Lebaran Berkah Bukan Beban: Menggagas Sistem Ekonomi Islam untuk Keluarga

Aktivis Muslimah, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pembina komunitas Pendidikan Islam di EduHOTS Center
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Mamik Susanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Momentum Ramadan dan Idulfitri yang semestinya menghadirkan ketenangan spiritual justru diwarnai kecemasan ekonomi di banyak keluarga Indonesia. Fenomena “habis makan tabungan, terbitlah makan utang” bukan lagi cerita individu, tetapi gejala struktural yang terus berulang setiap tahun. Tahun 2026 memperlihatkan tekanan itu semakin nyata.
Rumah Tangga Terhimpit di Tengah Lonjakan Biaya Hidup
Sejumlah laporan ekonomi menunjukkan bahwa menjelang Idulfitri 2026, tekanan terhadap rumah tangga meningkat karena kombinasi kenaikan harga kebutuhan pokok, ongkos mudik, pelemahan nilai tukar rupiah, serta efektivitas bantuan sosial yang dinilai belum optimal. Kondisi ini memperlihatkan daya tahan ekonomi keluarga yang semakin rapuh ketika menghadapi tekanan simultan. (Kabar Bursa
Seorang ekonom kebijakan publik menegaskan bahwa fenomena musiman tersebut sesungguhnya mencerminkan akumulasi tekanan ekonomi seperti inflasi, biaya mobilitas, dan menipisnya bantalan finansial keluarga. Bahkan inflasi Februari 2026 disebut mencapai sekitar 4,76%, disertai nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp16.879 per dolar AS pada Maret 2026, yang menambah beban biaya hidup masyarakat. (inilah.com 14 Maret 2026)
Di sisi lain, data regulator menunjukkan tren peningkatan penggunaan pinjaman online selama Ramadan. Penyaluran pendanaan fintech lending meningkat 8,9% (Ramadan 2024) dan 3,8% (Ramadan 2025) secara bulanan, menandakan momen keagamaan menjadi periode lonjakan pembiayaan konsumtif. (RRI.co.id, 28 Pebruari 2026)
Total outstanding pinjaman daring bahkan dilaporkan mencapai sekitar Rp94,85 triliun per November 2025, tumbuh lebih dari 25% dibanding tahun sebelumnya. Akademisi menilai lonjakan ini adalah alarm kerentanan ekonomi rumah tangga karena fungsi pinjaman bergeser dari modal produktif menjadi penopang konsumsi harian. (Berita Unismuh Makassar, 10 Januari 2026)
Konsumsi, Gengsi, dan Siklus Utang
Dalam lanskap ekonomi kapitalistik, Ramadan dan Lebaran bukan sekadar momentum ibadah tetapi juga musim konsumsi nasional. Diskon transportasi, promo e-commerce, tren fesyen Lebaran, hingga standar sosial mudik menciptakan tekanan sosial yang tidak kecil.
Keluarga dengan pendapatan stagnan terjebak dalam dilema: mempertahankan tradisi sosial atau menjaga stabilitas finansial. Dalam konteks ini, pinjaman digital menjadi “katup pengaman semu”. Kemudahan akses, algoritma promosi agresif, serta budaya fear of missing out (FOMO) membuat utang konsumtif tampak normal bahkan rasional.
Akibatnya, perputaran ekonomi rakyat semakin difasilitasi oleh utang berbasis bunga (ribawi). Konsumsi meningkat, tetapi kesejahteraan jangka panjang justru menurun. Ketergantungan pada pembiayaan jangka pendek melahirkan pola “gali lubang tutup lubang” yang menggerus ketahanan keluarga.
Ketika Sistem Menopang Kapital, Bukan Keluarga
Realitas ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi keluarga bukan semata soal literasi finansial. Ia berkaitan erat dengan desain sistem ekonomi yang berorientasi pertumbuhan konsumsi, bukan distribusi kesejahteraan.
Dalam paradigma kapitalisme global:
- Negara sering berperan sebagai fasilitator pasar, bukan pelindung kebutuhan dasar rakyat.
- Stabilitas harga dan nilai mata uang rentan terhadap tekanan globalisasi.
- Lapangan kerja produktif tumbuh lebih lambat dibanding ekspansi sektor pembiayaan konsumtif.
Akibatnya, rumah tangga menjadi “shock absorber” krisis ekonomi. Ketika harga naik atau kurs melemah, beban pertama jatuh ke keluarga, bukan ke struktur ekonomi yang melahirkan
Sistem Ekonomi Islam sebagai Alternatif
Dalam perspektif Islam, kesejahteraan keluarga tidak bisa dicapai melalui reformasi parsial. Dibutuhkan transformasi sistemik menuju ekonomi yang:
1. Melarang Riba dan Spekulasi
Islam menutup pintu pembiayaan berbasis bunga karena berpotensi menimbulkan ketimpangan dan eksploitasi. Utang hanya dibolehkan sebagai solusi darurat, bukan instrumen konsumsi massal.
2. Menjamin Distribusi Kekayaan
Melalui mekanisme zakat, pengelolaan kepemilikan umum (SDA), dan kebijakan fiskal syariah, negara memastikan kebutuhan pokok rakyat terpenuhi tanpa ketergantungan utang.
3. Menyediakan Lapangan Kerja Layak
Negara berkewajiban menciptakan aktivitas ekonomi riil produktif sehingga pendapatan keluarga stabil dan konsumsi tidak bergantung pada pembiayaan digital.
4. Menjaga Stabilitas Mata Uang dan Harga
Sistem moneter Islam berbasis aset riil dan larangan manipulasi finansial diyakini mampu menekan inflasi struktural serta menjaga daya beli masyarakat.
Namun penerapan sistem ekonomi Islam membutuhkan kekuatan politik yang independen dari dominasi kapital global. Tanpa kedaulatan kebijakan, negara sulit keluar dari jebakan liberalisasi perdagangan dan ketergantungan finansial internasional.
Mengembalikan Ramadan sebagai Momentum Ketakwaan
Al-Qur’an menegaskan tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan (QS Al-Baqarah: 183). Ketakwaan tidak hanya bermakna pengendalian diri individu, tetapi juga terwujud dalam sistem sosial yang adil.
Ketika sistem ekonomi menyejahterakan keluarga, Ramadan dan Idulfitri akan kembali menjadi momentum spiritual, bukan periode stres finansial. Tradisi berbagi, silaturahmi, dan mudik akan berlangsung dalam suasana keberkahan, bukan kecemasan utang.
Penutup
Fenomena Lebaran berbalut utang adalah tanda bahwa model pembangunan ekonomi saat ini belum menyentuh akar persoalan kesejahteraan keluarga. Selama konsumsi terus ditopang oleh pembiayaan ribawi dan distribusi kekayaan tidak merata, siklus utang musiman akan terus berulang.
Islam ideologis menawarkan solusi komprehensif: sistem ekonomi yang berpijak pada keadilan distribusi, larangan eksploitasi finansial, serta tanggung jawab negara menjamin kebutuhan dasar rakyat. Dengan transformasi sistemik ini, keluarga tidak lagi menyambut Lebaran dengan beban utang, tetapi dengan ketenangan iman dan kestabilan ekonomi
