Duduk Perkara Siswa SMK di Palembang Dituduh Pakai Narkoba dari Sekolah
·waktu baca 5 menit

Kasus dugaan fitnah terhadap seorang siswa SMKN 7 Palembang berinisial M yang disebut menggunakan narkoba terus menjadi sorotan publik. Setelah video percekcokan antara guru dan orang tua siswa viral di media sosial, Kepala Program Keahlian (Kaprodi) Teknik Sepeda Motor (TSM), Maya Handayani, akhirnya angkat bicara.
Ia menjelaskan secara rinci kronologi kejadian yang menjerat namanya, dan menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memfitnah*apalagi menyebarkan rekaman percakapan dengan siswa.
Awal Informasi dari Wali Kelas
Maya menceritakan bahwa semuanya berawal dari telepon wali kelas di suatu sore. Dalam percakapan itu, wali kelas menyampaikan bahwa salah satu siswa jurusan TSM diduga mengkonsumsi narkoba.
“Saya tanya, informasinya dari mana. Katanya dari orang tuanya dan pihak kepolisian, yakni Polda Sumsel. Saya tanya tindak lanjutnya bagaimana, wali kelas bilang biarkan saja biar kepolisian yang menyelesaikan. Saya pikir selesai di situ,” ujar Maya.
Siswa Mengaku di Hadapan Guru
Namun, pada Senin, 15 September 2025, setelah upacara bendera, wali kelas membawa siswa tersebut ke ruang Maya.
“Saat itu ada saksi dua rekan saya, Pak Rohmansyah dan Pak Lukman. Wali kelas bilang anak kita bersama siswa dari DKP sudah membeli obat terlarang,” tuturnya.
Maya kemudian menanyakan langsung kepada siswa tersebut.
“Saya tanya, ‘apa benar kamu beli narkoba?’ dan dia menjawab ‘iya, Bu’. Saya kaget, lalu saya tanya lagi, ‘terus kamu ngapain setelah itu?’ dijawabnya, ‘minum susu beruang’,” ujarnya mengenang.
Rekan guru, Rohmansyah, sempat menanyakan jenis barang yang digunakan, namun Maya mengaku tidak terlalu memperhatikan percakapan tersebut. Setelah itu, siswa dibawa ke ruang Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan.
“Saya tidak tahu apa yang dibicarakan di sana,” katanya.
Merekam untuk Klarifikasi Pribadi
Usai beberapa waktu, Maya mengaku kembali berbicara dengan siswa tersebut dan merekam percakapan itu untuk keperluan pribadi.
“Saya rekam karena bingung. Wali kelas bilang infonya dari orang tua dan polisi, tapi saya ingin tahu kebenarannya. Rekaman itu hanya untuk pribadi saya, tidak pernah saya sebarkan,” tegasnya.
Dalam percakapan tersebut, sang siswa mengaku telah menggunakan narkoba sebanyak tiga kali, bersama dua teman dari sekolah dan dua dari luar sekolah.
“Dia bilang sejak MPLS sudah pernah pakai, diajak siswa dari DKP. Katanya kalau pakai rasanya pusing. Saya bilang, kalau tahu pusing, jangan pakai lagi,” ucap Maya.
Masalah itu, kata Maya, dianggap selesai dan tidak pernah dilanjutkan.
Sekolah Beri Kebijakan: Siswa Tetap Boleh Sekolah
Beberapa hari kemudian, pada 18 September 2025, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan datang mengabari Maya bahwa kasus tersebut sudah ditangani oleh kepala sekolah.
“Anak itu diperbolehkan tetap sekolah dengan catatan mendapat poin 99 persen. Kalau sekali lagi melanggar, seperti bolos atau alpa, akan dikembalikan ke orang tua,” kata Maya.
Masalah Absensi dan Ujian MID
Sebagai Kaprodi, Maya bertanggung jawab terhadap kehadiran siswa di bengkel. Ia rutin meminta toolmen melakukan absensi harian.
“Saya lihat anak itu dua kali alpa. Saya laporkan ke Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan minta difotokan absensinya,” ujarnya.
Pada 25 September 2025, dirinya menanyakan ke wali kelas alasan ketidakhadiran siswa tersebut kepada wali kelas.
“Kata wali kelas, tanggal 24 dia datang terlambat karena ambil ijazah. Saya bilang, kenapa tidak dikonfirmasi ke guru yang mengajar supaya tidak di-alpakan. Tapi guru sudah menulis alpa empat jam berturut-turut,” jelas Maya.
Untuk tanggal 23 September, wali kelas menyebut siswa itu tidur di kelas karena sakit.
“Saya bilang, kalau sakit seharusnya izin pulang, biar jelas. Setelah saya cek ke guru yang mengajar, ternyata anak itu di-alpa-kan dan tidak ikut MID Semester. Nilainya nol,” tambahnya.
Maya menilai hal itu murni masalah kehadiran siswa, bukan lagi soal narkoba. Namun perbedaan persepsi inilah yang diduga menjadi awal munculnya ketegangan baru.
“Wali murid bilang anak itu sudah clear, tidak terbukti pakai narkoba. Tapi saya sempat bilang, saya punya rekamannya. Dari situ mulai ada salah paham,” ujarnya.
Keributan dan Video Viral
Pada Jumat, 26 September 2025, orang tua siswa datang ke bengkel TSM sekitar pukul 08.45 WIB bersama beberapa orang yang ikut merekam kejadian.
“Saya tanya, kenapa direkam. Katanya, karena pihak sekolah juga pernah memvideokan anak mereka. Saya kaget. Saya jawab, memang saya merekam, tapi itu untuk mencari kebenaran, bukan untuk disebarkan,” jelas Maya.
Perdebatan pun terjadi, dan kejadian tersebut direkam hingga video percekcokan viral di media sosial.
“Padahal di ruang kepala sekolah kami sudah klarifikasi dan saya sudah minta maaf. Bahkan poin 99 persen anak itu dihapus jadi nol persen,” katanya.
Permintaan Maaf ke Rumah Siswa
Keesokan harinya, Sabtu, 27 September 2025, Maya bersama Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, dan wali kelas mendatangi rumah siswa untuk meminta maaf secara langsung.
“Orang tuanya menerima, tapi meminta saya klarifikasi di media sosial karena katanya saya yang memviralkan video itu. Padahal saya tidak pernah menyebarkan apa pun,” ucapnya.
Permintaan Maaf di Lapangan Sekolah
Beberapa hari kemudian, 30 September 2025, orang tua siswa kembali datang ke sekolah untuk berdamai. Namun, mereka meminta Maya meminta maaf di depan seluruh siswa.
“Saya turuti. Saya minta maaf di lapangan dan menjelaskan bahwa terjadi miskomunikasi. Saya juga tanya ke siswa-siswa, apakah ada yang menerima rekaman dari saya. Mereka semua jawab tidak,” ungkap Maya.
Meski begitu, orang tua siswa disebut tidak puas dengan permintaan maaf tersebut.
“Mereka bilang saya tidak ikhlas. Padahal saya sudah minta maaf berkali-kali,” kata Maya.
Video Baru Kembali Viral
Puncaknya terjadi Senin, 6 Oktober 2025, saat orang tua siswa kembali datang ke sekolah dan merekam suasana di bengkel.
“Saya lihat mereka memvideokan kelas-kelas. Saya tidak berani menegur karena takut salah. Tapi diam saya justru direkam dan diunggah lagi dengan caption yang menyudutkan saya. Dibilang muka saya sengak dan tidak minta maaf,” ucapnya dengan nada sedih.
“Saya benar-benar bingung, permintaan maaf seperti apa lagi yang harus saya lakukan.”tambah dia.
Penegasan Maya: “Saya Tidak Pernah Fitnah”
Maya menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menuduh, mengintimidasi, atau menyebarkan rekaman siswa seperti yang dituduhkan.
“Rekaman itu hanya untuk mencari kebenaran. Saya justru merasa difitnah dan tidak mendapat perlindungan. Saya hanya ingin masalah ini selesai secara baik,” katanya.
