Konten dari Pengguna

Sumedang: Situs Arkeologi dan Paleontologi Pleistosen Sunda

Unu Nurahman

Unu Nurahman

Pengawas SMA KCD Wilayah VIII Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Dosen FIB Unsap Sumedang

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Unu Nurahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://peta-hd.com/peta-kabupaten-sumedang/
zoom-in-whitePerbesar
https://peta-hd.com/peta-kabupaten-sumedang/

Oleh:

UNU NURAHMAN

Pengawas SMA KCD Wilayah VIII Disdik Provinsi Jawa Barat

Dosen FIB Unsap Sumedang

Sumedang yang lebih terkenal dengan julukan Kota Tahu, merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 1 Tahun 2020, Sumedang menyandang status Puseur atau Pusat Budaya Sunda (SPBS) karena memiliki akar sejarah dan tradisi kuat sebagai pewaris Pajajaran, serta perpaduan budaya Sunda dan Islam yang kental.

Nama Sunda sendiri konon diperkenalkan oleh Claudius Ptolemaeus Ahli Geografi Yunani Kuno pada sekitar tahun 150 Masehi dalam karyanya Geographike Hyphegesis, Dia menyebut adanya kepulauan bernama Sunda di sebelah timur India. Bangsa Portugis yang datang ke Nusantara pada abad ke-16 menyebut wilayah kepulauan di Asia Tenggara menjadi dua bagian besar yaitu Soenda Mayor (Sunda Besar) mencakup pulau-pulau besar seperti Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.dan Soenda Minor (Sunda Kecil) yang mencakup gugusan pulau yang lebih kecil di bagian timur seperti Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, hingga Timor.

Dengan penemuan arkeologis akhir-akhir ini, Sumedang layak menyandang status baru sebagai Situs Arkeologi Paleontologi Pleistosen Sunda. Hal ini berawal pada tahun 2004 ketika tim ahli Institut Teknologi Bandung berhasil menemukan fosil gading gajah purba stegodon trigonocephalus diperkirakan hidup di masa Pleistosen (1.5 sd 2 juta tahun yang lalu) di Desa Jembar Wangi dan Desa Darma Wangi Kecamatan Tomo. Penemuan ini sangat penting sekali untuk membuka tabir kehidupan purba di pulau Jawa karena untuk pertama kalinya fosil hewan purba era Pleistosen ditemukan di Jawa Barat.

Pada tahun 2022, tim peneliti gabungan dari Bidang Kebudayaan Disparbudpora Sumedang, Balai Arkeologi Bandung, serta dari Badan Geologi dan Paleontologi Kementerian ESDM kembali menemukan fosil hewan purba yaitu kura-kura air tawar berusia 1,5 sd 2 juta tahun, 2 jenis buaya, sapi berusia 800.000 tahun, serta perkakas kuno yang diyakini digunakan oleh manusia pada zaman itu. Sampai saat ini tercatat ada 677 fosil dan perkakas manusia purba yang ditemukan di Sumedang.

Laut dangkal di masa lalu

Pada 4 juta tahun yang lalu Sumedang merupakan bagian dari tepi laut dangkal yang membentang dari Subang hingga Pangandaran, sebuah zona yang kala itu dipenuhi pasir putih, karang, dan kehidupan laut tropis. Pada masa itu Jawa bagian tengah masih berupa laut dan rangkaian pegunungan yang sekarang ada belum terbentuk. Sekitar 1,4 juta tahun kemudian, bumi memasuki zaman es pertama. Es di kutub membesar, permukaan laut turun hingga lebih dari 100 meter. Setelah jutaan tahun menjadi laut, Sumedang akhirnya mengering dan menjadi daratan sepenuhnya

Penemuan fosil hewan laut membuktikan bahwa sekitar 2 atau 2,5 juta tahun yang lalu, Sumedang terutama kecamatan Tomo, Ujungjaya, Conggeang dan sebagian wilayah Buahdua merupakan wilayah laut dangkal laut dangkal atau laut neritik yang kemudian berubah menjadi rawa-rawa dan akhirnya menjadi daratan seperti sekarang ini. Wilayah yang berada di dekat dengan Gunung Tampomas seperti kecamatan Cimalaka merupakan zona lereng gunung api muda dan bukan daratan tua yang stabil.

Fosil hewan laut seperti gigi hiu dan kerang moluska yang ditemukan di Desa Darma Wangi disebut-sebut lebih tua dibandingkan tinggalan arkeologi yang selama ini ditemukan di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Penelitian geologi menunjukkan bahwa Lembah sungai Cisaar di Tomo sudah terbentuk 5 juta tahun yang lalu.

Sementara itu fosil kura-kura air tawar bertempurung besar yang ditemukan di Desa Jembar Wangi diperkirakan jenis geoemydidae /orlitia sp dan tercatat sebagai fosil kura-kura air tawar tertua serta paling utuh yang ditemukan di Indonesia. Sedangkan untuk fosil kura-kura darat (tortoise) tertua ditemukan di Bumi Ayu Kabupaten Brebes (Jawa Tengah) diperkirakan berjenis Megalochelys cf. sivalensis berusia sekitar 2,5–1,5 juta tahun.

Mega Fauna darat

Menurut penelitian geologi, Sumedang di era Pleistosen berada di zona busur vulkanik Sunda yang aktif akibat subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Ini sangat kontras dengan Sumedang yang sangat tenang seperti sekarang. Gunung Tampomas yang diperkirakan terbentuk sekitar 5,3 Juta yang lalu, pada masa Pleistosen masih berupa kerucut muda hasil kegiatan vulkanik Kuarter. Batuan vulkaniknya menunjukkan karakteristik magma busur kepulauan (island-arc), sesuai dengan subduksi di selatan Jawa yang menandakan aktivitas vulkanik terkait tektonik lempeng.

Daratan Sumedang di era Pleistosen dipengaruhi aliran sungai kuno yang lebih besar dan lebih lebar yaitu Sungai Cipeles purba, Sungai Cimanuk purba, dan Sistem DAS Tomo–Jembarwangi yang menyimpan banyak fosil hewan vertebrata purba.

Wilayah Tomo waktu itu merupakan bagian dari suatu dataran fluvial luas yang dibentuk oleh sungai besar Cimanuk purba. Sungai ini membawa lumpur, pasir, dan kerikil dari pegunungan selatan menuju utara. Ketika debit meningkat akibat iklim basah, sungai meluap dan menghasilkan dataran banjir luas yang menjadi habitat ideal fauna darat besar.

Lingkungan ini mirip dengan Lembah Bengawan Solo pada Pleistosen dan dataran fluvial Majalengka–Cirebon purba. Endapan fluvial ini berpotensi besar mengawetkan fosil gajah purba dan mamalia besar lainnya. Temuan fosil gading gajah jenis stegodon trigonocephalus di Tomo pada tahun 2004 merupakan fosil gajah tertua pertama yang ditemukan di Jawa Barat. Fosil gading gajah tertua di Indonesia sendiri berusia 2,58 hingga 5,33 juta dan ditemukan pada tanggal 11 Februari 2025 di situs Bumiayu Kabupaten Brebes.

Fosil gajah purba juga ditemukan di beberapa daerah yang berbatasan langsung dengan kabupaten Sumedang seperti fosil tulang stegodon berusia 1,5 Juta tahun di Terisi-Indramayu pada tahun 2020, fosil tulang ankle dan belikat stegodon berusia 1,2 juta tahun di Capanaruban-Subang pada tahun 2004 serta fosil gading stegodon dari Plestosen Awal, berusia sekitar 1,5 juta tahun lalu, di Majalengka pada 2018 dengan panjang lurus 3,30 meter dan panjang lengkung 3,60 meter.

Stegodon adalah herbivora besar, keberadaannya mengindikasikan bahwa di masa purba kawasan itu kemungkinan memiliki vegetasi memadai seperti hutan, savana, atau ekosistem campuran yang bisa menopang megafauna besar. Tak mengherankan selain fosil stegodon, di Desa Jembar Wangi terutama lembah sungai Cisaar yang secara geografis berbukit-bukit juga banyak ditemukan fosil hewan darat lainnya seperti badak, kuda nil, rusa (cervidae), sapi (leptobos)babi, dan banteng purba (bos paleosondaicus).

Menunggu fosil manusia purba

Menjadi hewan ini menjadi mamalia yang besar di zamannya, yakni masa Pleistosen, gajah stegodon secara umum memiliki tinggi tubuh hingga 3,90meter dengan berat sekitar 4-6 ton. Dari kasus penemuan fosil di beberapa tempat seperti misalnya di Sangiran dan Ngandong banyak fosil stegodon trigonocephalus ditemukan bersama homo erectus sehingga muncul dugaan menjadi makanan utama manusia purba ini.

Penemuan fosil stegodon tentunya semakin memotivasi para arkeolog untuk menemukan fosil manusia purba di daerah Sumedang. Apalagi perkakas manusia purba yang terbuat dari batu juga ditemukan di daerah itu. Penemuan fosil manusia purba di Sumedang hanya menunggu waktu. Bukan hal yang absurd, jika ditemukan usianya akan jauh lebih tua dari yang ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Selama ini, fosil manusia purba homo erectus yang pernah ditemukan di Jawa Barat yaitu fosil gigi manusia purba di Rancah (Ciamis) pada tahun 1999 dan diperkirakan berumur 516.000–606.000 tahun. Sebagai informasi actual, Fosil tertua homo erectus di Indonesia adalah fosil tulang paha, rahang, serta akar gigi manusia purba (homo erectus bumiayuensis) yang ditemukan pada tahun 2025 di Bumi Ayu dan diperkirakan berusia 1,7–1,8 juta tahun.

Temuan fosil manusia purba di Rancah memberi indikasi kemungkinan manusia sudah menghuni bagian barat Jawa sejak masa awal Plestosen, jauh lebih lama daripada banyak asumsi lama. Hasil ini memunculkan persepsi baru bahwa kedatangan manusia purba ke Jawa bisa lebih awal, dan persebarannya lebih luas termasuk Jawa Barat dibanding pandangan tradisional.

Refleksi

Meskipun belum ditemukan fosil manusia purba, Sumedang memiliki potensi besar sebagai situs paleontologi Pleistosen di Jawa Barat. Di samping letaknya di Jawa Barat, yang relatif masih kurang tereksplorasi dibanding Jawa Tengah, Temuan fosil cukup beragam, mencakup megafauna dan fauna akuatik serta Konteks geomorfologis mudah dipetakan, sehingga cocok untuk kajian stratigrafi dan paleo-lingkungan.

Temuan fosil megafauna seperti stegodon, kura-kura raksasa, crocodylian, suid, dan cervid menunjukkan keberadaan komunitas fauna yang kaya dan mirip dengan situs-situs Pleistosen utama di Jawa. Rekonstruksi paleo-lingkungan menunjukkan mosaik habitat floodplain-savana yang mendukung keragaman tersebut. Untuk mengembangkan situs ini sebagai rujukan ilmiah, diperlukan penelitian lanjutan berupa ekskavasi terukur, analisis stratigrafi, dan penentuan umur absolut.

Tak diragukan lagi sekarang Sumedang telah menjadi perhatian ahli arkeologi dan dan paleontologi baukan hanya dari Indonesia bahkan dari seluruh dunia. Sumedang adalah pusat budaya dan juga peradaban Sunda Seperti ungkapan dalam bahasa Belanda “Wie Sumedang bezoekt, begrijpt het hart van Sunda (Siapa mengunjungi Sumedang, memahami jantung Sunda).****