Konten dari Pengguna

UMY Perkuat Dakwah Internasional Melalui Budaya Indonesia-Jepang

UMY Mengabdi

UMY Mengabdi

Berita tentang UMY

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari UMY Mengabdi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

UMY Perkuat Dakwah Internasional Melalui Budaya Indonesia-Jepang
zoom-in-whitePerbesar

Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Twediana Budi Hapsari, Ph.D., berpartisipasi dalam forum dakwah internasional bertajuk “Empowering Japanese Muslims: Faith, Culture, and Innovation”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Japan Da’wah Centre bekerja sama dengan UMY pada Minggu (12/4/2026) di Osaka, Jepang.

Forum yang diikuti sekitar 20 peserta tersebut menghadirkan akademisi dan praktisi untuk memperkuat peran dakwah dalam konteks masyarakat Muslim Jepang. Dalam forum tersebut, Twediana tampil sebagai salah satu pembicara yang memaparkan peran media dan budaya dalam menyampaikan nilai-nilai keislaman secara kontekstual dan inklusif.

Dalam presentasinya yang berjudul “The Role of Traditional Media in Promoting Religious and Cultural Values: A Comparative Study of Indonesia and Japan”, ia menjelaskan bahwa di Indonesia, seni telah lama digunakan sebagai medium dakwah yang efektif. Salah satu contohnya adalah metode dakwah Sunan Kalijaga melalui media wayang.

Menurutnya, wayang tidak hanya menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga merangkul budaya lokal tanpa menghilangkan identitasnya. Nilai-nilai moral, simbolisme, serta narasi tentang kebaikan dan keburukan disisipkan secara halus dalam pertunjukan. Hal ini menjadikan seni sebagai sarana edukasi yang komunikatif dan membumi, sehingga masyarakat lebih mudah menerima pesan dakwah.

Lebih lanjut, Twediana membandingkan konsep tersebut dengan praktik seni di Jepang, seperti shodo (kaligrafi), yang menekankan aspek meditasi dan kesadaran spiritual. Dalam tradisi Jepang, seni dipahami sebagai jalan (do) untuk mencapai harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Ia menekankan adanya titik temu antara kedua budaya tersebut, yakni menjadikan seni sebagai bentuk penghormatan terhadap sesuatu yang lebih besar sekaligus sarana refleksi diri. Twediana juga menyoroti bahwa seni tradisional tetap relevan sebagai media dakwah di era modern karena sifatnya yang universal, lembut, dan mampu menjembatani perbedaan budaya.

Sebagai contoh, ia mengangkat komik digital sebagai pendekatan yang mampu menghubungkan unsur seni modern dan tradisional. Melalui forum ini, Twediana menegaskan bahwa seni dapat menjadi gerbang untuk memahami kedalaman spiritualitas seseorang.

Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi budaya antara Indonesia dan Jepang dapat memperkuat pemahaman tentang Islam yang penuh kasih (rahmatan lil ‘alamin).

Melalui kegiatan ini, Direktorat Riset dan Pengabdian UMY juga mendorong lahirnya inovasi dakwah yang adaptif terhadap konteks global, khususnya bagi komunitas Muslim minoritas seperti di Jepang. Ke depan, kerja sama antara UMY dan Japan Da’wah Centre diharapkan dapat berkembang dalam bentuk pertukaran akademik, produksi media dakwah kreatif, serta program pemberdayaan komunitas Muslim yang berkelanjutan. (RZ) Editor: Fildasari