Dosen UMY Kenalkan Model Pengelolaan Limbah Pangan RI ke Komunitas Jepang

Berita tentang UMY
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari UMY Mengabdi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Model pengelolaan limbah pangan rumah tangga berbasis praktik masyarakat Indonesia menarik perhatian komunitas Jepang. Topik ini diangkat dalam workshop Indonesia–Jepang yang digelar tim Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Kota Gifu, Prefektur Gifu.
Kegiatan bertajuk "Indonesian Model of Household Food Waste Management" ini merupakan bagian dari program pengabdian internasional yang bekerja sama dengan Gifu Gaikokujin Support Center. Workshop diikuti masyarakat Jepang serta warga asing yang tinggal di Jepang.
Dalam kegiatan tersebut, tim UMY memperkenalkan berbagai praktik pengelolaan limbah pangan di tingkat rumah tangga di Indonesia, mulai dari pemilahan sampah organik, pembuatan kompos, hingga pemanfaatan sisa makanan sebagai pakan ternak dan pupuk alami.
Ketua program, Heri Akhmadi, Ph.D., menjelaskan bahwa pengelolaan limbah pangan di Indonesia berkembang melalui pendekatan berbasis komunitas dan kearifan lokal. “Praktik ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi serta mendukung prinsip keberlanjutan,” ujarnya.
Peserta workshop menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pendekatan yang dinilai sederhana namun aplikatif. Diskusi berlangsung aktif saat peserta membandingkan praktik di Indonesia dengan sistem pengelolaan sampah di Jepang yang lebih modern.
Salah satu peserta menanyakan cara mengatasi bau dalam proses pengomposan. Menanggapi hal itu, Heri menjelaskan bahwa kelembapan bahan harus dijaga dan limbah makanan sebaiknya dicacah agar lebih cepat terurai. “Dengan begitu, tumpukan sampah tidak terlalu padat dan tidak menimbulkan bau,” jelasnya.
Apresiasi juga disampaikan Wakil Direktur Gifu Gaikokujin Support Center, Asano. Ia menilai kegiatan ini memberikan perspektif baru terkait pengelolaan limbah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Terima kasih telah berbagi ilmu bersama kami, teman-teman dari UMY,” ujarnya.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pertukaran pengetahuan lintas negara tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membuka peluang adopsi praktik berkelanjutan yang relevan dengan tantangan global. Melalui workshop ini, UMY menegaskan perannya sebagai jembatan diplomasi pengetahuan dan budaya dalam mendorong keberlanjutan lingkungan.
Editor: Fildasari
