Refleksi 81 Tahun Merdeka, Seberapa Dewasa Kita di Usia 81?

Widyaiswara BKPSDMD Kota Jambi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Untari Untari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
17 Agustus 2026 bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan. Jika Indonesia adalah manusia, tahun ini bangsa Indonesia berusia 81 tahun. Usia yang tidak lagi muda, bahkan populer dengan julukan ‘usia senja’. Dalam kehidupan manusia, 81 tahun berarti perjalanan panjang: melewati masa kanak-kanak, remaja, dewasa, berbagai krisis, keberhasilan, kegagalan, dan pengalaman yang seharusnya membentuk kematangan.
Lalu, seperti apa seharusnya sebuah bangsa pada usia 81 tahun?
Pertanyaan ini bukan untuk membandingkan negara dengan manusia secara harfiah. Ini hanya cara sederhana untuk refleksi diri melihat kembali perjalanan Indonesia melalui kacamata pertumbuhan dan kedewasaan.
Pada usia nol tahun, seorang bayi tidak dituntut melakukan banyak hal. Ia belajar bertahan, mengenali lingkungan, dan tumbuh. Begitu pula Indonesia pada 1945, tahun di mana Indonesia lahir laksana bayi yang masih nol tahun setelah menyatakan diri sebagai negara merdeka. Kemerdekaan adalah titik awal dari perjuangan untuk mempertahankan keberadaan sebuah negara yang baru lahir. Prioritasnya sangat mendasar: berdiri, bertahan, dan membangun fondasi.
Memasuki masa kanak-kanak dan remaja, seseorang mulai mengenali dirinya. Ia belajar, mencoba, membuat kesalahan, mencari arah, dan membangun identitas. Indonesia pun melewati perjalanan panjang untuk menemukan bentuk kehidupan berbangsa dan bernegara, menghadapi perubahan politik, ekonomi, dan sosial yang tidak selalu mudah, dan sejarah telah menuliskan itu.
Kemudian datang fase dewasa: bekerja, membangun, memperluas kemampuan, dan mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Delapan puluh satu tahun tentu bukan perjalanan tanpa hasil. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen pada 2025, dengan Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku mencapai Rp23.821,1 triliun. Pada tahun yang sama, Indeks Pembangunan Manusia mencapai 75,90. Umur harapan hidup saat lahir mencapai 74,47 tahun, sementara rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas mencapai 9,07 tahun.
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Ia adalah potret bahwa Indonesia telah bergerak jauh dari titik awal kemerdekaannya. Namun, kedewasaan tidak diukur hanya dari seberapa banyak yang telah dimiliki. Ia juga terlihat dari cara menghadapi persoalan.
Kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah. Pada September 2025, persentase penduduk miskin memang turun menjadi 8,25 persen atau sekitar 23,36 juta orang. Ketimpangan pengeluaran juga turun, dengan Gini Ratio sebesar 0,363. Angka-angka ini menunjukkan kemajuan, tetapi sekaligus mengingatkan bahwa masih ada masyarakat yang belum menikmati hasil pembangunan dengan tingkat kesejahteraan yang sama.
Di sinilah usia 81 tahun menjadi penting untuk direnungkan. Bukan karena pada usia ini semua masalah seharusnya sudah hilang. Tidak ada bangsa yang benar-benar bebas dari persoalan. Yang seharusnya berubah adalah cara kita menghadapi persoalan tersebut.
Bangsa yang semakin matang semestinya tidak terus menghabiskan energinya pada perdebatan yang berulang tentang persoalan yang sama. Isu agama, perbedaan pilihan, korupsi, maupun kepentingan kelompok akan selalu hadir dalam kehidupan berbangsa. Namun, perbedaan tidak harus berakhir menjadi perpecahan, kritik tidak harus diperlakukan sebagai ancaman, dan pilihan politik tidak semestinya menghapus kemampuan kita untuk tetap bekerja bersama.
Kemiskinan dan kesenjangan juga tidak cukup hanya dilihat dari angka. Di balik angka tersebut ada orang yang masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup, menyekolahkan anak, mendapatkan pekerjaan, dan memperoleh kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya. Kemajuan akan lebih berarti ketika perubahan itu benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Mungkin, inilah bentuk kedewasaan yang perlu kita renungkan di usia 81 tahun: bukan lagi sekadar seberapa jauh Indonesia telah tumbuh, tetapi seberapa matang kita menggunakan pengalaman yang pernah kita lalui untuk menghadapi tantangan yang ada di masa depan.
Saat ini, Indonesia tentu bukan lagi bangsa yang sama dengan Indonesia pada awal kemerdekaan. Kita telah belajar dari banyak perubahan, menghadapi berbagai persoalan, dan membangun banyak hal yang menjadi modal untuk melangkah lebih jauh. Catatan BPS dalam buku Statistik 80 Tahun Indonesia Merdeka, merekam capaian pembangunan dari berbagai aspek baik pemerintahan, sosial, ekonomi, hingga lingkungan. Perjalanan itu menunjukkan bahwa Indonesia tidak berdiri di tempat yang sama lagi seperti 81 tahun lalu.
Karena itu, mungkin sudah waktunya energi bangsa bergeser. Bukan berarti melupakan persoalan lama, melainkan menyelesaikannya dengan kedewasaan yang baru. Jangan sampai energi kita habis untuk mengulang perdebatan yang sama, sementara dunia terus bergerak dan tantangan baru terus bermunculan.
Pada usia 81 tahun, Indonesia tidak harus menjadi bangsa tanpa masalah. Ia justru perlu menjadi bangsa yang semakin dewasa dalam menghadapi masalah: lebih tenang dalam berbeda, lebih berpijak pada akarnya, lebih rasional dalam mengambil keputusan, lebih adil dalam membagi kesempatan, dan lebih berani memikirkan masa depan.
Seperti manusia yang semakin tua, kematangan bukan sekadar soal bertambahnya usia. Kematangan terlihat ketika pengalaman membuat kita lebih bijaksana dalam memilih apa yang perlu dipertahankan, apa yang harus diperbaiki, dan apa yang harus ditinggalkan. Delapan puluh satu tahun kemerdekaan bukan garis akhir. Ia adalah pengingat bahwa bangsa ini sudah tumbuh sangat jauh dari titik awalnya.
Kini, tantangannya bukan sekadar bagaimana Indonesia terus bertumbuh, tetapi bagaimana ia tumbuh dengan lebih matang, dewasa dan bijaksana.
