Konten dari Pengguna

Hardiknas dan Alarm Krisis Moral di Dunia Pendidikan

Mamik Susanti

Mamik Susanti

Aktivis Muslimah, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pembina komunitas Pendidikan Islam di EduHOTS Center

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mamik Susanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (sumber foto: kreasi AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (sumber foto: kreasi AI)

Meningkatnya kekerasan, kecurangan akademik, dan degradasi etika pelajar menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membentuk generasi berilmu sekaligus berkarakter.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap tahun seharusnya menjadi momentum penting untuk mengevaluasi arah pendidikan bangsa. Namun di tengah berbagai seremoni dan slogan kemajuan pendidikan, masyarakat justru dihadapkan pada realitas yang memprihatinkan: meningkatnya kekerasan di lingkungan pendidikan, maraknya kecurangan akademik, hingga melemahnya penghormatan terhadap nilai moral dan etika.

Berbagai kasus yang muncul sepanjang 2026 menjadi cerminan bahwa dunia pendidikan sedang menghadapi tantangan serius. Kasus pengeroyokan pelajar di Bantul hingga menyebabkan korban meninggal dunia (Kumparan, April 2026), penyiraman air keras terhadap pelajar di Bogor (Detik, 2026), hingga kasus kekerasan antarpelajar di Bandung menunjukkan bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi tumbuhnya generasi muda.

Data yang dirilis Kompas pada Maret 2026 bahkan mencatat adanya 233 kasus kekerasan di dunia pendidikan hanya dalam kurun tiga bulan. Angka tersebut tentu tidak bisa dipandang sebagai kasus individual semata, melainkan sinyal perlunya evaluasi yang lebih mendalam terhadap ekosistem pendidikan saat ini.

Tidak hanya itu, persoalan integritas akademik juga menjadi sorotan. Kasus joki UTBK-SNBT 2026 di Surabaya yang melibatkan praktik pemalsuan dokumen dan transaksi hingga ratusan juta rupiah memperlihatkan bahwa orientasi pendidikan semakin bergeser pada hasil instan dibanding proses yang jujur dan bermartabat. Fenomena plagiarisme, budaya mencontek, hingga berbagai bentuk manipulasi akademik pun terus berulang dari tahun ke tahun.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan pendidikan hari ini bukan sekadar persoalan kurikulum atau fasilitas, melainkan menyangkut pembentukan karakter dan arah nilai yang menjadi fondasi pendidikan itu sendiri.

Pendidikan dan Krisis Nilai

Selama ini, pendidikan lebih banyak diarahkan pada pencapaian akademik, kompetisi, dan tuntutan pasar kerja. Sementara pembentukan moral, adab, dan tanggung jawab sosial sering kali belum mendapatkan perhatian yang seimbang. Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara mental dan spiritual.

Ketika keberhasilan hanya diukur dari nilai, gelar, dan capaian materi, sebagian pelajar akhirnya melihat segala cara dapat dibenarkan demi mencapai tujuan. Dalam situasi seperti ini, kejujuran perlahan kehilangan makna, sedangkan integritas menjadi hal yang mahal.

Padahal pendidikan sejatinya tidak hanya bertugas mencetak manusia pintar, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki arah hidup, tanggung jawab, dan akhlak mulia.

Pentingnya Fondasi Moral dan Spiritual

Dalam perspektif Islam, pendidikan memiliki tujuan yang jauh lebih mendalam dibanding sekadar transfer ilmu. Pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia yang berilmu, beradab, dan bertakwa. Karena itu, Islam menempatkan akhlak sebagai inti dari proses pendidikan.

Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter merupakan bagian mendasar dalam kehidupan seorang Muslim. Ilmu tidak boleh dipisahkan dari nilai moral dan tanggung jawab kepada Allah SWT.

Konsep pendidikan Islam juga menekankan keselarasan antara pola pikir dan pola sikap. Seorang pelajar tidak hanya didorong untuk unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kejujuran, kedisiplinan, penghormatan kepada guru, serta kepedulian terhadap sesama.

Karena itu, penguatan pendidikan karakter tidak cukup hanya melalui slogan atau mata pelajaran formal, melainkan membutuhkan lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya kebaikan, baik di keluarga, sekolah, masyarakat, maupun kebijakan negara.

Membangun Pendidikan yang Memanusiakan

Momentum Hardiknas seharusnya tidak berhenti pada perayaan simbolik, tetapi menjadi ruang refleksi bersama bahwa pendidikan memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh. Pendidikan perlu diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan lulusan kompetitif, tetapi juga manusia yang memiliki integritas dan tanggung jawab moral.

Nilai-nilai Islam menawarkan pandangan bahwa pendidikan harus dibangun di atas fondasi akidah, akhlak, dan ilmu secara seimbang. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kualitas kepribadian dan kontribusi sosial generasi muda.

Di tengah berbagai tantangan zaman, bangsa ini membutuhkan sistem pendidikan yang tidak sekadar melahirkan manusia cerdas, tetapi juga generasi yang mampu menjaga moralitas, menghormati sesama, dan menjadikan ilmu sebagai jalan kebaikan.

Hardiknas tahun ini semestinya menjadi pengingat bahwa masa depan pendidikan tidak cukup dibangun dengan teknologi dan kompetisi semata, tetapi juga dengan penguatan nilai, adab, dan ketakwaan sebagai fondasi utama peradaban.