Kumparan Logo
Konten Media Partner

Pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat Masuk Wilayah Banyuasin

Urban Idverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dermaga Pelabuhan Tanjung Api-api (Foto: Ulfa Rahayu/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Dermaga Pelabuhan Tanjung Api-api (Foto: Ulfa Rahayu/kumparan)

Pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat di Banyuasin kian dekat menuju realisasi, namun proyek strategis nasional ini memunculkan polemik baru yakni soal nama siapa yang berhak terukir dalam pelabuhan laut terbesar di Sumatera Selatan (Sumsel) tersebut.

Meski seluruh aktivitas Pelabuhan Boom Baru Palembang akan dipindah ke sana, Pemerintah Kabupaten Banyuasin menolak keras penyematan nama New Palembang Port pada proyek itu. Bagi mereka, pelabuhan yang berdiri di garis pesisir Banyuasin seharusnya membawa nama daerahnya sendiri.

Sekda Banyuasin, Erwin Ibrahim tegas menyampaikan keberatan itu di hadapan publik.

“Lokasinya 100% di Banyuasin, bukan di Palembang. Jadi mestinya bukan New Palembang Port, tapi New Banyuasin Port,” ujarnya dalam sebuah forum publik.

Menurut Erwin, persoalan ini bukan sekadar soal nama, tetapi pengakuan wilayah dan identitas. Ia mengingatkan bahwa kasus serupa pernah terjadi pada kawasan komersial di Jakabaring yang secara administratif berada di Banyuasin, namun lebih dikenal sebagai bagian dari Palembang.

“OPI Mall, Hotel Wyndham—itu semua Banyuasin. Tapi tetap dicap Palembang. Warga sudah pindah KTP ke Banyuasin, tapi branding wilayah tidak ikut berubah,” katanya.

Ketegangan mereda setelah Gubernur Sumsel Herman Deru memberikan klarifikasi bahwa New Palembang Port hanyalah nama proyek sementara untuk memudahkan penggunaan secara nasional.

Menurut penjelasan yang diterima Pemkab Banyuasin, saat pelabuhan mulai beroperasi nanti, nama resminya akan berubah menjadi yakni New Banyuasin Port Tanjung Carat.

“Kami puas. Nama proyek boleh Palembang, tapi nama pelabuhan harus Banyuasin. Itu bentuk penghormatan terhadap wilayah dan masyarakatnya.”kata dia,

Selain soal nama, Banyuasin melihat pelabuhan ini sebagai titik balik ekonomi pesisir.

Pelabuhan laut dalam itu diproyeksikan menjadi pusat logistik baru, memicu tumbuhnya industri pelayaran, pergudangan, hingga kawasan industri pesisir. Pusat kegiatan ekonomi Sumsel tidak lagi terpusat di Palembang, tetapi mulai bergeser ke Banyuasin.

Groundbreaking dijadwalkan Februari 2026, menandai langkah besar menuju transformasi ekonomi kawasan Sungsang dan sekitarnya.

“Ini momentum sejarah Banyuasin. Ekonomi baru tumbuh dari pesisir utara. Peluang tenaga kerja, investasi, dan PAD akan meningkat,” jelas Erwin.

Namun, Erwin mengingatkan agar pembangunan tidak mengorbankan kelestarian alam. Kawasan Tanjung Carat memiliki sabuk mangrove yang menjadi pelindung alami dari abrasi dan gelombang.

“Mangrove adalah perisai kami. Industrialisasi tidak boleh merusak ekosistem. Rehabilitasi harus berjalan seiring pembangunan.”kata dia.