Konten dari Pengguna

Membangun Budaya Moral Postif di Sekolah

Upi Rahmawati

Upi Rahmawati

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Upi Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika kita ingin para murid memiliki moral yang baik,

maka sekolah sendiri harus menjadi institusi yang bermoral

-Janet Brodesser

Perkara moral sepertinya masih menjadi banyak PR dan banyak perbincangan di berbagai sekolah didunia. Dalam hal ini, peran sekolah dan warga masyarakatnya menjadi suatu hal yang harusnya dominan dalam mengajarkan nilai karakter. Seorang psikolog Ann Higgins dan Lawrence Kohlberg melakukan studi tentang bagaimana budaya moral siswa mempengaruhi moral siswa secara fungsional. Hasil laporan menunjukkan bahwa ketika sekolah berusaha menjadi “ kehidupan masyarakat”, murid akan melihat sekolah mereka sebagai lembaga yang dibangun dengan norma tingkat tinggi yaitu kepedulian dengan orang lain. Intinya pengaruh budaya moral yang diterapkan sekolah akan sangat berpengaruh terhadap moral anak bersangkutan.

Ada banyak kisah teladan berbagai kepala sekolah yang mengajarkan bagaimana sekolah dan anggota masyarakat didalamnya bisa bersama-masa membangun budaya moral yang positif. Diantaranya adalah Carl Campbell. Seorang kepala sekolah Sd Dry Creek DI California, sosok penuh kehangatan dan optimisme. Beliau punya misi sekolah yang luar biasa, yaitu untuk membantu para murid mengembangkan potensi mereka dalam lima area, yaitu akademik, atletik, performing art, keanggotaan di sekolah dan masyarakat.

Lain Campbell lain pula dengan Mayris Baddell kepala sekolah SD Sonoma Kota Modesto, California. Beliau menerapkan program Amigos. Progam yang berujuan untuk memperlakukan anak sebagaimaa anak. Sekolah mereka terdiri dari 600 isswa dengan 70 diantranya adalah anak cacat dan berkebutuhan. Siswa mendaftar untuk bisa ikut amigos, yaitu menjadi asisten teman mereka yang kurang beruntung. Mereka berteman, menjadi asisten didamanapun dan kapanpun berada mulai dari dikantin, area bermain, sampai naik turun bis. Ah, program kemanusiaan yang begitu indah.

Keteladan berikutnya muncul dari sosok Mrs. Rosemarry Culverwell yang terlibat secara langsung dalam melakukan sesuatu untuk sekolahnya. Diantara yang beliau lakukan adalah membawa lap dan kaleng penghapus cat untuk menghapus grafiti pada jam istirahat, tak lupa mengajak para siswa untuk berpartisipasi. Hal tersebut terus dilakukan hingga yang pada awalnya siswa hanya menyaksikan saja, namun berlahan mereka mulai membantu dengan sukarela. Begitulah kuatnya sebuah keteladanan.

Dari kisah ini, kita banyak belajar bahwa budaya moral positif berawal dari pihak sekolah yang peduli dengan bagaimana cara menumbuhankan nilai positif lingkungannya. Komponen kepala sekolah, guru dan masyarakat yang berkesinambungan rasanya akan menjadi bantuan dahsyat yang dapat membantu gerakan sekolah mencapai cita-cita bersama.