Konten dari Pengguna

Wali Kelas Pengganti Orang Tua di Sekolah

Untung rk

Untung rk

Saya menulis apa yang ada dalam pikiranku, karena saya sadar tidak mungkin menulis apa yang ada dalam pikiranmu. Selaian menulis, saya juga sebagai pendidik di SMP Negeri 18 Surabaya. Lahir di Sumenep.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Untung rk tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Awal tahun pelajaran baru adalah waktu yang tepat untuk melakukan refleksi. Dengan refleksi guru bisa mengevaluasi diri sendiri, dan merancang apa yang akan dilakukan selama satu tahun pelajaran ke depan. Dan juga melihat kekurangan dan kelebihan program yang sudah berjalan.

Dokumentasi pribadi; Memproyeksi masa depan anak didik
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi pribadi; Memproyeksi masa depan anak didik

Di akhir tahun pelajaran 2021-2022, saya melakukan refleksi khususnya tugas dan tanggungjawab sebagai Wali Kelas (Walas). Sebelumnya paradigman yang terbangun, tanggungjawab sebagai walas tak lebih sebagai urusan administratif, mengisi nilai, tanda tangan raport, dan urusan administrasi lainnya.

Selain itu, Jika ada peserta didik yang bermasalah, baik secara akademik, maupun non akademik, orang tuanya dipanggil. Itu juga menjadi tugas Walas. Dalam menangani masalah ini, biasanya walas bekerjasama dengan BK (Bimbingan Konseling). Masalah peserta didik yang masuk kategori berat, dalam penanganannya melibatkan Kepala sekolah. Baik sekadar koordinasi atau pun minta saran masukan dari kepala sekolah.

Apakah hanya itu tugas dan tanggungjawab wali kelas? Jika memang begitu, maka Walas tidak ubahnya hanya pelengkap dalam proses pembelajaran, dan pewarna derita bagi peserta didik yang bermasalah.

Pertanyaan dan pernyataan di atas sebagai titik tolak saya melakukan refleksi tugas dan tanggungjawab sebagai Walas. Saya memulainya dengan pertanyaan, apa fungsi Walas selain di atas? Saya mencari jawaban yang lebih khusus dan mendalam

Di rumah, mereka memiliki orang tua, sebagai pengasuh, guru, teladan, dan segalanya. Orang tua adalah guru utama, pembimbing utama dalam proses belajar menjalani kehidupan. Orang tua yang baik harus mampu memproyeksikan masa depan anaknya, dan membimbingnya sampai mencapai masa depan yang dicita-citakan.

Di sekolah, mereka juga memiliki orang tua. Fungsi dan tugasnya hampir sama dengan orang tua di rumah, orang tua asli mereka. Lalu siapa yang harus mengemban fungsi orang tua di sekolah? Menurut saya, Walas adalah yang paling tepat.

Di sekolah, Walas adalah pengganti orang tua di rumah. Harus bisa mengayomi, memproyeksikan masa depan anak, dan membimbingnya. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana Walas bisa memaksimalkan peran sebagai orang tua bagi mereka? Sedangkan anak-anak waktunya lebih banyak berada di rumah dibandingkan di sekolah. Bertemunya Walas dan peserta didik biasanya baru bertemu di awal tahun pelajaran.

Dari refleksi awal tahun pelajaran ini, ada tiga hal yang bisa dilakukan dalam memaksimalkan peran Walas. Yaitu; pertama, membangun komunikasi yang baik. Kedua, melakukan koordinasi. Ketiga, berkolaborasi.

Dengan komunikasi yang harmonis akan terbuka ruang kepercayaan. Dari saling percaya, dan tebuka mempermudah menyelesaikan masalah yang terjadi pada diri anak. Khususnya masalah dalam pembelajaran. Tidak menutup kemungkinan setiap anak memiliki masalah yang berbeda-beda.

Tanpa adanya komunikasi yang baik, Walas tidak mungkin tahu permasalahan anaknya dalam proses belajar di rumah. Karena belajar tidak mungkin hanya dilakukan di sekolah, justru di rumah dengan waktu yang cukup panjang harus lebih banyak melakukan proses belajar. Begitu juga sebaliknya, Walmur juga harus mendapatkan informasi dari walas.

Koordinasi yang baik juga diperlukan dalam memaksimalkan kerja Walas. Salah satunya mengurangi presepsi negatif antara Walas dan Walmur. Biasanya koordinasi dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi pada anak-anak di sekolah. Untuk memaksimalkan fungsi wakil orang tua di sekolah, Walas juga bisa membangun koordinas dalam hal rencana atau program terkait bimbingan peserta didik. Khususnya bimbingan peningkatan kemampuan pengetahuan peserta didik.

Selain membangun komunikasi yang baik dan koordinasi, tidak kalah penting adanya kolaborasi. Kerja sama antara Walas dan Walmur juga penentu suksesnya proses pembelajaran, baik di rumah atau pun di sekolah. Bagaimana pun peran orang tua adalah kunci utama anak-anak mencapai cita-citanya. Ada sebuah temuan dalam penelitian, bahwa kesuksesan anak dimulai dari dari besarnya harapan orang tua. Jika apa yang diharapkan oleh orang tua di rumah, juga menjadi harapan bagi Wali Kelas sebagai wakil orang tua di sekolah. Dibarengi dengan pendampingan dan program yang baik, insya allah, kesuksesan anak tidak akan jauh dari harapan.