Konten dari Pengguna

Ketika Generasi Muda Terancam HIV

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mamik Susanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Simbolisasi generasi muda yang terbelenggu risiko HIV, menuntut aksi nyata pencegahan dan edukasi sejak dini (created by canva)
zoom-in-whitePerbesar
Simbolisasi generasi muda yang terbelenggu risiko HIV, menuntut aksi nyata pencegahan dan edukasi sejak dini (created by canva)

Beberapa hari terakhir saya berkali-kali membaca berita tentang meningkatnya jumlah remaja yang hidup dengan HIV. Awalnya saya mengira berita itu hanya lewat begitu saja seperti berita kesehatan lainnya. Namun ketika mata saya berhenti pada kalimat bahwa ratusan pelajar ikut tercatat dalam data tersebut, hati saya terasa sesak.

Sebagai seorang ibu, saya tidak sedang membayangkan angka. Saya membayangkan anak-anak yang setiap pagi berangkat sekolah dengan seragam putih abu-abu, membawa tas, bercanda dengan teman-temannya, lalu pulang ke rumah. Mereka adalah generasi yang semestinya sedang sibuk mengejar cita-cita, bukan bergulat dengan penyakit yang seharusnya dapat dicegah.

Di titik itulah saya merasa persoalan ini terlalu serius jika hanya dipandang sebagai urusan statistik kesehatan.

Ilustrasi HIV AIDS. Foto: fizkes/Shutterstock

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo menunjukkan bahwa sejak 2001 hingga Juni 2026 terdapat 7.230 orang yang hidup dengan HIV. Dari jumlah tersebut, 522 di antaranya merupakan pelajar mulai jenjang PAUD hingga SMA. Sementara itu, Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa meningkatnya jumlah kasus yang ditemukan tidak otomatis berarti penularan meningkat, tetapi juga dipengaruhi oleh semakin luasnya layanan tes HIV sehingga lebih banyak kasus yang berhasil terdeteksi sejak dini.

Di sisi lain, berbagai pihak mulai menawarkan solusi. Wakil Gubernur Jawa Timur, misalnya, menilai pendidikan seksual sejak dini menjadi salah satu langkah penting agar anak memahami risiko perilaku seksual berisiko.

Saya tentu sepakat bahwa deteksi dini memiliki manfaat. Saya juga tidak menolak pentingnya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi. Namun pertanyaan yang terus mengusik pikiran saya adalah, apakah kita benar-benar sedang menyelesaikan akar persoalannya? Ataukah kita baru sibuk mengelola akibatnya?

Sering kali kita merasa persoalan selesai ketika angka berhasil dipetakan. Padahal memetakan masalah tidak sama dengan menghilangkan penyebabnya.

Menurut saya, meningkatnya jumlah remaja yang terpapar HIV tidak bisa dilepaskan dari perubahan cara pandang masyarakat terhadap pergaulan. Saya melihat, agama masih diyakini sebagai sesuatu yang penting, tetapi tidak selalu dijadikan rujukan utama dalam mengatur kehidupan sosial. Nilai benar dan salah bergeser menjadi sekadar pilihan pribadi. Selama dianggap suka sama suka dan tidak mengganggu orang lain, banyak perilaku yang perlahan dianggap wajar. Akibatnya, batas antara yang boleh dan yang tidak boleh semakin kabur.

Pergaulan bebas tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dicegah sejak awal, melainkan baru menjadi masalah ketika muncul dampak kesehatan.

Cara berpikir seperti inilah yang menurut saya membuat solusi sering berhenti pada pendekatan kuratif. Fokusnya adalah bagaimana mencegah penularan penyakit, bukan bagaimana mencegah perilaku yang menjadi jalan menuju penularan.

Edukasi seksual yang banyak dikembangkan saat ini umumnya menekankan aspek biologis dan medis: mengenalkan organ reproduksi, risiko penyakit menular, hingga berbagai cara agar hubungan seksual dianggap lebih aman. Namun pembahasan mengenai mengapa manusia harus menjaga kehormatan dirinya, mengapa syariat melarang mendekati zina, atau mengapa hawa nafsu perlu dikendalikan justru semakin jarang mendapat tempat.

Padahal Islam memandang persoalan ini jauh lebih mendasar.

Allah SWT berfirman,

"Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk." (QS. Al-Isra': 32)

Ayat ini menarik. Allah tidak hanya melarang zina, tetapi juga melarang mendekatinya Artinya, Islam membangun pagar pengaman jauh sebelum seseorang jatuh pada perbuatan itu.

Pagar itu tampak dalam berbagai aturan syariat: menjaga pandangan, menutup aurat dengan pakaian syar'i, menghindari khalwat dan ikhtilat yang tidak dibenarkan, membiasakan pergaulan yang terjaga, memudahkan jalan menuju pernikahan, hingga adanya sanksi bagi pelanggaran hukum syara'. Semua itu bukanlah pembatas kebebasan, melainkan bentuk perlindungan terhadap kehormatan manusia.

Saya justru melihat kasih sayang Allah di balik aturan-aturan tersebut. Syariat tidak menunggu seseorang terluka baru kemudian menawarkan obat. Syariat mencegah agar luka itu tidak pernah terjadi.

Begitu pula pendidikan. Dalam Islam, pendidikan kesehatan reproduksi tidak dipisahkan dari akidah, akhlak, dan fikih pergaulan. Anak bukan hanya diajarkan bagaimana organ tubuh bekerja, tetapi juga bahwa tubuh adalah amanah dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Ketika seorang remaja memahami bahwa menjaga kehormatan dirinya adalah bagian dari ibadah, ia akan memiliki benteng yang jauh lebih kuat dibandingkan sekadar rasa takut terhadap penyakit.

Tentu saja tugas menjaga generasi tidak mungkin dibebankan hanya kepada sekolah. Keluarga menjadi madrasah pertama yang menanamkan rasa malu dan keimanan. Masyarakat menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya akhlak mulia. Negara pun berkewajiban menghadirkan sistem pendidikan, regulasi, serta kebijakan yang selaras dengan nilai-nilai Islam sehingga ketiganya saling menguatkan.

Saya berharap kita tidak berhenti berdebat tentang naik atau turunnya angka HIV. Sebab yang jauh lebih penting adalah memastikan semakin sedikit anak-anak kita yang berjalan menuju sebab-sebabnya.

Menyelamatkan generasi tidak cukup dengan memperbanyak tes, memperluas edukasi medis, atau mengampanyekan perilaku yang dianggap lebih aman. Kita membutuhkan keberanian untuk kembali membicarakan akar persoalan: bagaimana membangun masyarakat yang menjaga fitrah manusia, memuliakan kehormatan diri, dan menjadikan aturan Allah sebagai pedoman hidup.

Sebab jika akar masalah terus diabaikan, bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan kita akan kembali membaca berita serupa—dengan angka yang lebih besar, tetapi pertanyaan yang sama: mengapa semua ini terus terjadi?