Analisis Dampak Kematian Ayatollah Khamenei dan Eskalasi Konflik di Timur Tengah

Mahasiswa Filsafat-2025 Universitas Gadjah Mada
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Unepanus Katpum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Serangan Israel-AS terhadap Iran pada 28 Februari 2026 memiliki motif yang kompleks dan beragam. Menurut sumber, serangan ini bertujuan untuk menghilangkan ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh program nuklir dan rudal Iran, serta menggulingkan rezim Iran yang dianggap sebagai "sumber kejahatan" di Timur Tengah.
Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa AS telah melancarkan serangan terhadap Iran bersama dengan Israel, dan menyerukan kepada para anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk meletakkan senjata mereka dengan imbalan kekebalan hukum. Serang tersebut berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Kematian tersebut telah memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik di Timur Tengah. Konflik ini berpotensi mengganggu stabilitas energi global, karena Iran mengancam akan memblokir Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dan gas.
Serangan yang menewaskan Khamenei dilakukan dengan menggunakan rudal dan drone, menargetkan kompleks kediaman Khamenei di Teheran (The Guardian, 2026). Warga Iran sangat marah dan berkabung atas kematian Khamenei. Pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari (BBC News, 2026).
Militer Iran, termasuk Garda Revolusi Islam (IRGC), berjanji untuk membalas serangan ini (The New York Times, 2026). Beberapa komandan baru telah ditunjuk untuk menggantikan posisi yang kosong, termasuk Abdolrahim Mousavi sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran dan Mohammad Pakpour sebagai pemimpin baru IRGC (Al Jazeera, 2026).
Reaksi internasional sangat beragam, dengan beberapa negara mengecam serangan ini, sementara yang lain mendukung tindakan Israel-AS (Reuters, 2026). Argentina, di bawah Presiden Javier Milei, memuji operasi militer ini, sementara China mendesak penghentian serangan (BBC News, 2026).
Dampak konflik ini sangat besar, termasuk krisis energi global, kerusakan infrastruktur, korban jiwa, dan ketegangan global (Kemp, 2026). Konflik ini dapat memicu perang proksi antara Iran dan Israel, serta melibatkan negara-negara lain seperti AS, Rusia, dan China (The Guardian, 2026).
