Kerbau Rawa Pampangan, Ikon Baru Kuliner dan Ekonomi Lokal Sumsel
·waktu baca 2 menit

Dari rawa-rawa Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel, muncul potensi besar yang kini mulai dilirik yakni kerbau rawa. Hewan tangguh yang selama ini identik dengan kehidupan sawah dan pedesaan, kini dinilai bisa menjadi ikon kuliner dan penggerak ekonomi lokal.
Dokter Hewan Ahli Madya Provinsi Sumsel, Jafrizal, menyebut pengembangan daging kerbau sebagai bahan baku kuliner bukan sekadar tren, melainkan strategi ekonomi berbasis kearifan lokal.
“Gerakan kuliner kerbau ini bukan hanya soal rasa, tapi kemandirian ekonomi masyarakat. Dari dapur ke kandang, dari meja makan ke sawah — semua bisa bergerak bersama,” ujarnya, Selasa (21/10/2025).
Menurut Jafrizal, daging kerbau tidak kalah dengan sapi dalam hal rasa dan kualitas gizi. Teksturnya yang lebih padat dengan kadar lemak rendah menjadikannya bahan favorit untuk berbagai olahan khas Nusantara, seperti rendang kerbau, pindang kerbau, soto kerbau, hingga sop buntut kerbau.
“Selain gurih, daging kerbau juga lebih sehat karena kandungan lemaknya rendah. Ini bisa jadi daya tarik kuliner baru,” tambahnya.
Sumsel sendiri memiliki keunggulan genetik berupa plasma nutfah kerbau rawa Pampangan — jenis kerbau yang mampu beradaptasi di lingkungan rawa lebak dan menghasilkan daging dengan cita rasa khas. Potensi ini, kata Jafrizal, harus dikembangkan secara terintegrasi antara sektor peternakan, UMKM kuliner, dan pariwisata.
“Bayangkan wisatawan datang ke Palembang bukan hanya untuk pempek, tapi juga mencicipi rendang atau pindang kerbau Pampangan. Itu bisa jadi ikon kuliner Sumsel yang mendunia,” ujarnya optimistis.
Selain memberikan nilai tambah bagi sektor kuliner, peningkatan permintaan daging kerbau diyakini mampu menggerakkan ekonomi peternak lokal.
“Ketika permintaan tumbuh, peternak semangat lagi memelihara. Pakan lokal dimanfaatkan, industri olahan berkembang, bahkan wisata kuliner rawa bisa hidup,” kata Jafrizal.
Ia menilai, sudah saatnya kerbau rawa tidak hanya dilihat sebagai hewan pekerja, tetapi juga simbol ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat pedesaan. Dukungan teknologi budidaya, promosi kuliner, serta kebijakan pemerintah yang berpihak diyakini dapat menjadikan Sumsel sebagai sentra kuliner daging kerbau nasional.
“Dari rawa yang tenang, lahir kekuatan ekonomi baru dari kerbau sederhana. Inilah potensi besar yang bisa jadi kebanggaan daerah,” pungkasnya.
