Perampok yang Gorok Pasutri di Palembang Ngaku Panik saat Korban Melawan
·waktu baca 2 menit

Pelarian Dian Satria (34), tersangka perampokan dan pembunuhan pengusaha kerupuk di Palembang, berakhir di tangan polisi setelah sepekan bersembunyi lintas provinsi. Bukan hanya brutal saat beraksi, cara pelariannya pun terungkap penuh tipu daya dengan berpindah dari masjid ke masjid sambil mengaku sebagai mualaf demi menghindari kecurigaan warga.
Dian ditangkap setelah polisi menelusuri jejak perjalanannya yang hanya bermodalkan uang hasil rampokan sebesar Rp2 juta. Uang itu, menurut pengakuannya, dipakai untuk menyewa kamar kos murah, membeli makan, dan sesekali menelepon pacarnya melalui counter HP.
“Saya kabur cuma pakai uang hasil merampok itu. Selebihnya saya numpang tidur di masjid,” ujar Dian saat pemeriksaan, Kamis (4/12/2025).
Untuk mengelabui warga di tempat pelariannya, Dian mengaku memanfaatkan identitas palsu sebagai seorang mualaf. Ia kerap berada di masjid, tidur di serambi, hingga mengikuti aktivitas ibadah agar tak dicurigai.
“Saya berpindah-pindah masjid saja. Fokus ibadah, berharap polisi tidak menemukan saya,” ungkapnya.
Di balik pelariannya, polisi mengungkapkan kembali detail mencekam mengenai kejadian di rumah korban. Dian mengaku awalnya hanya berniat meminta uang. Namun saat korban menolak, ia mengaku panik dan melakukan kekerasan hingga menghabisi nyawa Darma, sang pemilik usaha kerupuk.
“Korban melawan, saya terpaksa menjerat lehernya dengan sabit,” katanya tanpa ekspresi penyesalan.
Aksi itu bertambah sadis ketika Dian dengan tenang sempat mencuci tangan dan kaki yang berlumur darah sebelum bertemu istri korban, yang juga menjadi sasaran penyerangannya.
Meski aksi Dian tergolong kejam, ia berdalih bahwa tekanan ekonomi menjadi alasan utama dirinya nekat melakukan perampokan dan pembunuhan tersebut.
“Ini hidup, saya terpaksa. Saya minta maaf kepada keluarga korban,” ujarnya singkat.
