News
·
17 Januari 2021 16:03

Hubungan Internasional pada Dinasti Daulat Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah

Konten ini diproduksi oleh Umu Nusaibah
Hubungan Internasional pada Dinasti Daulat Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah (501101)
searchPerbesar
Peta diplomasi Dinasti Daulat Abbasiyah (wikimedia.org)
Praktik hubungan internasional terjadi pertama kali di dunia Islam sejak Perjanjian Hudaibiyah antara pemerintahan Rasulullah di Madinah dan Quraisy di Mekah. Berawal dari perjanjian inilah gencatan senjata dilakukan oleh kedua pihak, para ilmuwan Islam menyebutkan bahwa gencatan senjata tersebut adalah konsep hubungan internasional.
ADVERTISEMENT
Selain Perjanjian Hudaibiyah, praktik hubungan internasional lainnya dalam Islam juga terdapat dalam perjanjian hidup bertetangga rukun dengan umat Nasrani, Yahudi dan Majusi di Madinah. Rasulullah juga mengirimkan surat kepada para penguasa di berbagai wilayah yang merupakan contoh praktik diplomasi. Semakin luasnya ekspansi Islam ke berbagai wilayah praktik hubungan internasional terus dilakukan pada setiap dinasti.

Hubungan Internasional Dinasti Daulat Umayyah

Khalifah pertama dinasti Umayyah adalah Mu'awiyah yang dinobatkan di Iliya' (Yerussalem) pada 40 H/600 M. Dengan penobatan tersebut, Damaskus ibu kota provinsi Suriah, berubah menjadi ibu kota kerajaan Islam. Mu'awiyah dengan leluasa mengerahkan pasukannya menyerang Bizantium di Barat Laut. Selain itu, kekuasaan Mu'awiyah berhasil melakukan ekspansi ke Afrika Utara yang dipimpin oleh 'Uqbah ibn Nafi'. Pasukan Islam menaklukan Khurasan (663-671) dan menyerang Bukhara di Turkistan (674).
ADVERTISEMENT
Pada saat khalifah Abdul Malik bin Marwan juga memiliki kontribusi besar dalam penyebaran agama Islam, yang dibuktikan dengan berhasil dikuasainya Balkh, Bukhara, Khawarizm, Farghana dan Samarkand di Asia kecil yang saat ini masuk ke teritori negara Uzbekistan dan Kazakhstan. Penyebaran Islam juga berhasil dilakukan di Balokhistan (Khurasan sebelah Timur), Sind dan Punjab (sekarang Pakistan).
Kemudian pada masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik menjadi puncak peristiwa besar dalam penyebaran Islam yaitu perluasan wilayah kekuasaan dari Afrika Utara menuju wilayah Barat Daya, benua Eropa, yaitu tahun 711 M. Perluasan wilayah ini sampai ke Andalusia (Spanyol) dibawah panglima Thariq bin Ziad. Pasukan Panglima Thariq bin Ziad berhasil meraih kemenangan sehingga menguasai kota Cordoba, Granada dan Toledo yang merupakan wilayah kekuasaan Roderik, penguasa Gothik yang memerintah wilayah Spanyol dan Portugal.
ADVERTISEMENT
Tak cukup sampai di situ, pada masa Khalifah Hisyam ibn Abdul Malik kesuksesan penyebaran Islam makin bersinar hingga dibukanya hubungan perdagangan dengan Eropa. Di bawah pimpinan pasukan Abdurrahman Al-Ghafiqi dari Cordoba, ibu kota kekhalifan Islam di Spanyol kekuatan Islam berhasil menguasai Sisilia dan Italia Selatan.

Hubungan Internasional Daulat Bani Abbasiyah

Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdul Abbas ash-Shaffah pada tahun 132 H/750 M sebagai khalifah pertama. Pada abad ke-9 Raja Harun Al-Rasyid khalifah kelima sudah menjalin hubungan diplomatik dengan Raja Charlemagne. Mereka menjalin persekutuan ini karena memiliki tujuan masing-masing. Kedekatan ini ditandai dengan saling bertukar hadiah dan duta besar.
Di bawah komando Harun, pasukan Arab berhasil mencapai Bosporus yang menyebabkan Ratu Irene dipaksa menandatangani perjanjian dan membayar upeti sebanyak 70-90 ribu dinar. Masa pemerintahan Harun merupakan capaian yang paling gemilang karena penguasaan daerah di seberah Taurus yang pasukannya dipimpin oleh al-Mu'tashim yang dilengkapi persenjataan lengkap dan kekuasaannya berhasil mencapai pusat daratan Romawi.
ADVERTISEMENT

Hubungan Internasional Daulat Bani Utsmaniyah

Di bawah kepemimpinan politik Sultan Alaudin II, pasukan yang dipimpin oleh Ertoghrul berperang melawan Bizantium dan berhasil mengalahkannya. Sebagai bentuk penghargaan, Ertoghrul diberi tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Bizantium kemudian menjadi Syukud sebagai ibu kota. Ertoghrul meninggak dunia pada tahun 1289, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya yaitu Utsman. Nama kerajaan Utsmaniyah diambil dari dan diperuntukkan kepada nenek moyang pertama yaitu Sultan Utsmani Ibnu Ertoghrul yang diperkirakan lahir pada tahun 1258. Penyerangan Keika bangsa Mongol kepada Kerajaan Seljuk mengakibatkan Sultan Alaudin meninggal. Setelah itu, Utsman mendeklarasikan dirinya sebagai Sultan di wilayah yang ditempatinya. Utsman bin Ertoghrul biasa disebut sebagai Utsman I.
Utsman mengirimkan surat kepada raja-raja kecil di Asia Tengah yang belum ditaklukan bahwa dirinya sekarang adalah seorang raja yang mengharuskan mereka memilih salah satu diantara tiga perkara, diantaranya Islam, membayar Jizyah dan diperangi. Setelah itu, banyak juga yang memilih memeluk Islam dan ada juga yang membayar Jizyah tetapi ada yang tetap menyerukan perlawanan dan bersekutu dengan Bangsa Tartar. Ia dan putranya Orkhan tak gentar melawan perlawanan Bangsa Tartar dan berhasil menaklukan bangsa tersebut. Setelah Bangsa Tartar ditaklukan banyak penduduknya yang memeluk agama Islam. Ia dan putranya memimpin serangan ke daerah Bizantium hingga ke selat Bosporus dan menaklukan kota Bursa pada tahun 1317 M, kemudian pada tahun 1326 dijadikan sebagai pusat kerajaan.
ADVERTISEMENT
Ia terus melakukan perluasan ke daerah Eropa. Selanjutnya ia dapat menaklukan Adrianopel yang dijadikan sebagai pusat kerajaan baru yang sebelumnya terletak di Bursa. Dengan meluasnya kerajaan hingga ke Eropa, paus merasa cemas dan menyerukan semangat perang yang terjadi pada tahun 1369. Ekspansi Sultan Bayazid I sempat terhenti dikarenakan penyerangan yang dilakukan pasukan Timur Lenk yaitu seorang raja keturunan bangsa Mongol yang telah memeluk agama Islam yang berpusat di Samarkand. Timur Lenk bermaksud ingin mengalahkan kerajaan Utsmani. Kemudian terjadi perang besar antara keduanya. Akhirnya Timur Lenk keluar menjadi pemenang dalam perang tersebut dan mengakibatkan putra Bayazid I meninggal. Kekalahan ini membawa dampak yang sangat buruk bagi Dinasti Utsmani yang mana banyak penguasa-penguasa Seljuk di Asia kecil melepaskan diri. Tetapi setelah Muhammad I naik tahta dan memimpin, wilayah utsmani dapat disatukan kembali. Integrasi ini membuat dunia barat terkejut karena tidak menduga bahwa Utsmani akan bangkit secepat itu setelah penyerangan dari pasukan Timur Lenk.
ADVERTISEMENT
Turki Utsmani mengalami kemajuan pada masa Sultan Muhammadi II (1451-1484 M) atau Muhammad Al-Fatah. Ia lebih dikenal dengan sebutan Al-Fatih sang penakluk atau sang pembuka, karena pada masanya konstantinopel sebagai ibu kota kekaisaran Bizantium setelah berabad-abad lamanya yang sulit ditaklukan akhirnya dapat ditundukkan dan berhasil membunuh Kaisar Bizantium dalam perang yang terjadi pada tahun 1453 M. Kemenangan ini adalah kesuksesan terbesar dan ia menggantikan nama konstantinopel menjadi Istanbul sebagai ibu kota. Pada masa ini perekonomian mengalami kemajuan yang pesat berkat kontrol wilayah jalur perdagangan antara Eropa dan Asia.
Pada masa pemerintahan Sulaiman (Al-Qanuni) bin Salim merupakan puncak perluasan dan kebesarannya. Ia menguasai Beograd, kepulauan Rodhesia, semenanjung Krym dan ibukotanya Valachie, menerobos Eropa hingga sampai Wina ibu kota Austria. Ia melakukan pengepungan dua kali menaklukkan Hungaria. Bahkan ia menaklukkan Mesir, Afrika Utara hingga ke Al-Jazair, di Asia hingga Persia yang meliputi lautan Hindia, Laut Arab, Laut Merah, Laut Tengah dan Laut Hitam. Ia digelari Al-Qanuni karena jasanya dalam mengkaji dan menyusun kembali sistem undang-undang kesultanan Turki Utsmani dan pelaksanaannya secara teratur serta tanpa kompromi menyesuaikan dengan latar belakang sosial dan budaya masyarakat yang berbeda-beda.
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white