Konten dari Pengguna

UMY Dampingi Masjid Qalbun Syakur Menjadi Masjid Hijau dan Minim Sampah

UMY Mengabdi

UMY Mengabdi

Berita tentang UMY

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari UMY Mengabdi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

UMY Dampingi Masjid Qalbun Syakur Menjadi Masjid Hijau dan Minim Sampah
zoom-in-whitePerbesar

KLATEN—Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melaksanakan Green Mosque Initiative di Masjid Qalbun Syakur, Sanggrahan, Prambanan,Kabupaten Klaten, sepanjang 2026. Bersama takmir, marbot, remaja masjid, dan jamaah, tim membangun kebiasaan ramah lingkungan melalui pengelolaan sampah dari sumbernya, efisiensi air wudu dan energi, serta penguatan tata kelola masjid.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat bertema “Transforming a Mosque into a Community-Based Green and Zero-Waste Worship Facility”. Program dirancang untuk menjawab persoalan yang ditemukan bersama mitra, antara lain sampah yang belum dipilah, penggunaan plastik sekali pakai, potensi pemborosan air wudu, serta pengoperasian lampu, kipas, dan pendingin ruangan yang belum selalu mengikuti tingkat keterisian masjid.

Ketua tim, Prof. Dr. Sukamta dari Program Studi Teknik Mesin UMY, menjelaskan bahwa masjid mempunyai posisi strategis sebagai pusat ibadah sekaligus ruang pendidikan dan pembentukan perilaku masyarakat. Karena itu, program masjid hijau tidak cukup hanya menyediakan peralatan, tetapi juga perlu menggabungkan aturan operasional yang sederhana, edukasi berbasis nilai-nilai Islam, pembagian peran, dan pemantauan yang dilakukan secara konsisten.

Pelaksanaan program menggunakan pendekatan partisipatif dalam lima tahap. Tim dan mitra terlebih dahulu melakukan observasi, diskusi kelompok, serta pemetaan awal terhadap sampah, penggunaan air wudhu, konsumsi listrik, sanitasi, dan pemahaman pemangku kepentingan. Hasil pemetaan kemudian digunakan untuk menyusun prosedur operasional, media edukasi, intervensi lapangan, pemantauan bersama, dan rencana keberlanjutan yang diserahkan kepada Tim Masjid Hijau setempat.

Pada aspek persampahan, masjid mulai menerapkan pemilahan tiga jenis sampah, yaitu organik, anorganik yang masih dapat dipulihkan, dan residu. Tempat pemilahan dilengkapi label dan petunjuk singkat, sedangkan penyelenggara kegiatan didorong mengurangi botol serta perlengkapan sekali pakai. Untuk efisiensi air, tim memperkenalkan panduan berwudu secukupnya, pemeriksaan sederhana aliran keran, dan kajian awal pemanfaatan air bekas wudu yang memenuhi syarat untuk penyiraman tanaman.

Penghematan energi dilakukan melalui pembagian zona dan jadwal pengoperasian lampu, kipas, dan pendingin udara berdasarkan aktivitas aktual. Pendekatan ini sesuai dengan karakter Masjid Qalbun Syakur yang ramai pada waktu salat dan kegiatan tertentu, tetapi lebih lengang di luar waktu tersebut. Penggunaan lampu LED, sensor okupansi, dan pembangkit listrik tenaga surya atap ditempatkan sebagai opsi pengembangan bertahap sesuai kebutuhan dan kemampuan masjid.

Sebanyak 30 perwakilan takmir, marbot, remaja masjid, dan jamaah mengikuti evaluasi pengetahuan. Data evaluasi awal menunjukkan nilai rata-rata meningkat dari 60,8 menjadi 87,2, sedangkan peserta yang memperoleh nilai sekurang-kurangnya 75 bertambah dari 20 persen menjadi 90 persen. Angka tersebut masih bersifat pendahuluan dan akan diverifikasi kembali menggunakan lembar jawaban peserta sebelum dipublikasikan sebagai hasil empiris final.

Program menghasilkan prosedur operasional pengelolaan sampah, panduan penghematan air wudu, panduan operasi energi, media pengingat, fasilitas pemilahan, instrumen pemantauan, dan pembentukan Tim Masjid Hijau. Takmir bertindak sebagai pemilik kebijakan, marbot menjalankan rutinitas teknis harian, remaja masjid menjadi agen kampanye dan edukasi sebaya, sedangkan jamaah menerapkan kebiasaan baru sekaligus memberikan umpan balik.

Kendala utama pada tahap awal adalah belum konsistennya pemilahan sampah. Beberapa jamaah masih menempatkan sampah pada wadah yang tidak sesuai, terutama ketika kegiatan berlangsung ramai. Tim dan mitra menanganinya melalui edukasi berulang, penyederhanaan petunjuk, perbaikan label, serta pendampingan langsung oleh takmir dan remaja masjid.

Tahap berikutnya akan diarahkan pada penguatan pemantauan kepatuhan, pengembangan pengomposan sampah organik, pengurangan plastik sekali pakai, pengukuran penggunaan air dan listrik secara lebih teratur, serta replikasi program di masjid lain. Keberlanjutan program dijaga melalui penyerahan SOP dan instrumen pemantauan kepada Tim Masjid Hijau, evaluasi rutin setiap bulan, dan pendampingan terbatas setelah program.

Program dilaksanakan oleh Sukamta, Mujiyana, dan Ardhian Prima Azzahroh dari Program Studi Teknik Mesin UMY; Tri Hastuti Nur Rochimah dari Program Magister Komunikasi dan Media UMY; serta Joko Priyana dari Universitas Negeri Yogyakarta. Kegiatan didukung Direktorat Riset dan Pengabdian UMY sebagai bagian dari komitmen catur darma Perguruan Tinggi Muhammadiyah untuk menghadirkan kampus yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.