Konten dari Pengguna

Kartini, Karier, dan Jati Diri Muslimah di Tengah Arus “Alpha Women”

Mamik Susanti

Mamik Susanti

Aktivis Muslimah, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pembina komunitas Pendidikan Islam di EduHOTS Center

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mamik Susanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi foto RA Kartini dan isi suratnya kepada Ny. Van Kol ( sumber: Canva)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi foto RA Kartini dan isi suratnya kepada Ny. Van Kol ( sumber: Canva)

Membaca Ulang Kartini dan Makna Berdaya

Setiap April, nama R.A. Kartini kembali diangkat sebagai simbol emansipasi perempuan Indonesia. Semangatnya kerap dikaitkan dengan kebebasan, pendidikan, dan keberhasilan perempuan menembus berbagai sektor strategis. Data Pemerintah Kota Tangerang yang dirilis April 2026 menunjukkan lebih dari separuh ASN di lingkungan pemerintah daerah tersebut adalah perempuan, termasuk dalam berbagai jabatan strategis. Fakta ini sering dibaca sebagai indikator kemajuan perempuan modern.

Namun, di tengah perayaan tersebut, muncul pertanyaan yang layak direnungkan: apakah keberdayaan perempuan hanya diukur dari sejauh mana ia mampu menaklukkan ruang publik? Ataukah ada makna yang lebih utuh tentang kemuliaan perempuan, khususnya bagi muslimah?

Perempuan Kian Dominan, Tapi Narasi Sekuler Juga Menguat

Meningkatnya jumlah perempuan dalam sektor pemerintahan, pendidikan, bisnis, dan kepemimpinan publik memang menunjukkan akses yang semakin terbuka. Perempuan hari ini semakin terdidik, mandiri, dan aktif berkontribusi dalam pembangunan.

Namun, di balik capaian tersebut, berkembang pula arus pemikiran yang sering kali menyempitkan makna pemberdayaan perempuan menjadi sebatas kemandirian ekonomi, dominasi profesional, dan pengakuan publik. Fenomena alpha women, perempuan sukses, kuat, kompetitif, dan independen secara total, sering dipromosikan sebagai puncak ideal keberhasilan perempuan modern.

Dalam kerangka sekularisme, nilai perempuan perlahan direduksi pada produktivitas publiknya. Seolah perempuan baru dianggap “berdaya” jika mampu menandingi atau bahkan melampaui laki-laki dalam karier, jabatan, dan prestasi duniawi.

Padahal, ukuran ini problematik. Ia berisiko menempatkan perempuan dalam tekanan baru: harus sukses secara publik, tetap sempurna secara domestik, sekaligus memenuhi standar sosial yang terus meningkat

Ketika Emansipasi Bergeser Menjadi Standar Kompetisi Kapitalistik

Di sinilah pentingnya membaca ulang narasi pemberdayaan perempuan secara kritis. Sistem sekuler-kapitalistik cenderung menilai manusia berdasarkan produktivitas ekonomi dan kontribusi pasar. Akibatnya, perempuan pun diarahkan untuk masuk dalam logika yang sama: semakin tinggi posisi, semakin besar penghasilan, semakin dianggap berhasil.

Masalahnya, paradigma ini sering mengabaikan dimensi fitrah dan keseimbangan peran perempuan. Tidak sedikit perempuan akhirnya mengalami beban ganda: tuntutan profesional yang tinggi, tekanan sosial, serta tanggung jawab keluarga yang tetap melekat.

Alih-alih benar-benar membebaskan, model ini kadang justru memunculkan bentuk baru eksploitasi. Perempuan didorong terus produktif dalam sistem yang tetap menuntut banyak, tetapi tidak selalu menyediakan dukungan struktural yang memadai.

Dalam konteks ini, semangat Kartini berisiko direduksi menjadi alat legitimasi modernitas sekuler, padahal perjuangan pendidikan dan kemuliaan perempuan tidak identik dengan penghapusan peran khas perempuan itu sendiri.

Ketika keberdayaan hanya diukur dari pencapaian publik, maka perempuan bisa kehilangan ruang untuk mendefinisikan sukses sesuai jati dirinya sendiri.

Kemuliaan Muslimah Tidak Ditentukan oleh Standar Sekuler

Islam memandang perempuan sebagai manusia mulia yang memiliki hak pendidikan, hak kepemilikan, hak berkontribusi, dan hak berperan dalam masyarakat. Namun, Islam tidak membangun standar keberhasilan perempuan berdasarkan kompetisi kapitalistik semata.

Dalam Islam, perempuan dapat berkarya, berilmu, berkontribusi, bahkan terlibat dalam urusan sosial, tanpa harus kehilangan identitas sebagai penjaga generasi, pendidik utama, dan pilar keluarga.

Islam tidak menempatkan ruang domestik sebagai bentuk keterbelakangan, melainkan bagian strategis dari peradaban. Sebaliknya, kontribusi publik perempuan pun diakui selama berjalan dalam koridor syariat dan tidak menafikan peran fundamentalnya.

Dengan demikian, keberdayaan muslimah bukan soal meniru standar maskulin atau sekuler, tetapi bagaimana ia mampu berprestasi tanpa tercerabut dari nilai Islam.

Membangun Sistem yang Benar-Benar Mendukung Perempuan

Pemberdayaan perempuan yang sejati tidak cukup hanya membuka akses kerja atau mendorong partisipasi di ruang publik, tetapi menuntut hadirnya sistem yang benar-benar memahami kebutuhan perempuan secara utuh.

Perempuan tidak semestinya diposisikan semata sebagai tenaga produktif dalam roda ekonomi, melainkan sebagai manusia mulia yang hak, peran, dan kesejahteraannya harus dijaga secara menyeluruh.

Karena itu, negara memiliki tanggung jawab penting dalam memastikan perempuan memperoleh pendidikan yang berkualitas, perlindungan keluarga yang kuat, jaminan kesejahteraan dasar, serta dukungan nyata terhadap peran keibuan dan pengasuhan yang begitu strategis bagi masa depan generasi.

Di saat yang sama, perempuan juga perlu diberi ruang untuk berkarya dan berkontribusi dalam masyarakat sesuai kapasitas dan kebutuhannya, tanpa dipaksa tunduk pada standar pasar yang sering kali mengabaikan keseimbangan hidup.

Dalam perspektif Islam, negara hadir bukan untuk menyeragamkan perempuan dalam kerangka kompetisi kapitalistik, melainkan untuk memastikan seluruh hak mereka terpenuhi secara adil dan bermartabat.

Dengan sistem seperti inilah perempuan dapat tumbuh sebagai pribadi yang berprestasi, aktif, dan berkontribusi luas, tanpa harus kehilangan kemuliaan, kehormatan, maupun jati dirinya

Memaknai Kartini dengan Lebih Utuh

Semangat Kartini seharusnya tidak berhenti pada slogan emansipasi yang sempit. Pendidikan, keberanian berpikir, dan kontribusi sosial perempuan memang penting. Namun, semua itu perlu dibingkai dalam pemahaman yang utuh tentang martabat perempuan.

Berdaya bukan berarti harus menanggalkan fitrah. Berprestasi bukan berarti harus meniru standar sekuler. Muslimah dapat menjadi sosok cerdas, aktif, dan kontributif tanpa kehilangan jati dirinya.

Mungkin, cara terbaik menghormati perjuangan Kartini hari ini bukan sekadar mendorong perempuan menembus semua ruang, tetapi memastikan mereka dapat tumbuh mulia di ruang mana pun tanpa kehilangan dirinya.