Krisis Air di Desa Baturetno! Mahasiswa MMD UB Menghadirkan Inovasi Teknologi

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Brawijaya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Uni Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kelompok 09 Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya telah melaksanakan sosialisasi prototipe alat penampungan air hujan dan sumur resapan di Dusun Benel dan Dusun Nampes, Desa Baturetno, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Kegiatan berlangsung selama dua hari yakni pada Jumat (11/7/2025) dan Jumat (18/7/2025), yang diikuti oleh kelompok tani setempat.
Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan, Bapak Safarudin Hisyam Tualeka, S.Tr.Kom., M.A.B., kegiatan ini menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa dalam mendukung pembangunan infrastruktur desa yang berkelanjutan.
Dalam pelaksanaan kegiatan ini, beberapa anggota tim turut berperan sebagai pemateri sesuai dengan bidang keilmuannya. Siti Nida Alia dari Teknik Pengairan dan Nazrey Zaidan dari Teknik Mesin menjadi pemateri terkait kolam penampungan dan sumur resapan. Materi monitoring kualitas air disampaikan oleh Indah Nakfiyana Lestari dari Manajemen Sumber Daya Perairan, sementara visual booklet dan infografis disusun oleh Nisrina Jasmine dari Desain Grafis.
Desa Baturetno sendiri masih menghadapi persoalan kekeringan lahan pertanian saat musim kemarau akibat terbatasnya sumber air irigasi. Air hujan yang seharusnya dapat dimanfaatkan sering kali terbuang percuma. Selain itu, pemahaman petani terhadap kualitas air dan kondisi embung yang ideal juga masih terbatas. Hal ini menjadi latar belakang dilaksanakannya sosialisasi pemanfaatan air hujan melalui kolam penampungan air hujan dan sumur resapan.
Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman petani mengenai pemanfaatan air hujan sebagai solusi alternatif irigasi melalui kolam penampungan dan sumur resapan, serta pentingnya menjaga kualitas air dan mengenali kondisi embung yang baik.
Dalam sesi diskusi, para peserta menyampaikan kendala, termasuk keterbatasan lahan untuk pembangunan kolam penampungan air hujan. “Soalnya lahan itu sudah dipakai banyak orang, jadi untuk membuat hal seperti itu tidak memungkinkan,” ujar Pak Yunus, salah satu petani dari Dusun Benel.
Masukan juga datang dari Pak Miskan, petani asal Dusun Nampes. Ia menilai tanggul penampungan air masih terlalu pendek. “Tanggulnya ini ketinggiannya kurang, ini terlalu pendek jadi kurang airnya,” ungkapnya.
“Masukan dan kendala yang disampaikan oleh warga menjadi bahan evaluasi penting untuk pengembangan desain kolam penampungan air hujan ke depannya, agar lebih efektif dan sesuai dengan situasi di lapangan.” ujar Siti Nida Alia, penanggung jawab program kerja.
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut, tim pelaksana membagikan prototipe alat, booklet edukatif, dan poster infografis kepada masyarakat. Program ini menjadi wujud kolaborasi antara mahasiswa dan warga desa dalam menghadapi tantangan lingkungan melalui teknologi sederhana yang aplikatif.
#kelompok 09 MMD UB
#MMD
#sdgs9
#baturetno
