Strategi Membangun Lembaga Konsultan Psikologi

Informasi terkini Universitas Ahmad Dahlan
Konten dari Pengguna
12 Juli 2021 10:47
·
waktu baca 1 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari NEWS UAD tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Peserta Kuliah Umum Strategi Membangun Lembaga Konsultan Psikologi yang diselenggarakan Fakultas Psikologi UAD
zoom-in-whitePerbesar
Peserta Kuliah Umum Strategi Membangun Lembaga Konsultan Psikologi yang diselenggarakan Fakultas Psikologi UAD
ADVERTISEMENT
Beberapa cara untuk membangun lembaga konsultasi psikologi adalah dengan persiapan diri, termasuk percaya terhadap diri sendiri dan bekerja profesional. Selain itu persiapan sarana dan prasarana juga diperlukan untuk menunjang lembaga konsultasi psikologi. Penjelasan tersebut disampaikan Drs. Sri Nurochmani, Psikolog., Founder Biro Psikologi Intelektualitas pada Kuliah Umum yang diselenggarakan Fakutlas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD).
ADVERTISEMENT
"Selain itu, yang perlu dilakukan adalah membangun image untuk membuka pasar. Kemudian terus belajar, dan bisa membuka diri. Setelahnya mempertahankan kualitas dengan mengikuti perkembangan pengetahuan dan teknologi serta mampu memenuhi tuntutan klien. Seperti halnya fleksibel, service excellent, dan komitmen pada lead time," ujarnya.
Sri menjelaskan, bisnis adalah kepercayaan, oleh karenanya harus dijaga mati-matian. Pengelola harus berani menolak kongkalikong untuk Hasil Pemeriksaan Psikologis (HPP) sesuai pesanan yang lumrah terjadi.
Pada acara yang berlangsung Senin (05-06-2021) via Zoom Meeting dan YouTube Fakultas Psikologi UAD, perempuan yang pernah tergabung dalam Lembaga Psikologi Diah Nusa Jakarta menjelaskan tentang membangun lembaga konsultasi psikologi, membuka pasar, membangun branding, dan strategi untuk tetap bertahan.
"Selama ini strategi membangun lembaga konsultasi merupakan salah satu materi mata kuliah manajemen bisnis konsultan psikologi. Menjadi lembaga konsultan psikologi adalah satu pilihan sebagai mahasiswa setelah menyelesaikan studi profesi. Mereka tidak perlu membuka biro ataupun lembaga psikologi tetapi bisa menjadi tenaga di beberapa biro dan perusahaan," tandasnya. (Lrs)
ADVERTISEMENT
editor-avatar-0
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020