Kumparan Logo
Konten Media Partner

Cerita Perajin Rokok Pucuk di 'Kampung Nipah', Palembang

Urban Idverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Cik Wa yang sudah menjalani usaha rokok pucuk dari daun nipah selama 22 tahun (foto: abp/Urban Id)
zoom-in-whitePerbesar
Cik Wa yang sudah menjalani usaha rokok pucuk dari daun nipah selama 22 tahun (foto: abp/Urban Id)

Selama ini daun nipah sering diketahui hanya digunakan sebagai bahan pembuat ketupat dan atap rumah. Namun, siapa sangka di Kota Palembang, Sumatera Selatan, daun nipah menjadi sumber penghasilan warga satu kampung selama turun-temurun.

'Kampung Nipah' tersebut berada di Jalan Faqih Usman, Gang Prajurit Nangyu, Kelurahan 3 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu (SU) I, Palembang. Disebut sebagai kampung nipah, karena sebagian besar warganya menggantungkan hidup dari produk olahan yang berbahan dasar daun nipah.

Salah satunya yakni Siti Hawa (61 tahun) atau warga sekitar lebih akrab menyapanya sebagai Cik Wa yang telah menggeluti usaha pengolahan daun nipah ini sejak tahun 1997 silam atau sudah berjalan sekitar 22 tahun. Cik Wa merupakan pelaku industri rumahan rokok pucuk, atau rokok linting yang dibuat dari daun nipah.

"Usaha ini sebenarnya melanjutkan usaha dari ayah terdahulu, dan alhamdulillah bisa terus bertahan hingga sekarang," katanya, Kamis (27/6).

Rokok pucuk yang dihasilkan diminati pasar mancanegara seperti Thailand dan Malaysia (foto: abp/Urban Id)

Menurutnya, di kampung tersebut tidak semua warga mengolah daun nipah menjadi rokok, ada juga yang memilih untuk mengolah daun nipah menjadi kerajinan tangan lainnya. Berbekal pengalaman dari orang tua, dirinya mencoba untuk mandiri membuka usaha rokok nipah ini. Modal pertama pun tidak terlalu besar, karena hanya berasal dari tabungan uang bekerja sebagai buruh upahan menjemur dan memotong daun nipah di tempat orang lain.

“Ya, penjualan awalnya hanya untuk permintaan sejumlah daerah, seperti Baturaja, Prabumulih, Curup (Bengkulu), dan dan Kota Bumi (Lampung),” kata Istri dari alm. Hamim Abdullah ini.

Sekitar tahun 2010, anak perempuannya turut memasarkan produk dari rokok nipah ini secara online. Hal itu pun mulai berbuah hasil, iklan yang dipasangnya di internet mendapatkan respons dari pembeli asal Malaysia. “Tapi waktu itu, baru sempat jalan sekitar dua tahun, kami sempat vakum karena permintaan diputus dengan alasan kualitas yang ditawarkan rendah,” katanya.

Daun nipah terlebih dahulu dijemur sebelum diolah menjadi berbagai produk kerajinan (foto: abp/Urban Id)

Belajar dari pengalaman, dirinya memperbaiki kualitas dari rokok nipah yang diproduksi, hingga akhirnya permintaan pasar ekspor kembali datang, bahkan tidak hanya dari Malaysia tapi juga dari Thailand. “Untuk ekspor kami cukup kewalahan, karena kami hanya mampu memproduksi sekitar 2 ton per bulan. Sementara potensi permintaan dari dua negara tersebut mencapai sekitar 10 ton per bulan,” katanya.

Alasannya, keterbatasan bahan baku dan cuaca menjadi kendala untuk memenuhi permintaan pasar internasional tersebut. Untuk bahan baku saat ini didatangkan dari sejumlah daerah di Kabupaten Banyuasin. Yakni Muara Karti, Upang, dan dari Provinsi Riau.

“Pengiriman dilakukan menggunakan Tongkang, dengan kapasitas 3.000 ikat nipah untuk satu tongkang dan pengiriman biasanya dilakukan 3 hari sekali,” katanya.

Menurut Cik Wa, ada beberapa proses yang dilalui hingga rokok nipah ini siap jual atau pun ekspor, pertama daun nipah basah tersebut terlebih dahulu harus dikeringkan selama 3-4 hari, kemudian akan pilih ukuran, dan dipotong sesuai dengan permintaan. Sebab, permintaan pasar lokal dan ekspor itu berbeda.

Selanjutnya, setelah dilakukan pemotongan, maka rokok nipah tersebut akan diasap dengan menggunakan belerang selama kurang lebih 4 jam terlebih dahulu. Hal tersebut agar rokok nipah lebih tahan lama dan tidak jamuran. “Khususnya untuk kualitas ekspor harus lebih lebih diperhatikan,” katanya.

Selain rokok pucuk daun nipah juga diolah menjadi kerajinan anyaman yang bernilai ekonomis (foto: abp/Urban id)

Cik Wa mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan ketertarikan rokok nipah di luar negeri, tapi menurutnya berdasarkan informasi dari pelaku usaha serupa, rokok tersebut dapat menjadi obat penyakit kencing manis, dan sebagainya. Sementara untuk di daerah-daerah lokal dapat dijadikan sebagai obat nyamuk ketika sedang berada di kebun.

"Alhamdulillah berkat usaha daun nipah ini juga, saya mampu mensarjanakan ketiga anak saya," katanya.

Juanda, salah satu pengusaha nipah lainnya, mengatakan lebih memilih usaha membuat kerajinan anyaman. Sebab, produksi yang dihasilkan memiliki pasar yang cukup besar. Menurutnya, usaha yang dijalankan ini juga melanjutkan apa yang telah dijalankan oleh orang tuanya.

"Sudah menjadi tradisi masyarakat kampung ini mengolah daun nipah menjadi berbagai macam kerajinan. Hingga sudah menjadi semacam ciri khas di Palembang," katanya.

Sementara itu, Armansyah, salah satu Agen dari rokok nipah, mengatakan di daerah 3 Ulu sedikitnya ada 3 Rukun Tetangga (RT) yang menjalankan usaha pengolahan daun nipah. Mulai dari kerajinan anyaman, rokok, dan sebagainya.

“Totalnya sekitar 150 pekerja, rata-rata didominasi oleh ibu rumah tangga. Usaha yang dilakukan ini, kata dia, rata-rata memang dijalankan secara turun temurun dan menjadi sumber penghasilan masyarakat sekitar," katanya. (abp/jrs)