Cerita Saudara Kembar Asal Lampung Kuliah Bersama di Kedokteran UAD

Informasi terkini Universitas Ahmad Dahlan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari NEWS UAD tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memiliki saudara kembar yang melangkah di jalan kehidupan yang sama selalu menghadirkan cerita yang unik. Hal itulah yang dirasakan oleh Hernanda Puspita dan Herninda Puspita. Dua mahasiswa baru asal Lampung Tengah ini resmi bergabung sebagai bagian dari Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD).
Keunikan sepasang saudara kembar ini sudah dimulai dari nama panggilan mereka, yakni Nanda dan Ninda. Walau lahir lebih dulu, Nanda justru dipanggil adik, sedangkan Ninda yang lahir beberapa menit setelahnya disapa dengan panggilan ‘mbak’. Tradisi dan kepercayaan adat Jawa di keluarga mereka menjadi latar belakang di balik sapaan unik tersebut.
Menariknya, kebersamaan mereka bukan hal baru. Sejak jenjang TK, SD, hingga SMA, keduanya selalu berada di sekolah yang sama. Kini, takdir kembali memepertemukan Nanda dan Ninda di program studi serta kampus yang sama.
“Menurut saya, perjalanan ini menjadi sesuatu yang istimewa, karena sejak kecil kami tumbuh bersama, belajar bersama, dan saling menemani dalam mengejar cita-cita,” tutur Nanda.
Keduanya Berkomitmen Mewujudkan Cita-Cita di Bidang Kesehatan
Minat terhadap dunia medis sudah tertanam di diri Nanda dan Ninda sejak kecil. Dukungan penuh dari orang tua semakin menguatkan tekad mereka untuk menempuh pendidikan dokter. Pilihan jatuh kepada FK UAD karena keunggulan spesifik yang ditawarkan, yakni integrasi antara kedokteran dan kebencanaan dan nilai-nilai keislaman.
“Alasan utama saya memilih Fakultas Kedokteran di Universitas Ahmad Dahlan adalah karena institusi ini menawarkan keunggulan spesifik di bidang kedokteran kebencanaan yang diintegrasikan dengan nilai-nilai keislaman. Hal ini menjadikan lulusannya tidak hanya kompeten secara medis, tetapi juga siap terjun dalam situasi darurat dan memiliki karakter akhlak yang kuat,” jelas Ninda.
Bagi mereka, fokus tersebut menjadi nilai tambah yang sangat krusial. Keduanya berharap dapat menjadi tenaga medis yang tidak hanya kompeten dan amanah, tetapi juga tanggap dalam situasi tanggap bencana serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Pilihan mereka untuk berkuliah di tempat yang sama juga menyulut rasa sukacita dari pihak keluarga dan teman-teman. Banyak yang menilai kehadiran saudara kembar dalam satu ruang kuliah akan memudahkan proses adaptasi.
Dinamika Masa Orientasi P2K dan Pengalaman Menggelitik
Selama mengikuti rangkaian Program Pengelanan Kampus (P2K) UAD, kehadiran Nanda dan Ninda kerap mencuri perhatian. Pertanyaan seperti, “Kalian kembar ya?” atau “Apa bedanya kalian?” sudah menjadi santapan sehari-hari dari teman-teman baru maupun panitia P2K yang penasaran. Tak jarang, kemiripan paras mereka memicu momen salah panggil yang menggelitik. Salah satu kejadian berkesan terjadi saat berada di Masjid Islamic Center (IC) UAD. Seorang panitia pendamping P2K sempat menarik Ninda karena mengira dirinya adalah Nanda dari kelompok Cardiovascular.
“Waktu itu, seorang kakak pendamping memanggil dan menarik saya karena mengira saya adalah Nanda dari kelompok Cardiovascular. Saya sempat bingung karena merasa bukan berasal dari kelompok tersebut. Akhirnya saya menjelaskan kepada kakak pendamping bahwa saya bukan Nanda, melainkan Ninda dari kelompok 7 Integumen,” kenang Ninda. “Setelah menyadari kesalahannya, kami pun tertawa bersama. Kejadian seperti itu menjadi salah satu pengalaman yang berkesan dan membuat masa orientasi terasa lebih seru bagi kami sebagai saudara kembar.” Tutup Ninda sembari mengingat-ingat kejadian menggelitik tersebut.
Menjalani perkuliahan kedokteran yang padat, kebersamaan menjadi benteng saling dukung bagi Nanda dan Ninda. Mereka aktif bertukar informasi tugas, mendiskusikan materi yang rumit, hingga saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan di tengah kesibukan harian.
Kendati demikian, keduanya berkomitmen untuk tidak saling bergantung secara berlebihan. Nanda dan Ninda tetap membuka diri untuk berinteraksi luas dengan teman-teman baru serta mengeksplorasi minat pribadi masing-masing agar dapat berkembang sebagai individu yang mandiri.
Menatap perjalanan kuliah ke depan, pasangan kembar ini menetapkan target untuk meraih prestasi terbaik, memperoleh ilmu dan pengalaman sebanyak mungkin, aktif berorganisasi, dan lulus tepat waktu. Selain itu, mereka juga bertekad untuk menjadi mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang baik.
“Tetap semangat dalam setiap proses, jangan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, dan selalu ingat bahwa perjuangan hari ini adalah langkah untuk meraih cita-cita di masa depan,” pungkas mereka kompak. (Anove)
