Biopelumas: Solusi Inovatif dan Berkelanjutan Pengganti Pelumas Konvensional

Dosen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Andalas
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ira Desri Rahmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Konsep baru seperti ekonomi sirkular, kimia hijau, dan praktik berkelanjutan telah menjadi populer dalam beberapa tahun terakhir sebagai akibat dari peningkatan perhatian dunia terhadap keberlanjutan dan masalah lingkungan. Biopelumas muncul sebagai solusi inovatif yang mengikuti tren keberlanjutan. Biopelumas, yang dibuat dari minyak nabati dan bahan baku terbarukan lainnya, adalah alternatif ramah lingkungan untuk pelumas konvensional berbasis minyak bumi.
Biopelumas adalah pelumas yang terbuat dari minyak nabati seperti kelapa sawit, minyak jarak, minyak bunga matahari, minyak kedelai, dll. Biopelumas mudah terurai secara hayati dan ramah lingkungan karena sifat bahan dasarnya. Seperti pelumas konvensional berbasis minyak bumi, fungsi utamanya adalah mengurangi keausan, mencegah karat dan oksidasi, dan melindungi dari kontaminan seperti kotoran, debu, dan air.
Biopelumas tersedia dalam berbagai bentuk (padat, cair, atau semi-padat), sehingga dapat digunakan untuk berbagai aplikasi, baik di sektor otomotif (oli mesin, oli gardan, minyak transmisi, minyak rem, dll.) maupun industri (minyak mesin, hidrolik, kompresor, dll.)
Biopelumas menawarkan beberapa keunggulan dibandingkan pelumas konvensional berbasis minyak bumi, antara lain:
Berasal dari bahan baku alami menjadikan biopelumas lebih ramah lingkungan dan mudah terurai secara alami.
Menghasilkan sedikit produk samping yang berbahaya dan produk samping tersebut dapat di daur ulang dalam proses produksi biopelumas.
Viskositas dan kemampuan pelumasan yang lebih tinggi , sehingga lebih stabil terhadap perubahan suhu dan memastikan kinerja pelumasan yang optimal dalam berbagai kondisi.
Titik nyala dan titik bakar yang lebih tinggi , sehingga meningkatkan keamanan selama penyimpanan dan transportasi serta mengurangi risiko kebakaran.
Namun, biopelumas juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain:
Kandungan asam lemak jenuh dapat menurunkan kinerja biopelumas pada suhu rendah, sehingga membatasi potensinya di pasar global.
Paparan terhadap kelembapan dapat memicu hidrolisis, meningkatkan kadar asam lemak bebas dan risiko korosi.
Stabilitas oksidatif biopelumas umumnya rendah. Oksidasi selama penyimpanan atau penggunaan dapat menyebabkan perubahan sifat yang tidak diinginkan.
Meskipun industri produk berbasis hayati (biopelumas) menawarkan banyak manfaat ekonomi dan lingkungan, beberapa tantangan masih perlu diatasi, terutama di negara-negara industri dan berkembang. Tantangan tersebut meliputi potensi biaya produksi yang tinggi, kurangnya dana untuk investasi teknologi, dukungan kebijakan yang tidak memadai, fluktuasi harga bahan baku, kinerja logistik, dan daya saing industri.
Untuk mengatasi tantangan ini dan mendorong pertumbuhan industri biopelumas, diperlukan upaya kolaboratif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, industri, lembaga penelitian, dan konsumen.
