Alasan 150 Nakes RSUD di Sumsel Mogok Kerja: Insentif, APD, dan Rumah Singgah

150 tenaga kesehatan (nakes) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ogan Ilir, Sumatera Selatan, menggelar aksi mogok kerja dan mengadukan masalah yang mereka hadapi ke DPRD) setempat terkait perlindungan tugas merawat pasien COVID-19.
Salah seorang perwakilan nakes berinisial P, mengatakan pemasalah itu bermula pada 15 Mei, dimana terjadi lonjakan pasien yang dinyatakan positif COVID-19 di Ogan Illir dari daerah Sungai Pinang.
Saat itu, kata dia, ada belasan pasien COVID-19 yang akan dibawa ke RSUD Ogan Ilir. Nah, 150 orang nakes yang merupakan tenaga honor ini diminta manajemen untuk bersiap menangani pasien tersebut. Tapi nakes menolak dengan alasan nama-nama mereka tidak terlampirkan di SK gugus tugas setempat.
"Awalnya kan RSUD Ogan Ilir bukan rujukan untuk penanganan pasien COVID-19. Tapi kemudian berubah setelah ada kebijakan dari bupati. Tapi perlindungan terhadap nakes tidak jelas," katanya, Selasa (19/5).
Tidak hanya itu, saat para nakes juga menanyakan pemasalah rumah singgah dan transparansi insentif, manajemen rumah sakit tak kunjung memberikan kejelasan. Tak hanya itu, sebagai garda terdepan penanganan COVID-19, nakes juga butuh perlindungan APD yang standar.
"Rumah singgah yang resresentatif itu tentu dibutuhkan untuk kami berganti pakaian dan istrirahat jika tidak pulang atau sebelum pulang kerumah," katanya.
Sementara itu, juru bicara gugus tugas penanganan COVID-19 Ogan Ilir, Wahyudi, mengatakan insentif bagi tenaga kesehatan diberikan kepada mereka yang terlibat dalam penanganan pasien terkait COVID-19. besarannya disesuaikan dengan tingkat risikonya.
"Berdasarkan rapat dengan Bupati, pemberian insentif tidak diberikan secara rata. Namun, disesuaikan setiap penanganan kasus. Itu menunjukkan keseriusan Pemerintah Daerah Ogan Ilir dalam menangani pandemi corona ini," katanya. (jrs)
****
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!
