekerja untuk membayar apa yang telah dikonsumsi.
Di sinilah tekanan ekonomi bertemu dengan persoalan gaya hidup. Ketika biaya kebutuhan hidup meningkat, tetapi masyarakat terus didorong untuk memenuhi berbagai keinginan konsumtif, generasi muda berada dalam posisi yang serba sulit. Mereka dituntut produktif sekaligus didorong untuk terus membeli. Mereka diminta menabung untuk masa depan, tetapi pada saat yang sama terus menerima pesan bahwa hidup harus dinikmati sekarang. Tidak heran jika sebagian anak muda kemudian merasa cemas tentang masa depan, tetapi tetap sulit melepaskan diri dari pola konsumsi yang memberi kepuasan sesaat.
Ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar “Apakah Gen Z boros?” Pertanyaannya adalah: untuk apa sebenarnya mereka bekerja dan menjalani kehidupan? Sebab seseorang yang tidak memiliki tujuan hidup yang jelas akan lebih mudah menjadikan kesenangan sebagai tujuan. Ketika ukuran keberhasilan hanya berupa pendapatan, barang yang dimiliki, tempat yang dikunjungi, atau kehidupan yang terlihat menarik di media sosial, rasa cukup akan semakin sulit ditemukan. Selalu ada sesuatu yang lebih baru, lebih mahal, dan lebih menarik untuk dikejar.
Islam menawarkan cara pandang yang berbeda. Islam tidak melarang manusia menikmati rezeki dan bersenang-senang secara wajar. Allah bahkan berfirman, “Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik?” (QS. Al-A'raf: 32). Namun Islam juga mengajarkan agar manusia tidak berlebihan. Allah berfirman, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A'raf: 31). Artinya, persoalannya bukan pada menikmati kehidupan, melainkan ketika kenikmatan berubah menjadi ukuran kebahagiaan dan konsumsi menjadi pelarian.
Lebih jauh lagi, Islam memberikan jawaban atas pertanyaan paling mendasar tentang kehidupan. Allah Swt. berfirman, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Kesadaran bahwa hidup memiliki tujuan membuat seorang Muslim memiliki ukuran kebahagiaan yang tidak mudah berubah mengikuti tren. Ia boleh memiliki harta, mengejar karier, menikmati perjalanan, atau membeli sesuatu yang disukai, tetapi semua itu tetap ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan, bukan tujuan akhir. Kebahagiaan tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang dapat dikonsumsi, melainkan oleh sejauh mana kehidupan dijalani dalam ketaatan dan keberkahan.
Tentu persoalan Gen Z tidak dapat dibebankan seluruhnya kepada individu. Negara dan lingkungan sosial juga memiliki peran. Generasi muda membutuhkan pendidikan yang tidak hanya membekali mereka dengan keterampilan kerja, tetapi juga membangun pandangan hidup dan ketahanan diri. Mereka membutuhkan lapangan pekerjaan yang layak, kesempatan berkembang, serta lingkungan yang tidak terus-menerus mendorong konsumsi sebagai simbol keberhasilan. Dalam perspektif Islam, negara memiliki tanggung jawab memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi dan menciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat memperoleh penghidupan yang layak. Dengan demikian, membangun generasi yang kuat tidak cukup dengan mengajarkan cara mengatur pengeluaran, tetapi juga dengan membangun sistem kehidupan yang mendukung mereka untuk tumbuh secara sehat dan bermakna.
Kita pasti ingin melihat Gen Z menjadi generasi yang kuat, bukan generasi yang merasa harus selalu terlihat bahagia. Mereka boleh menikmati hidup, boleh beristirahat, boleh memberi penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja keras. Namun jangan sampai self-reward berubah menjadi pelarian, dan jangan sampai kebahagiaan harus selalu dibeli. Generasi muda membutuhkan sesuatu yang jauh lebih kokoh daripada tren dan konsumsi: tujuan hidup yang jelas, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, serta keyakinan bahwa hidup mereka memiliki misi yang lebih besar daripada sekadar mengejar kesenangan sesaat.
