Konten dari Pengguna

Dosen UMY Dampingi KWT Bukle Olah Limbah Kotoran Ayam Jadi Pupuk

UMY Mengabdi

UMY Mengabdi

Berita tentang UMY

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari UMY Mengabdi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dosen UMY Dampingi KWT Bukle Olah Limbah Kotoran Ayam Jadi Pupuk
zoom-in-whitePerbesar

Tim pengabdian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dampingi Kelompok Wanita Tani (KWT) Bukle Klegung, Donokerto, Turi, olah limbah kotoran ayam di Sleman, Sabtu (18/4). Kegiatan ini menyoroti pengelolaan limbah kotoran ayam sebagai upaya mendukung kemandirian pangan sekaligus mengurangi dampak lingkungan.

Dr. Septi Nur Wijayanti menjelaskan, sektor peternakan ayam petelur memiliki peran besar dalam pemenuhan protein hewani. Namun, tingginya produksi telur juga diikuti oleh meningkatnya limbah kotoran ayam yang belum dikelola optimal. “Satu ekor ayam bisa menghasilkan sekitar 80–100 gram kotoran per hari. Jika tidak dikelola dengan baik, ini bisa menjadi masalah lingkungan,” ujarnya.

Menurutnya, limbah tersebut justru berpotensi diolah menjadi pupuk organik bernilai ekonomi. Hal ini menjadi fokus sosialisasi kepada anggota KWT Bukle agar limbah tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sumber daya.

Sementara itu, Dr. Agus Nugroho Setiawan memaparkan bahwa limbah peternakan terdiri dari padat, cair, dan gas, dengan kotoran ayam sebagai komponen terbesar. Ia menilai kotoran ayam memiliki keunggulan dibandingkan kotoran ternak lain karena kandungan unsur hara seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) yang lebih tinggi. “Selain itu, kadar airnya cukup tinggi sehingga lebih mudah terurai dan cepat menyediakan nutrisi bagi tanaman, terutama untuk sayuran dan palawija,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, tim dari UMY tidak hanya memberikan penyuluhan, tetapi juga menyerahkan bantuan alat berupa komposter yang dirancang lebih aplikatif. Alat ini memungkinkan pengolahan limbah menjadi pupuk organik padat dan cair.

Dengan dukungan pengetahuan, keterampilan, dan peralatan tersebut, anggota KWT diharapkan mampu mengolah limbah secara mandiri. Dalam jangka pendek, pupuk yang dihasilkan bisa digunakan untuk kegiatan budidaya tanaman. Sementara dalam jangka panjang, produk pupuk berpotensi dikemas dan dipasarkan melalui unit usaha KWT.

Ketua KWT Bukle, Dwi Prasetyo Ningsih, menyampaikan apresiasi atas kontribusi UMY. Ia menilai kegiatan ini memberi manfaat nyata bagi kelompoknya. Antusiasme anggota juga terlihat dari banyaknya pertanyaan dan diskusi selama pelatihan berlangsung. Program ini diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

Editor: Fildasari