Peternak Sapi di Sumsel Pakai Jamu Tradisional untuk Mengobati PMK
ยทwaktu baca 2 menit

Peternak sapi di Sumsel cenderung lebih memilih jamu atau ramuan tradisional untuk mengobati hewan ternak yang terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Meskipun pemerintah sudah mulai mendistribusikan obat-obatan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Sumsel, Ruzuan Efendi, mengatakan pemerintah pusat secara bertahap telah menyalurkan obat-obatan untuk hewan ternak yang mengalami PMK.
"Hanya saja lebih banyak memilih melakukan penyembuhan dengan cara mandiri memanfaatkan ramuan tradisional," katanya, Senin (20/6).
Menurutnya, beberapa tanaman yang dijadikan ramuan obat tradisional atau jamu-jamuan itu di antaranya; jahe, kunyit, serai, dan lainnya. Hal ini dipercaya dapat menaikkan stamina hewan dan meningkatkan nafsu makan.
"Dari keterangan peternak yang kami terima, jamu yang mereka buat efektif untuk PMK. Bahkan ada yang sembuh dalam waktu 4 hari," katanya.
Sementara berdasarkan data per 19 Juni 2022, sapi yang diduga mengalami PMK sebanyak 120 ekor di 6 kabupaten/kota di Sumsel. Jumlah tersebut terus menurun.
"Tapi tetap kami terus pantau dan melihat perkembangannya,"katanya.
Adapun 6 daerah itu, yakni; Musi Rawas dengan sapi 108 ekor, Lahat ada 69 ekor, Lubuklinggau 14 ekor, Pali ada 12 ekor, dan di OKI ada 1 ekor.
"Tapi dari jumlah itu, juga sudah ada yang telah sembuh dan dipotong. Kemudian ada juga dalam tahap pemulihan," katanya.
Sementara di sisi lain, adanya kasus PMK ini tidak terlalu mempengaruhi harga daging sapi di pasaran. Saat ini, harga daging sapi masih stabil di angka Rp140-Rp150 ribu. Harga itu masih sama saat Ramadhan lalu.
"Kita sudah cek di lapangan, harganya masih sama, kisaran Rp140Rp150 ribu," katanya.
Oleh sebab itu, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap keamanan daging sapi yang dijual di pasaran sudah melalui pemeriksaan oleh dokter hewan dan pemotongan dilakukan di RPH.
