Nasib Perajin Ukiran Palembang: Sepi, Tutup Gerai, hingga Alih Profesi

Kerajinan ukiran khas Palembang kini sudah semakin sulit dijumpai. Meski di 'Kota Pempek' sendiri terdapat sentra ukiran, namun saat ini hanya tinggal beberapa gerai saja yang masih beroperasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, tak banyak lagi aktivitas perajin ukiran yang dapat dijumpai di sentra kerajinan ukiran khas Palembang yang berada di Jalan Fakih Jalaludin, Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil.
Sebelumnya, jika melintas di daerah itu, kita dapat mendengar suara gaduh dari perkakas kayu yang dihasilkan oleh para perajin yang sedang mengerjakan pesanan ukiran.
Namun, kini sudah tak segaduh dulu lagi, cenderung sepi, bahkan gerai yang menawarkan ukiran dalam berbagai bentuk perabotan rumah tangga juga sudah banyak yang tutup. Bahkan, banyak gerai yang kini berubah menjadi tempat percetakan, rumah makan, dan sebagainya.
Clara (27 tahun), salah satu pemilik gerai ukiran yang masih bertahan di lokasi tersebut, mengatakan bahwa di lokasi sentra ukiran khas Palembang tersebut hanya tersisa belasan pengusaha serupa. Tuntutan ekonomi menjadi alasan mengapa banyak pengusaha ukiran kini tutup dan juga alih profesi.
“Sudah empat sampai dua tahun belakangan penjualan mengalami penurunan hingga mencapai 40 persen. Kondisi ekonomi yang tidak stabil membuat daya beli masyarakat menjadi berkurang,” kata dia, Kamis (13/6).
Dia mengatakan, saat harga komoditas sedang berada pada masa kejayaannya, laiknya karet dan sawit, banyak pelanggan yang merupakan petani dari sejumlah daerah di Sumsel datang untuk membeli sejumlah perabotan ukiran ke tempat itu.
“Waktu harga karet, sawit masih tinggi, petani yang datang kesini membeli barang tanpa harus banyak menawar harganya,” ceritanya.
Tak hanya itu, arus keluar-masuk barang pun tidak berlangsung lama. Namun kini, tampak berbagai macam kerajinan ukiran yang belum terjual menumpuk di sudut-sudut gerai.
“Iya, banyak yang menumpuk saja, dulu dalam satu bulan mampu menjual 20-30 unit lemari ukiran, kini mau jual 10 unit saja sudah cukup sulit,” katanya.
Jumlah 10 unit ukiran merupakan target minimal yang harus mampu dijual setiap bulannya. Hal tersebut menurutnya sebagai upaya agar perputaran keuangan dapat terus berjalan. Seperti kebutuhan biaya perajin dan operasional lainnya.
Sebagai gambaran, untuk satu lemari ukiran, Novita memberikan harga jual Rp 2 juta-20 juta. Tergantung kualitas dan ukuran yang ditawarkan. “Banyak jenis perabotan yang kita tawarkan mulai dari lemari, meja, kursi kusen, dan masih banyak lagi,” katanya.
Tak hanya itu, masalah lainnya juga ada pada bahan baku. Untuk bahan baku ukiran khas Palembang, khususnya kayu tembesu, kini sudah sulit didapatkan, dan didatangkan dari Jambi, Riau, bahkan Kalimantan.
"Kalau pun ada bahannya, usia kayu pun tidak ada yang tua. Maka dari itu, ada sebagian penjual ukiran yang kini menggunakan kayu dari pohon durian, akasia, albasia, dan madang. Tapi kualitasnya berbeda atau berada di level kayu tembesu, jadi harganya juga lebih murah,” katanya.
Salah seorang perajin ukiran, Rusman Efendi (51 tahun), mengaku saat ini membuat perabotan dengan ukiran bukan merupakan prioritas mata pencaharian utamanya. Sebab, jumlah pesanan dari konsumen sudah jauh menurun, sehingga untuk mencukupi kebutuhan keluarga, dirinya kini memilih menjadi buruh serabutan.
"Ya kalau ada panggilan untuk membuat pesanan baru membuat ukiran lagi. Tapi kalau tidak ada kita cari kerjaan lain dulu, yang penting halal buat keluarga," katanya.
Rusman menyebut, dahulu ukiran seni khas Palembang hanya dibuat pada kayu tembesu saja, yaitu kayu berurat dan lembut namun tahan lama. Akan tetapi, kayu tersebut kini sudah langka dan harganya mahal. Oleh karenanya, kini kayu yang digunakan sebagai pengganti adalah kayu madang dan albasia.
“Tentunya, hasil ukiran tidak akan sehalus dan sekuat kayu tembesu kendati sepuhan warna emas masih tetap dipertahankan,” katanya.
Dia berharap, pemerintah dapat melakukan kebijakan pembatasan pembelian kayu, sehingga pembelian kecil oleh perajin kayu ukir dapat tetap terlayani dengan harga yang murah.
"Dengan begitu maka seni ukiran khas Palembang tetap dapat bertahan, dan perajin juga bisa bekerja membuat ukiran kembali," katanya. (abp/jrs)
