Konten dari Pengguna

Shrinkflation 2026: Ketika Ukuran Produk Mengecil Namun Harga Tetap 'Mencekik'

Ulfa Dilah

Ulfa Dilah

Mahasiswa program studi pendidikan ekonomi di Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ulfa Dilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com

Belanja bulanan terasa makin mahal, tapi anehnya harga di rak tidak selalu naik drastis. Jika diperhatikan lebih detail, justru ukuran produk yang berubah—lebih kecil, lebih ringan, tapi harganya tetap. Fenomena ini dikenal sebagai *shrinkflation*, dan di 2026, praktik ini makin terasa di kehidupan sehari-hari.

Shrinkflation bukan hal baru. Namun, di tengah tekanan inflasi global dan kenaikan biaya produksi, strategi ini jadi pilihan banyak produsen untuk menjaga daya beli konsumen tetap terlihat “aman”. Alih-alih menaikkan harga secara langsung, mereka mengurangi isi produk mulai dari makanan ringan, minuman, hingga kebutuhan rumah tangga.

Ukuran Menyusut, Beban Tetap

Sekilas, perubahan ini nyaris tak terasa. Kemasan masih terlihat sama, desain tetap familiar. Tapi jika dibandingkan, berat bersih atau isi produk sering kali berkurang beberapa gram atau mililiter.

Bagi konsumen, dampaknya cukup signifikan. Tanpa sadar, pengeluaran jadi lebih besar untuk mendapatkan jumlah yang sama seperti sebelumnya. Dalam jangka panjang, shrinkflation bisa menggerus daya beli, terutama bagi masyarakat dengan pendapatan tetap.

Strategi Halus Produsen

Dari sudut pandang bisnis, shrinkflation adalah cara “halus” untuk menyesuaikan harga tanpa mengejutkan pasar. Kenaikan harga yang terlalu mencolok berisiko membuat konsumen beralih ke produk lain. Dengan mengecilkan ukuran, produsen berharap konsumen tidak terlalu sensitif terhadap perubahan.

Namun, praktik ini juga memicu kritik. Banyak yang menilai shrinkflation kurang transparan dan cenderung merugikan konsumen, terutama jika perubahan tidak diinformasikan secara jelas.

Konsumen Mulai Lebih Kritis

Di era digital, konsumen kini lebih sadar. Perbandingan harga per gram atau per liter mulai jadi kebiasaan baru. Media sosial juga berperan besar dalam mengungkap produk-produk yang diam-diam menyusut.

Beberapa konsumen mulai beralih ke produk alternatif, termasuk merek lokal atau membeli dalam jumlah besar untuk menghemat biaya. Ada juga yang kembali ke pasar tradisional untuk mendapatkan harga dan kuantitas yang lebih seimbang.

Perlukah Regulasi?

Shrinkflation membuka diskusi soal perlindungan konsumen. Apakah produsen perlu diwajibkan memberi label khusus saat ukuran produk berubah? Atau cukup dengan transparansi informasi di kemasan?

Di beberapa negara, isu ini mulai mendapat perhatian serius. Regulasi yang mendorong keterbukaan dianggap penting agar konsumen tidak merasa “tertipu”.