Film Mother Earth Jadi Jembatan Generasi Muda Muara Enim Lestarikan Adat
·waktu baca 2 menit

Suasana malam di Kecamatan Semende Darat Tengah (SDT), Kabupaten Muara Enim, berubah menjadi penuh nostalgia ketika warga dari tiga desa—Kota Agung, Palak Tanah, dan Muara Tenang—berkumpul di lapangan terbuka untuk menonton film Mother Earth: Tunggu Tubang Tak Akan Tumbang, Kedaulatan Pangan Berkelanjutan.
Pemutaran film berdurasi satu jam itu bukan sekadar hiburan, melainkan perayaan atas hidupnya kembali tradisi dan identitas masyarakat Semende.
Sejak pukul 19.30 WIB, ratusan warga telah memenuhi area pemutaran. Di bawah langit terbuka, suara tawa dan obrolan hangat menyatu dengan layar putih sederhana yang menampilkan kisah adat Tunggu Tubang—sistem pewarisan matrilineal yang menjaga keseimbangan sosial dan pangan masyarakat Semende selama berabad-abad.
Dalam budaya Semende, Tunggu Tubang adalah anak perempuan tertua yang memegang tanggung jawab terhadap rumah dan sawah warisan keluarga. Tugas itu bukan sekadar simbol, tapi wujud tanggung jawab untuk menjaga tanah sebagai sumber kehidupan bersama.
“Melalui film ini, kami ingin masyarakat Semende kembali memahami filosofi Tunggu Tubang, bahwa menjaga warisan bukan hanya soal harta, tapi juga menjaga keberlanjutan hidup,” ujar Muhammad Tohir, Ketua Ghompok Kolektif sekaligus sutradara film tersebut.
Film dokumenter ini diproduksi dengan dukungan Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, dan LPDP, dan sebelumnya sempat diputar di UIN Raden Fatah Palembang bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel.
Bagi warga desa, terutama generasi tua, pemutaran film dengan konsep layar tancap menghadirkan nostalgia masa lalu.
“Dulu layar tancap sering diadakan, tapi kali ini berbeda karena kami menonton cerita tentang adat kami sendiri,” tutur Eliana (46), seorang Tunggu Tubang dari Desa Kota Agung dengan mata berkaca-kaca.
Sementara bagi anak muda seperti Siska Damaiyanti (24) dari Desa Palak Tanah, pengalaman ini menjadi hal baru yang menggugah.
“Film ini membuka mata kami. Kami jadi tahu betapa berharganya adat kami sendiri. Layar tancapnya juga seru, seperti menyatukan seluruh kampung,” ujarnya antusias.
Camat SDT, Zulfikar, mengapresiasi kegiatan tersebut karena bukan hanya menampilkan karya film, tapi juga menghidupkan kembali tradisi media rakyat yang mulai hilang.
“Ini bukan hanya pemutaran film, tapi gerakan budaya. Warga kembali merasakan kebersamaan lewat layar tancap dan sekaligus mengenal kembali adat Tunggu Tubang,” katanya.
Tohir berharap kegiatan ini menjadi inspirasi bagi komunitas lain untuk menjadikan film dan media visual sebagai sarana pendidikan budaya di daerah masing-masing.
“Film bisa jadi cara baru untuk berbicara tentang warisan lama,” ujarnya singkat.
