Kumparan Logo
Konten Media Partner

102 Ribu Hektare Lahan Gambut Sumsel di Restorasi

Urban Idverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lahan gambut di Sumsel (foto: Mongabay)
zoom-in-whitePerbesar
Lahan gambut di Sumsel (foto: Mongabay)

Badan Restorasi Gambut (BRG) telah melakukan restorasi lahan gambut seluas 102.092 hektare di Sumatra Selatan yang rusak akibat kebakaran hutan (Karhutla) pada tahun 2015 lalu.

Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG, Myrna A. Safitri, mengatakan pemulihan lahan gambut yang rusak itu melalui beberapa kegiatan, salah satunya pembasahan kembali (rewetting) dan revegetasi. Selain itu, juga melakukan revitalisasi sosial-ekonomi masyarakat dan program desa peduli gambut di provinsi itu.

“Kerusakan gambut yang sangat parah memerlukan waktu panjang untuk pemulihan karena gambut belum sepenuhnya kembali pada kondisi semula,” katanya, Kamis (28/2).

Dia menjelaskan, kegiatan fisik restorasi gambut dilakukan melalui mekanisme tugas pembantuan oleh pemerintah daerah. Pada tahun 2018, BRG bersama pihak terkait telah membangun 99 sumur bor, 516 sekat kanal dan 18 upaya penimbunan kanal untuk program pembasahan ekosistem gambut atau rewetting.

“Pembasahan ekosistem gambut merupakan upaya awal pencegahan kebakaran yang rawan terjadi di lahan gambut,” katanya.

BRG mencatat penurunan titik panas secara signifikan ditemukan pada lokasi yang makin dekat dengan pembangunan infrastruktur pembahasan gambut (PIPG). Jika berada pada radius 0-1 kilometer dari PIPG, rata-rata hanya terdapat 2,4 pesen titik panas. Semakin jauh dari PIPG, hot spot bertambah. “Misanya pada jarak 1-2 km, ditemukan 5,6 persen hotspot dan pada jarak lebih dari 2 km ada 92% hotspot,” kata Myrna.

Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan BRG, Myrna A Safitri (Urban Id)

Sementara untuk revegetasi, BRG mencatat telah melakukan penanaman kembali di lahan seluas 150 ha di provinsi Sumsel. Dia melanjutkan untuk paket revitalisasi sosial-ekonomi BRG melakukan pemberdayaan warga sekitar di bidang peternakan, perikanan dan perkebunan sebanyak 26 paket.

Disisi lain, BRG menyayangkan hilangnya lima alat pendeteksi dini kekeringan lahan gambutdari total 21 unit yang ditempatkan di Sumsel. Alat yang bernama Sistem Pemantauan Air Lahan Gambut (Sipalaga) itu merupakan salah satu upaya BRG untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mudah terjadi di tanah gambut.

Kepala Pokja Edukasi dan Sosialisasi Badan Restorasi Gambut (BRG), Suwignya Utama mengatakan, pihaknya baru kali ini mengalami kehilangan alat Sipalaga sejak pemasangan dilakukan pada 2018 lalu.

“Di daerah lain belum tidak ada yang hilang, jadi untuk Sumsel tahun ini tidak ditambah dulu karena kehilangan kemarin,” katanya.

Suwignya memaparkan alat pendeteksi itu dapat menjangkau kadar kekeringan gambut hingga seluas 30 hektare per unit. Alat pemantau tinggi muka air itu akan merekam parameter tinggi muka air, kelembaban tanah dan curah hujan per 10 menit dan akan mengirimkan datanya setiap harinya ke sistem. (jrs)