Woman
·
18 November 2020 19:15

Hidup Ini Adalah Tentang Menyamakan Frekuensi

Konten ini diproduksi oleh Fatatik Maulidiyah
Life is About Equlizing Frequenzy
( Hidup Ini Adalah Tentang Menyamakan Frekuensi )
ADVERTISEMENT
Pernahkah tiba – tiba kita merasa sendiri dan terasing. Tiba – tiba saja seakan teman, saudara, sahabat, kakak atau adik menjadi saling asing, abai dan menjauhi kita. Juga pada suami atau kekasih.
Sangat beda rasanya ketika kita ditengah keriuhan pergaulan dan rutinitas pekerjaan yang menjemukan lantas kita ingin menepi dan menyendiri. Di saat – saat seperti itu kita memang sedang ingin sendiri saja. Tidak ingin diganggu oleh apapun dan siapapun. Anak, suami, teman, tugas-tugas dan sebagainya.
Namun sebagai makhluk sosial tidak mungkin seseorang terus – terusan ingin menyendiri. Maka itu kita membutuhkan “seseorang”. Siapapun yang bisa diajak bicara. Tukar pikiran, bercanda, berbagi, saling curhat, pun sedikit berdebat sekedar beradu pendapat.
ADVERTISEMENT
Saya jadi teringat sebuah film berjudul “Her”. Sebuah asisten pribadi berupa software bersuara wanita yang akhirnya dicintai pemiliknya. Otak tanpa raga yang melahirkan getaran getaran cinta.
Getaran yang lahir dari kata – kata yang kadang berupa audio atau sebaris teks. Sebaris teks dilayar ponsel namun bisa dirasakan makna dan emosinya. Seringnya bentuk komunikasi demikian saya sebut sebagai Frekuensi.
Dalam terjemahan bebas wikipedia frekuensi adalah ukuran jumlah putaran ulang peristiwa dalam tiap detik dengan satuan Hertz (Hz). Dalam kehidupan dan diri manusia yang saya menyebutnya “ Frekuensi Diri “ . Bisa berupa hobi , minat, pekerjaan, rutinitas sehari-hari, buku, musik yang digemari, karakter yang di idolakan dan seterusnya.
ADVERTISEMENT
Kesamaan frekuensi ini bisa terjadi secara kebetulan atau memang upaya dari kedua belah pihak. Misalkan ketika saya berkenalan dengan seseorang saya menanyakan hal – hal tentang dia agar proses dialog berlanjut.
Mencari – cari pengetahuan tentang hal yang berkaitan dengan hobi, pengalaman dan pekerjaannya adalah upaya saya untuk “ menyamakan frekuensi” dan ketika saya gagal maka saya tidak berkomunikasi dengan baik.
Hal ini seringkali terjadi pada orang – orang yang introvert. Saya tidak tahu tempat tinggalnya, tidak memahami pekerjaannya, hobinya dan sebagainya. Selanjutnya saya akan kehilangan bahan untuk berkomunikasi atau bisa jadi frekuensi seseorang itu tidak bisa saya jangkau.
Mungkin juga saya kehilangan hasrat untuk menyesuaikannya atau memang sengaja saja tidak ber-upaya. Saya mungkin hanya menunggu di dekati dan diajak berkomunikasi. Namun yang lebih miris adalah memang seseorang tersebut tidak berkenan dengan saya.
ADVERTISEMENT
Kepada suami sendiri saya cukup berjuang keras dalam menyamakan frekuensi.ibarat menggeser – geser gelombang radio agar menemukan frekuensi yang pas.
Dengan banyak sekali aspek perbedaan kami, apa jadinya rumah tangga kami tanpa perjuangan salah satu atau kedua belah pihak untuk saling berupaya menyamakan frekuensi ? begitu juga saya terhadap orang lain.
Saya cukup peka jika orang lain tidak nyaman dengan keadaan atau sikap saya, maka saya akan terus berusaha membuat mereka nyaman. Banyak cara. Membuat mereka tertawa, tersenyum, memenuhi apa yang mereka butuhkan akan terus saya lakukan. Kecuali saya ngambek dan lelah.
Jadi Equalizing yang saya maksud adalah upaya tanpa henti, tanpa lelah, untuk mensejajarkan rasa terhadap keadaan, selera, pemikiran, keberpihakan, style, intonasi, sudut pandang, empati, agar kita lebih mudah memaklumi, memaafkan, melancarkan komunikasi, menyambung silaturahmi, rendah hati, membuat orang lain senang dengan diri dan keadaannya, membuat orang lain termotivasi, membuat mereka berharga , menjadi penting , membuat orang lain entah pada yang lebih tua atau lebih muda juga sebaya menjadi nyaman dengan keberadaan kita.***
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white