Kisah Tjoa Kie Tjuan, Etnis Tionghoa yang Jadi Kapiten di Palembang

Etnis Tionghoa memiliki sejarah yang panjang di Kota Palembang, mereka masuk melalui jalur perdagangan, hingga akhirnya menetap dan menikah dengan warga setempat. Bahkan, salah seorang dari etnis Tionghoa tersebut pernah dipercaya menjadi kapiten di era pemerintahan Belanda.
Sosok tersebut adalah Tjoa Kie Tjuan, salah satu etnis Tionghoa yang diangkat sebagai kapiten oleh pemerintahan belanda pada tahun 1830. Saat itu, Tjoa juga dikenal sebagai pemimpin etnis Tionghoa di Kota Palembang.
Keturunan ke 14 dari Tjoa Ham Ling yang merupakan putra dari Tjoa Kie Tjuan, Mulyadi, mengatakan masyarakat Tionghoa ini masuk untuk berdagang di daerah Seberang Ulu Palembang, tepatnya di pinggiran Sungai Musi, hingga akhirnya menetap dan menikah dengan keturunan asli daerah Palembang,
Lalu, pada masa pemerintahan Belanda, etnis Tionghoa terus berkembang dan akhirnya dipercaya memimpin pemerintahan khususnya di wilayah Seberang Ulu. Kemudian diangkatlah Tjoa Kie Tjuan sebagai kapiten yang pertama.
"Sebagai seorang kapiten, Tjoa Kie Tjuan ditugaskan menjalankan roda pemerintahan Belanda untuk wilayah Seberang Ulu, Palembang," katanya, Sabtu (25/1)
Sebagai seorang kapiten, Tjoa Kie Tjuan memiliki bangunan khusus saat menjalankan tugasnya yang kini bagunan itu dikenal sebagai Kampung Kapitan.
"Awalnya, bagunan itu memiliki dua jendela yang berhadapan langsung ke Sungai Musi, sehingga dapat memantau kondis arus lalu lintas kapal yang melintas," katanya.
Mulyadi bilang, masa pemerintahan Kapiten Tjoa Kie Tjuan pun berakhir pada tahun 1871, dan jabatan ya dilanjutkan kepada putranya yakni Tjoa Ham Ling. Hingga kemudian pemerintah Belanda hengkang dari Palembang dan pengangkatan seorang kapiten pun terhenti di masa Tjoa Ham Ling.
"Sang kapiten pun dimakamkan secara terpisah, Tjoa Kie Tjuan dimakamkan di Seberang Ulu Palembang, sedangkan Tjoa Ham Ling dimakamkan di Kemang Manis Palembang," katanya.
Hingga saat ini, sejumlah peninggalan kapiten masih berdiri kokoh, salah satunya Kampung Kapitan dan seluruh petikan surat pengangkatan kapiten oleh pemerintah Belanda. Dimana lokasi ini kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya. (jrs)
