Kumparan Logo
Konten Media Partner

Sopir Truk di Sumsel Kesulitan Antre Solar: Bisa Sampai 6 Jam

Urban Idverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Togar, Salah Satu Sopir Truk di Sumsel/Anyelir.
zoom-in-whitePerbesar
Togar, Salah Satu Sopir Truk di Sumsel/Anyelir.

Permasalahan antrean untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di sejumlah SPBU Kota Palembang menuai banyak respons masyarakat sekitar. Salah satu masyarakat yang terkena imbas dari kejadian ini yaitu sopir truk.

Salah satunya yakni, Togar (40) yang mengungkapkan kesulitannya mengantre BBM jenis solar. Waktu yang menurutnya singkat dan proses pembayaran yang banyak mengalami kendala menjadi faktor utamanya.

"Saya mengaku sedang kesusahan sekarang karena antrean yang panjang dan waktu yang tidak relevan lagi. Pengisian solar untuk truk pukul 22.00 WIB sampai 04.00 WIB. Sebelum dibuka antrean sudah panjang, dan bisa jadi sopir truk yang berada di antrean paling belakang tidak kebagian," kata dia.

Ia juga sangat menyayangkan pembatasan waktu itu cukup ketat, ia menjelaskan bahwa mesin pendistribusian BBM solar ini otomatis mati (tidak mengeluarkan minyak) ketika sudah habis waktunya.

"Kalau misalnya kita mengisi minyak di jam 10 malam kurang, itu tetap tidak bisa karena minyaknya tidak akan keluar dari mesin. Mesin itu sudah diatur waktunya, jadi jika memang batas waktu sudah diluar jam yang ditentukan, maka sopir yang lain tidak kebagian lagi," jelasnya dengan pasrah.

Lanjutnya, belum lagi permasalahan aplikasi MyPertamina yang terkadang gangguan sehingga menghambat proses pembayaran sopir truk.

Togar mengatakan pembayaran BBM solar tidak dapat menggunakan tunai, hanya bisa dengan QRIS MyPertamina.

"Ada yang gangguan, ada juga yang terkendala karena permasalahan Handphone mereka. Jadi mereka sudah mengantre panjang-panjang tau-taunya gagal. Sehingga mereka mau tidak mau mengantre ulang kembali di keesokan harinya," ujarnya.

Togar berharap bahwa ada kebijakan yang adil dari pemerintah daerah terkait permasalahan distribusi BBM solar ini. Sebab, waktu yang digunakan untuk mengisi BBM menurutnya banyak yang terbuang, belum lagi, proses pengantaran ke tujuan melelahkan para sopir.

"Kami ini hanya mencari uang untuk bertahan hidup. Penghasilan kami juga tidak seberapa. Jadi dimohon untuk kebijaksanaannya," pungkas Togar.